STahun
02 Nov 2011 3 Comments
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, ktb
Another year has gone by dari Celine Dion terputar secara random dan menemani saia nge-blog soal setahun yang telah berlalu
Gak kerasa, 1 November lalu stahun sudah menjadi warga kota Karawaci, Tangerang. Memang belum banyak daerah yang terjelajahi, kapan-kapan pengen juga berpetualang di kota ini, hehe
Layaknya ulangtahun dan peringatan tahunan lainnya, saia pikir momen satu tahun adalah momen tepat untuk diingat karena tak terlalu singkat pula tak terlalu lama untuk membandingkan suatu keadaan. Yup, setahun ini banyak suka duka yang dialami. Eh salah ya harusnya ini disimpan untuk tahun baruan, nanti
Aku mengucap syukur untuk perjalanan satu tahun di dunia nyata. Tuhan telah menolong dan ke depannya pun saia percaya Ia akan senantiasa menolong dan memimpin. Saia hanya perlu taat dan setia
Memories To Remember (part 1)
08 Sep 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, kristen, liburan, refleksi
Okay, here’s the memories to remember,happy-holiday edition
. It’s been a very long time since november last year didn’t I fell what it’s called long happy holidays, wkwkwk. Thanks God for 9 days of holidays, though truly mine doesn’t count that much. The stories begin, i split into four part since there a little bit diffrent of purpose at each post and people get involved
Part 1
I did extra work at my company, hehe. The idea came by offering. My consideration about deadline and resource got involved doing that work is not that much, thinking of 9 days is really long holiday for me
and I wanted to learn something new, as my wish-list-to-do for holidays that I planned before : learn something new, cook new recipe, reading books, watching movies and having trip to nice place, so I decided to take that offering but just 3 days (saturday till monday), not more. Long holidays is only happens in ied moment, right?
My extra work didn’t relate to my main job actually, but here is the thing I wanna tell you. I learn to use other’s shoes so that I could feel what she/he feel, in what point was the pain point so that my partner and I could help people work as painless as possible in the right process
I remembered what actually what my Savior did. He took the fall, and thought of you and me. He felt what man felt, even worse, crucified at the cross, for what? For saving sinner, you and me from the death. And I think about the important one, He came so that when we feel sad, happy, having big load, betrayed, sick, hungry, thirsty, sleepy, etc, He could understand. He hasn’t been like king that live in comfortable palace that may be even not having experience/knowledge about being the man in the street. The other way, He ever been there, once again even worse.
3 days, felt tired but grateful
Gain learning new things and the incentive that exactly enough for my trip at Kepulauan Seribu.. I’m gonna tell you later, in part 3. See you.. haha
Desktop Background
25 Aug 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, lirik, rohani
Pagi-pagi sudah dikejutkan oleh ucapan “The day has come” oleh Steve Jobs. Gyaaa, belum sempat punya produk beliau saat masih menjadi CEO. Oke, mungkin nanti (kalo ingat dan sempat sebelum menjadi basi) akan nge-blog soal ini.
Barusan, sebenarnya masih ingin menyelesaikan pekerjaan sebelum balik kosan, tapi setelah dipikir-pikir mungkin masih lama, jadi diteruskan besok pagi saja. Sewaktu menutup beberapa jendela (window) muncul gambar ini yang sengaja saya pasang sebagai Desktop Background. Light House- nya windows.
Suka ngeliat mercu suar dan batu karang di saat bersamaan. Mercu suar telah menjadi penerang bagi kapal-kapal di tengah laut, pula menjadi harapan bagi para pelaut kalau-kalau sekitar mereka masih ada daratan. Di karawaci, hanya ada beberapa bangunan tinggi, dan bangunan tinggi itu dekat dengan kosan saya hingga kerap bangunan tinggi itu menjadi patokan bagi saya entah di manapun saya nyasar, masih ada patokan yang bisa saya lihat. Sebuah harapan di tengah kecemasan
Tak jauh dari mercu suar terlihat batu karang yang tetap teguh di tengah hempasan maupun amukan ombak. Ada dua tokoh yang saya ingat tiap kali mendengar atau melihat batu karang. Petrus dan Yesus. Petrus, kala Yesus berkata kepada Petrus bahwa nantinya di atas batu karang Ia akan membangun jemaatnya (arti nama Petrus sendiri adalah batu karang). Dan benar adanya gereja mula-mula dibentuk oleh pelayanan Petrus
Daaan Yesus sendiri adalah Batu Karang yang teguh, tempatku berteduh. Seperti lirik dari Kidung Jemaat 37 A…
- Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh.
Kar’na dosaku berat dan kuasanya menyesak,
oh, bersihkan diriku oleh darah lambungMu. - Walau aku berjerih dan menangis tak henti
apapun usahaku, tak menghapus dosaku.
Hanya oleh kurbanMu Kaus’lamatkan diriku. - Tiada lain kupegang, hanya salib dan iman;
dalam kehampaanku kudambakan rahmatMu.
Tanpa Dikau, Tuhanku, takkan hidup jiwaku. - Bila tiba saatnya kutinggalkan dunia
dan Kaupanggil diriku ke hadapan takhtaMu,
Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh.
Tiga Dimensi
10 Jun 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, memori
Tadi siang, aku makan bersama seorang rekan. Sebuah percakapan yang berhasil membawaku kepada tiga dimensi waktu. Masa lalu, masa sekarang dan masa depan.
L : Kenapa dulu milih IF, mel?
M : (cerita panjang lebar, nostalgia jaman SMA
)
L : Sampai kapan Mel bakal di VN?
M : (….. –> disertai alasan kenapa sampai waktu itu dan rencana masa depan )
L : (*pertanyaan ttg masa depan)
M : (cerita panjang, lebar, luas dan keliling ttg keinginan dan harapan di masa depan XD )
Daku pun smakin merasakan bahwa perjalanan hidup ini tak lebih dari sebuah perjalanan jarak, waktu dan iman.
Batu-pasir-kopi
06 May 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, refleksi
Ilustrasi batu-pasir ini pernah kami (DJ’ers) bahas sewaktu membicarakan tentang waktu dan prioritas. Ya, hampir miriplah dengan penggalan cerita di atas, hanya dengan tambahan ‘kejutan’ tentang kopi. Terus terang aku senang membaca bagian akhir yang mengatakan “sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat“
Memasuki paruh tahun berkecimpung di dunia kerja, aku semakin menyadari apa saja batu-pasir-dan-kopi yang tiap harinya terisi dalam toplesku kehidupanku. Salah satu batu bagiku adalah relasi yang dekat dengan Allah, dengan demikian pekerjaan yang pula adalah batu dapat kupahami sebagai dua poin–suatu anugerah dan adalah karya.
Cerita punya cerita, pergumulan untuk tetap menjaga relasi dekat dengan Allah adalah pergumulan klasik para alumni. Saat teduh, PA, disiplin rohani seperti doa syafaat, puasa, KTB bawah dan samping, dll nya terkesan kalah dengan seabrek pekerjaan dan tubuh yang lelah. Toples sudah penuh dan tidak cukup lagi diisi dengan hal-hal begituan. Benarkah? Ataukah pasir-pasir yang justru mengisi ruang-ruang toples itu?
Syukur kepada Tuhan, diingatkan kembali mengenai hal ini saat persekutuan Paskah, PD di gereja, dan baru saja semalam lewat sharing seorang Sauu
Dan itu salah satu manfaat secangkir kopi bersama sahabat (*bukan harafiah
) bukan?
**
I said to the Lord, You are my Lord; apart from You I have no good thing..
Teman Jalan
08 Apr 2011 2 Comments
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, refleksi
Yang pernah jalan bareng saya pasti tahu ‘kelemahan’ saya yang satu ini. Yap, spasial saya termasuk rendah, susah membayangkan letak suatu tempat yang baru atau jarang dikunjungi. Ujung-ujungnya sering salah arah–bahasa pasarannya ‘tukang nyasar’ (doh). Biasanya kalau sedang jalan sendiri, saya mengakalin dengan mengingat suatu patokan atau acuan. Kebanyakan sih lupa cara ke acuannya itu. Gyaaa…. Inilah sebabnya kalau jalan biasanya mengajak dan mengandalkan orang lain, hahaha.
Belakangan ini saya sering lembur dan pulang malam. Ada Pak Amin atau Pak Wawan baik hati yang sering mengantarkan pulang para karyawan yang lembur. Kali itu, saya bersama dengan dua rekan kerja diantar pulang oleh Pak Amin. Sebelumnya saya sudah pernah diantar pulang juga barengan dengan rekan kerja saya yang itu juga. Satu hal yang kemudian saya sadari, seringkali dalam suatu perjalanan, saya kurang memperhatikan jalan mana yang harus dilalui untuk sampai ke tempat yang dituju. Saya seratus persen percaya kepada Pak Amin atau Pak Wawan yang sudah terbiasa mengantar bahwa kami pasti nyampe gak pake nyasar.
Pola inilah yang selama ini berlaku buat siapa saja teman yang sedang jalan bareng saya. Ketika saya percaya bahwa dia lebih tahu jalan dibandingkan saya, biasanya saya lebih menikmati perjalanan dengan tidak kuatir tentang jalan mana yang harus dilalui ataupun rasa pusing karena nyasar.
Kisah ini kembali mengingatkan saya akan perjalanan hidup saya sendiri. Ketika saya berjalan bersamaNya, seharusnya tidak ada yang perlu saya kuatirkan. Saya percaya di ujung jalan sana, tempat tujuan yang Ia pimpin adalah tempat yang Ia inginkan agar saya menjadi murid yang serupa dengan Kristus , bukan serupa dengan dunia. Tidak mudah memang, tapi itu akan menjadi kisah perjalanan yang hebat dari Pencipta dan Tuhan yang hebat pula
Panggilan-Kota-LangitSore-aku?
15 Nov 2010 6 Comments
in Uncategorized Tags: curhat, karawaci, kisah kerjaan
Dan nama-nama yang keluar dari mulut ini pun berubah. Panggilan akrab, panggilan sayang, panggilan ejek kepada orang-orang dekat sudah mulai jarang terucap, kali ini berganti kepada panggilan baru–teman-teman baru. Awalnya sih mungkin gak dekat, tapi lama kelamaan mungkin panggilan baru itu pun mulai berubah menjadi panggilan akrab, sayang atau bahkan ejek, hehe
. Tidak bisa dipungkiri hampir sebagian besar waktu sadar ini dilalui bersama dengan mereka
Tampaknya pola hidup ini sepertinya sudah tidak asing lagi.
Tepat sudah setengah bulan diri ini beranjak dari kilometer nol dan memasuki kota yang baru. Bila dibandingkan dengan kota tempatku dulu menuntut ilmu sangatlah berbeda. Di sini sangat panas, kipas menjadi peralatan wajib bila tidak ada fasilitas AC. Akupun harus rela berpisah dengan selimut kesayangan yang selama ini menjadi teman tidur yang hangat B). Satu lagi yang sangat melekat di hati, supir angkutan umum di sini lebih ugal-ugalan dibanding di sana. Ternyata tiada keramahan yang bisa menyamai keramahan Bumi Parahyangan
Perbedaan memang selalu ada, dan itulah yang menjadikan unik dan berbeda satu dengan yang lain, bukan? Satu hal yang sangat saya sukai dari kota ini adalah langit sorenya.Langit sore yang kuning terlihat sangat jelas. Memang belum banyak bangunan tinggi yang menghalangi mata memandang. Dekat laut pun seolah-olah mempengaruhi gumpalan awan yang khas (*asumsi pribadi). Menakjubkan, membuatku sangat menikmatinya
Yah, benar-benar menikmati karena kesempatan ini hanya datang di akhir pekan atau hari libur mengingat jam pulang kantor di atas jam enam, hehe.
Memandang ke langit biru/kuning/hitam yang begitu luas kerap menyadarkanku betapa besarnya si Pencipta dan betapa kecilnya aku. Langit memasyurkan karya tanganNya, dan aku?
*aku sebagai manusia yang juga diciptakan Sang Pencipta.
Karawaci
15Nov2010
#sayanggakpunyakameraokebuatmotoin
*bingung mau ngasi judul apa, ya udah lah yaaa
*
Pattern of Team Building
12 Nov 2010 2 Comments
in Uncategorized Tags: kisah kerjaan, project management
Remember your first college class? You sat in a room with a bunch of strangers and wondered what you were doing there. The temperature of the room was unbearable and no one spoke more than a muffled, “hi,” to those who accidentally made eye contact with them for a split second. Only one or two people knew each other from high school. They sat together and nervously discussed Frisbee golf, the weather, or the prospects of the local football squad while you all waited for class to start. No one was comfortable.
The professor insisted upon reading every single word of the verbose syl-labus as if none of you could read it on your own. When the hour was over, you shuffled out and may have mumbled a few words to the person beside you before seamlessly disappearing into the crowd on the sidewalk again.
At some point in the semester, all of that changed. People in the room started talking to each other before the class began. They started talking to each other after the class was over. Occasionally, they even talked to each other during class — not just contributing to the class discussion, but making snide comments and jokes.
The strangers in the room became a team— a temporary group brought together for a short time (a semester) for the purpose of passing the class. Some members of the team valued being in that class more than others and some still wished they were anywhere else but there. Some contributed more — possibly because they grasped the content or were fascinated or stimulated by it, or simply because their personalities made them more gregarious than those around them. Some were not right for the class and left, while others transferred in a little late.
The professor was delighted to have some of those students. Others were more of a challenge, and the professor wondered why they were there. Some pesky folks may have needed more individual attention or additional resources to supplement what they already had, and one or two could not grasp the material at all.
This pattern of team building continually repeats itself. It plays out in every project team assembled in school, in business, and in life. Members start out being quiet and uncomfortable — eventually we all move away from that.
(Taken from Software Project Management for Dummies page 229-230)
About what i’m gonna say is….. (to be continued, haha i’m so tired, hopefully can write soon
)








Yang baru ngomen