One Moment (not just) Celebration
10 Mar 2012 6 Comments
in Uncategorized Tags: refleksi
wake up, get surprised, gift, get congratulation, working, having class, celebration, get surprised (again), cake, wish, meeting, fellowship, gathering, calebration (again), get surprised (again and again), cake (again), wish (again), prayer, grateful.
People keep saying happy birthday and feel happy for those who celebrates the day. For me that moment not just celebration, it was.. and always be a moment to be grateful for who i am. Such a bless and amazing grace for having a great wonderful God, beloved family, and beloved friends.
Thanks for all the love given to me
Berjalan Lebih Lambat
16 Oct 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: curhat, jalan2, karawaci, refleksi
Anda boleh menertawakan kekonyolan saia yang satu ini (doh). Jadi ceritanya adalah slain tukang nyasar, kalau tempat yang tidak begitu sering dilewati, lengah sedikit saja akan berdampak terlewati oleh kendaraan yang saia tumpangi. Terkadang saia tidak tahu harus turun di mananya sehingga setelah melewati tempat tujuan baru menyadari, seperti halnya Jumat kemaren (dan siang ini juga terjadi). Tidak terlalu bermasalah emang, tapi saia harus berjalan lebih jauh (dibandingkan turun di tempat seharusnya) dan ini ternyata membawa saia kepada suatu hal, “Oh ternyata ini tempat jual blablablabla, deket dari kosan saia berarti, kirain masih jauh di sbelah mana-mana… atau Eh di sini ada jual ini ternyata ya, gak meratiin selama ini, atau Oh ada ya yang beginian, baru tahu…, atau Oh ini ternyata dekat ama itu ya..hmmm”
terkadang kita memang harus berjalan kaki (tidak naik mobil) supaya kita memperhatikan yang mungkin tidak terlihat bila kita berada di dalam mobil (dengan kecepatan yang lebih dibandingkan jalan kaki). apa yang kita lihat itu mungkin belum diperlukan atau tidak langsung digunakan saat itu, tapi suatu hari penglihatan / pengalaman / informasi yang kita dapatkan akan berguna bagi kita sendiri atau orang lain
![]()
Begitulah hidup, terkadang kita merasa sedang mengalami masa yang terkesan ‘lambat’, tapi saia percaya ada maksud di balik itu semua. Pembentukan karakter, atau mungkin sesuatu lain
Sekarang mungkin kita tidak tahu-menahu ataupun merasa hal itu tidak berguna, tapi suatu hari nanti hal itu sendiri akan menjelaskan ke-ber-arti-an-nya, entah buat diri sendiri atau orang lain. Ya, ujung-ujungnya adalah seperti cerita saia di sini
Sekian kisah nyasar saia, haha..
Some pages turned
30 Sep 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: memori, refleksi
As the days passed through, some pages turned, and there were lessons learned.
Kiss September goodbye, and still there’s so much to be thankful for. Let’s see what stories are written in the next pages. As Paulo Coelho said “If everything has been written down, so why worry?”. I think i have something to be written about worries during my last KTB session ”Materi dan Gaya Hidup (Money and Life Style)”, wish i’ll catch you up on this subject later
Welcome, October
———————————
*image source from here*
Memories To Remember (part 1)
08 Sep 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, kristen, liburan, refleksi
Okay, here’s the memories to remember,happy-holiday edition
. It’s been a very long time since november last year didn’t I fell what it’s called long happy holidays, wkwkwk. Thanks God for 9 days of holidays, though truly mine doesn’t count that much. The stories begin, i split into four part since there a little bit diffrent of purpose at each post and people get involved
Part 1
I did extra work at my company, hehe. The idea came by offering. My consideration about deadline and resource got involved doing that work is not that much, thinking of 9 days is really long holiday for me
and I wanted to learn something new, as my wish-list-to-do for holidays that I planned before : learn something new, cook new recipe, reading books, watching movies and having trip to nice place, so I decided to take that offering but just 3 days (saturday till monday), not more. Long holidays is only happens in ied moment, right?
My extra work didn’t relate to my main job actually, but here is the thing I wanna tell you. I learn to use other’s shoes so that I could feel what she/he feel, in what point was the pain point so that my partner and I could help people work as painless as possible in the right process
I remembered what actually what my Savior did. He took the fall, and thought of you and me. He felt what man felt, even worse, crucified at the cross, for what? For saving sinner, you and me from the death. And I think about the important one, He came so that when we feel sad, happy, having big load, betrayed, sick, hungry, thirsty, sleepy, etc, He could understand. He hasn’t been like king that live in comfortable palace that may be even not having experience/knowledge about being the man in the street. The other way, He ever been there, once again even worse.
3 days, felt tired but grateful
Gain learning new things and the incentive that exactly enough for my trip at Kepulauan Seribu.. I’m gonna tell you later, in part 3. See you.. haha
Lebih dari Nafasku
02 Jul 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: kristen, lirik, refleksi
Jarang-jarang buka Gmail, karena itu bukan surel utama saia, hehe. Di kala heboh dengan Google+, saia pun kembali membuka Gmail dengan acara lupa username dulu (doh). Ada satu surel yang isinya mengingatkan kembali akan pentingnya relasi dengan Tuhan.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Markus 1:35)
Harusnya inilah yang saia perjuangkan–taat dan setia. Lebih dari nafasku, kuperlukan kasihNya. Trimakasih, Tuhan dan orang-orang yang telah berdoa buat saia sebelum ‘terhilang’ lebih jauh
Lebih dari Nafasku
Bapa, Pegang Tanganku
Aku Rindu Saat Teduh Bersama-Mu
Dekap Aku Dalam Hangat Pelukan-Mu
Bawa Hidupku Pada-Mu
Masuk Dalam Tahta-Mu Yang Kudus
Bapa, Pegang Tanganu
Aku Rindu Tinggal Di Dalam Hati-Mu
Engaku Terang Yang Membuatku Melihat
Melihat Jauh Ke Dalam Kebenaran-Mu Bapa
Reff :
Lebih Dari Nafasku Bapa
Kuperlukan Kasih-Mu Bapa
Berjalan Di Samping-Mu Bapa
Seumur Hidupku
Lebih Dari Nafasku Bapa
Kuperlukan Kasihmu Bapa
Peganglah Tanganku Ya Bapa
Untuk Selamanya
Batu-pasir-kopi
06 May 2011 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, refleksi
Ilustrasi batu-pasir ini pernah kami (DJ’ers) bahas sewaktu membicarakan tentang waktu dan prioritas. Ya, hampir miriplah dengan penggalan cerita di atas, hanya dengan tambahan ‘kejutan’ tentang kopi. Terus terang aku senang membaca bagian akhir yang mengatakan “sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat“
Memasuki paruh tahun berkecimpung di dunia kerja, aku semakin menyadari apa saja batu-pasir-dan-kopi yang tiap harinya terisi dalam toplesku kehidupanku. Salah satu batu bagiku adalah relasi yang dekat dengan Allah, dengan demikian pekerjaan yang pula adalah batu dapat kupahami sebagai dua poin–suatu anugerah dan adalah karya.
Cerita punya cerita, pergumulan untuk tetap menjaga relasi dekat dengan Allah adalah pergumulan klasik para alumni. Saat teduh, PA, disiplin rohani seperti doa syafaat, puasa, KTB bawah dan samping, dll nya terkesan kalah dengan seabrek pekerjaan dan tubuh yang lelah. Toples sudah penuh dan tidak cukup lagi diisi dengan hal-hal begituan. Benarkah? Ataukah pasir-pasir yang justru mengisi ruang-ruang toples itu?
Syukur kepada Tuhan, diingatkan kembali mengenai hal ini saat persekutuan Paskah, PD di gereja, dan baru saja semalam lewat sharing seorang Sauu
Dan itu salah satu manfaat secangkir kopi bersama sahabat (*bukan harafiah
) bukan?
**
I said to the Lord, You are my Lord; apart from You I have no good thing..
Teman Jalan
08 Apr 2011 2 Comments
in Uncategorized Tags: karawaci, kisah kerjaan, refleksi
Yang pernah jalan bareng saya pasti tahu ‘kelemahan’ saya yang satu ini. Yap, spasial saya termasuk rendah, susah membayangkan letak suatu tempat yang baru atau jarang dikunjungi. Ujung-ujungnya sering salah arah–bahasa pasarannya ‘tukang nyasar’ (doh). Biasanya kalau sedang jalan sendiri, saya mengakalin dengan mengingat suatu patokan atau acuan. Kebanyakan sih lupa cara ke acuannya itu. Gyaaa…. Inilah sebabnya kalau jalan biasanya mengajak dan mengandalkan orang lain, hahaha.
Belakangan ini saya sering lembur dan pulang malam. Ada Pak Amin atau Pak Wawan baik hati yang sering mengantarkan pulang para karyawan yang lembur. Kali itu, saya bersama dengan dua rekan kerja diantar pulang oleh Pak Amin. Sebelumnya saya sudah pernah diantar pulang juga barengan dengan rekan kerja saya yang itu juga. Satu hal yang kemudian saya sadari, seringkali dalam suatu perjalanan, saya kurang memperhatikan jalan mana yang harus dilalui untuk sampai ke tempat yang dituju. Saya seratus persen percaya kepada Pak Amin atau Pak Wawan yang sudah terbiasa mengantar bahwa kami pasti nyampe gak pake nyasar.
Pola inilah yang selama ini berlaku buat siapa saja teman yang sedang jalan bareng saya. Ketika saya percaya bahwa dia lebih tahu jalan dibandingkan saya, biasanya saya lebih menikmati perjalanan dengan tidak kuatir tentang jalan mana yang harus dilalui ataupun rasa pusing karena nyasar.
Kisah ini kembali mengingatkan saya akan perjalanan hidup saya sendiri. Ketika saya berjalan bersamaNya, seharusnya tidak ada yang perlu saya kuatirkan. Saya percaya di ujung jalan sana, tempat tujuan yang Ia pimpin adalah tempat yang Ia inginkan agar saya menjadi murid yang serupa dengan Kristus , bukan serupa dengan dunia. Tidak mudah memang, tapi itu akan menjadi kisah perjalanan yang hebat dari Pencipta dan Tuhan yang hebat pula
Cerita dari Pertemuan Pertama
20 Dec 2010 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: natal.., refleksi
“Oh ini chestnut?”, ujarku sedikit terperangah. Dengan spontan, pikiran ini seakan memutar lagu natal dari Eropa sana “Chestnut Roasting on an Open Fire”. Benar adanya, chestnut yang siap disantap itu telah melalui api panggangan terlebih dahulu. Seorang rekan kerja membawanya sebagai oleh-oleh dari negeri seberang. Bentuknya mirip dengan biji nangka yang di panggang, awalnya saya mengira itu biji nangka. Rasanya pun hampir menipu, manis mirip dengan ubi jalar. Mungkin saya tidak dapat membedakan mana ubi jalar mana chestnut dengan mata tertutup.
Usai pertemuan pertama kami, saya pun dilanda penasaran, hehe. Mengapa benda ini sebegitu terkenalnya, sampai seseorang dapat meramunya menjadi lirik lagu. Maksud saya, lagu, ya lagu yang berarti semua orang, di mana saja, dan kapan saja bisa mengumandangkannya. Hebat juga, ya.
Lalu, saya pun menelusuri kisah lagu ini dan sejarah chestnut itu sendiri (*sebenarnya ingin meringkas sendiri tetapi rasa raga tidak sanggup dan ingin istirahat secepatnya, hehe, jadi bisa dibaca di sini dan di sini ) Cerita pun berlanjut saat saya ingin mengetahui bahasa Indonesia chestnut, saya pun membuka kamus dan mendapati ungkapan. Isinya begini: “to pull s.o.s chestnuts out of the fire artinya bersusah-payah atau berkorban untuk membantu orang lain melepaskan diri dari kesulitan.”
Seorang tokoh langsung tergambar di benak saya–tokoh yang kesederhanaanNya sangat saya kagumi. Yesus melakukannya. Dia datang ke dunia, berkorban untuk melepaskan Anda dan saya, supaya kita boleh beroleh selamat. Wow, benda ini ternyata berbicara banyak hal padaku hari ini. Sampai bertemu di pertemuan berikutnya, chestnut . Kamu manis, deh. Haha ;)
Chestnuts roasting on an open fire,
Jack Frost nipping on your nose,
Yuletide carols being sung by a choir,
And folks dressed up like Eskimos.Everybody knows a turkey and some mistletoe,
Help to make the season bright.
Tiny tots with their eyes all aglow,
Will find it hard to sleep tonight.They know that Santa’s on his way;
He’s loaded lots of toys and goodies on his sleigh.
And every mother’s child is going to spy,
To see if reindeer really know how to fly.And so I’m offering this simple phrase,
To kids from one to ninety-two,
Although its been said many times, many ways,
A very Merry Christmas to you
Kombinasi kekeluargaan dengan semangat tak henti agar gaung Natal tetap bergema, meski sudah dikatakan ulang dan berulang kali.
Although its been said many times, many ways,
A very Merry Christmas to you
Kilometer Nol
07 Oct 2010 2 Comments
in Uncategorized Tags: artikel, refleksi
Milestone atau batu kilometer (indonesia menggunakan satuan kilometer bukan mil) bukanlah batu biasa. Tubuhnya bertuliskan singkatan kota dan angka petunjuk (dalam kilometer). Angka ini berubah di tiap kilometer dan menjadi acuan bagi pengemudi bahwa mereka masih berjalan di jalan yang seharusnya. Angka ini juga kerap memberi petunjuk mengenai berapa kilometer jarak yang telah mereka tempuh dari kota asal ataupun berapa kilometer jarak lagi yang harus ditempuh untuk mencapai kota tujuan.
Kini, suatu jalan yang mulai kujalani empat tahun yang lalu telah mencapai kilometer nol. Aku pun tiba di sebuah kota. Orang-orang menyebutnya Kota Alumni. Kota macam apa ini? Adakah rumah, jalan, taman, tempat bermain, tempat belajar dan pergaulan yang seindah dulu ketika aku masih di Kota Mahasiswa? Entahlah, rasaku masih belum bercampur dengannya. Mungkin karena saat ini aku masih memasuki gerbang kota itu dan masih sedang menatap tulisan yang berkata: “Selamat datang di Kota Alumni.”
Tak dapat dipungkiri ucapan selamat datang itu mengingatkanku akan saat-saat di mana aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota Mahasiswa. Ah, berasa seperti hari kemaren saja melewati semua kisah itu ; kisah saat baru pertama kali menjadi mahasiswa, kisah saat bingung menentukan jurusan, kisah saat melalui masa-masa sibuk di perkuliahan juga unit/himpunan sampai kisah saat berjuang menyelesaikan Tugas Akhir. Semua kisah itu meninggalkan jejak kaki kecilku di Kota Mahasiswa, pun kisah-kisah lain yang bagiku terlalu manis untuk dilupakan—kisah pembelajaran di himpunan tercinta, kisah persahabatan dengan teman-teman seangkatan, kisah persaudaraan di KTB dan persekutuan, serta kisah tak terlupakan saat menjadi panitia kamp (Kamp Kelompok Kecil dan Kamp Nasional Mahasiswa).
Aku bersyukur kepada Tuhan tiap kali mengenang kisah perjalananku di kota itu. Aku bertemu dengan Sosok yang luar biasa. Pertemuan itu banyak mengubahku dari sekedar ‘tahu’ menjadi ‘kenal’. Tahu dan kenal ternyata dua kata yang berbeda. Paulus menyebutnya: “bukan dengan kata orang saja aku tahu.” Ya,bukan dengan kata orang saja, aku pun turut mengalaminya. Pengenalan akan Tuhan tak datang dengan sendirinya, tak pula datang langsung dalam paket utuh. Pengenalan itu datang dalam anugerah paket kecil dan sederhana yang dibungkus dengan kertas ‘ketaatan dan ucapan syukur’.
Lantas di manakah kutemukan berbagai anugerah paket pengenalan itu? Aku menemukannya di persekutuan, Kelompok Tumbuh Bersama (KTB), kepanitiaan demi kepanitiaan yang kuikuti, gereja, pergaulan dengan teman-teman sekitarku, setumpuk aktivitas di himpunan, dan juga keseharianku dalam menjalin hubungan pribadi denganNya. Bagiku pengenalan akan Kristus adalah hal terindah yang pernah kurasakan. Suatu anugerah pula bagiku bila aku dapat melayani Dia selama masih menjadi mahasiswa. Ya, pelayanan adalah anugerah, karena lewat itulah Dia mengajarku tentang banyak hal. Aku menikmati setiap pembelajaran dan pembentukan karakter yang boleh terjadi dalam hidupku, termasuk pandanganku tentang hidup—bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk oranglain, terlebih untuk Tuhan, Sang Pemberi kehidupan itu sendiri.
Ah, mungkin tak cukup beberapa halaman bila melukiskan semua kisah manis yang kurasakan. Adik-adikku, perjalananmu masih jauh dari kilometer nol. Isilah perjalanan itu dengan hal-hal yang indah bersama Sang Penuntun Jalan Kebenaran. Dia menunggumu dan ingin bertemu denganmu.
Live for the journey, not destination, because our lesson come from the journey, not the destination.
Melz,
Bandung
050810
#sebuah tulisan untuk buletin HYMNOS
Memetik Cerita dari Insomnia
21 Jun 2010 2 Comments
in Uncategorized Tags: curhat, kristen, rajawali, refleksi
Sebuah petikan cerita dari mel yang dilanda insomnia di suatu hari
Rasa kantuk menjadi anugerah ketika insomnia melanda. Sudah mencoba memejamkan mata tetap saja tidak bisa tidur, mungkin karena kelamaan tidur di sore hari (doh). Lalu tanpa sengaja saya teringat akan masa kecil saya–sewaktu masih muda dulu
Di rumah, kami punya ruangan tempat berkumpul. Biasanya kala malam hari tiba, semua berkumpul untuk menonton acara televisi. Apabila sudah mengantuk biasanya orangtua saya akan menyuruh langsung tidur ke kamar. Namun, tak jarang pula, kami anak-anaknya malah tertidur sebelum disuruh ke kamar
. Pagi harinya sewaktu bangun, kami udah berada di kamar tidur. Kami pun tahu kalau bapaklah atau mungkin terkadang mama yang menggendong kami ke tempat tidur. Sebelum ini saya tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali.
Saya pun teringat akan penggalan kata pengantar John Stott pada buku ‘Hudson Taylor, Lesson in Dicipleship’:
Faith is the trust of a child. God is not only the Faithful One, but our Father too through Jesus Christ. He invites us to call him ‘Father’ and to share our concerns and needs with him as children do with their parents. I cannot do better here than quote Hudson Taylor himself: ‘I am taking my children with me, and I notice that it is not difficult for me to remember that the little ones need breakfast in the morning, dinner at midday, and something before they go to bed in night. Indeed, I could not forget it. And I find it impossible to suppose that our Heavenly Father is less tender or mindful than I’. Again, ‘I do not believe that our Heavenly Father will ever forget his children. God is very very good Father. It is not his habbit to forget his children.’
Wow ![]()
Dini hari ini saya diingatkan akan kasih sayang bapak dan juga iman kepada Bapa–iman seperti anak kecil yang percaya sepenuhnya.
—–
*Terkenang akan masa kecil membuat saya ingin merasakan lagi masa-masa di mana masih blum merasakan kepelikan hidup dan blum banyak memikirkan tentang cinta dan masa depan, haha







Yang baru ngomen