Kaderisasi

Ini tugas esay yang sudah lama sebenarnya disuruh, kira-kira sudah sebulan yang lalu,tapi saya baru bisa menulisnya sekarang karena bebrapa alasan, yaitu tugas yang banyak dan uts juga bingung mau nulis tentang apa hingga akhirnya disuruh menuliskan tentang kaderisasi. =D

Pertama kali saat mendengar kaderisasi yang terbayang di benak saya adalah seperti OS atau perploncoan. Itu pikiran saya saat masih baru kuliah, TPB tepatnya. Teringat saat dikumpulkan satu angkatan STEI di lapangan segitiga CC, yang dibahas saat itu yah tentang kaderisasi. Saat itu pandangan saya terhadap kaderisasi masih bisa dikatakan abu-abu karena sebelum kaderisasi STEI, saya telah mengikuti kaderisasi dalam bentuk lain, proses penerimaan anggota baru tepatnya di salah satu unit kesenian di kampus ini.

 

Abu-abu merupakan warna peralihan hitam dan putih. Saat itu, saya memikirkan, penting gak yah kaderisasi STEI, tampaknya gak ngaruh apa-apa ke saya. Positifnya saya mungkin bisa kenal satu angkatan, nambah teman, nambah pengetahuan (yang bakalan diberi saat materi kaderisasi), bisa kenal senior, ehm apa lagi yah,.., mungkin itu saja. Negatifnya kalau saya ikut kaderisasi ini , saya pasti akan capek, banyak tugas yang akan dikerjakan, blum lagi kalo materi yang disampaikan panitia yang membosankan dan bayak lagi hal- hal yang saya takutkan seperti management waktu, mengingat selain kuliah saya juga mengikuti berbagai kegiatan non-akademis saat itu.

Seiring waktu berjalan, tanpa terasa kaderisasi juga berjalan seiring waktu. Tibalah di penghujung semester2. Saya bertanya ke panitia, kapan kaderisasi ini berakhir (dengan kata lain “pelantikan”). Awalnya, panitia tidak mau memberitahu, namun setelah desakan karena biar bisa mastiin tanggal booking tiket pulang akhirnya panitia bilang kalau kaderisasi dilanjutin pas libur semester sampai awal Juli. Nah, saat diberi tahu akan hal itu, saya sedikit kesal pada panitia tersebut. Knapa harus dipakai saat libur, saya kan mau pulang ke rumah (setelah setahun blum pulang). Tapi, saat saya bilang seperti itu ke panitia, dia balas berkata, “Sebenarnya saya juga disuruh pulang, blum lagi KP, trusin aja ikut sampai selesai, tanggung kalau berhenti di tengah jalan. Kan masih ada sisa 1 bulan lagi untuk pulang.” Mendengar itu, saya merasa bersalah, saya menyadari beban kuliah saya yang masih di Tahap Paling Bahagia itu blum ada apa-apanya di banding ama yang dah mau KP. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kaderisasi ini sampai akhir dengan konsekuensi , waktu liburan saya di rumah bakalan lebih singkat. Keputusan ini juga dipicu oleh omongan panitia kaderisasi juga yang bilang kalau kita jangan berharap mendapatkan sesuatu kalau tidak melakukan sesuatu.

Materi demi materi terlalui, tugas angakatan dan individu juga terlalui, hingga saat diberi tugas angkatan berupa bakti sosial. Masih segar diingatan saya, kami disuruh membuat proposal proyek angkatan. Saat ngumpul angkatan, dibutuhkan nama orang yang bertanggung jawab sebagai koordinator kepanitiaan yang akan dibentuk. Kami memutuskan bakti sosialnya berupa pengajaran ke anak SD yang berasal dari desa yang kurang mampu dan belum terjangkau. Temanya: “STEI Together For The Kids” . Saat itu butuh nama orang, dan saya menawarkan diri sebagai koordinator materi, dan setelah saya ada juga yang menawarkan diri. Akhirnya, hari demi hari terlalui dan presentasi tugas angkatan diterima. Kami harus merealisasikan tugas angkatan ini. Saat itu, ditengah-tengah kesibukan yang lain (kebetulan juga saya menjadi panitia PMB PMK) , akhirnya memutuskan untuk tidak menjadi koordinator, dan teman saya yang satu lagi itu yang mengambil alih.

 

Sebelum memutuskan untuk memilih tempat, kami mengadakan sourvey ke beberapa tempat. Kebetulan saya ikut sourvey selama 2 hari. Saat sourvey lapangan itu, ada banyak hal yang saya pelajari. Ternyata di luar sana, kondisi pendidikan kita sangat memprihatinkan. Dari satu sekolah ke sekolah lain yang kami anggap memenuhi kriteria kami (masih kurang mampu , fasilitas sekolah dan guru yang mengajar blum memadai, ), ternyata persoalan yang dihadapi hampir sama, yaitu “putus sekolah”. Mereka hanya menyekolahkan anak mereka sampai di tingkat SD. Mereka tidak sanggup untuk menyekolahkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Untuk melanjut ke SMP misalnya, mereka harus mengeluarkan duit untuk ongkos saja kira-kira Rp.2000 (karena SMP yang terdekat saja tidak bisa dijangkau dengan jalan kaki karena letaknya yang jauh dari tempat tinggal), blum lagi buku dan lain-lain. Bagaimana caranya kami sangup membayar itu kalau penghasilan kami saja Rp. 10.000,- per hari, blum lagi biaya hidup sehari-hari, mendingan anak saya ikut bekerja bersama saya.

Setelah sourvey ke berbagai tempat dan akhirnya satu angkatan memutuskan bahwa kami akan mengadakan bakti sosial ini di Desa Cilimus, dekat TPA Leuwi Gajah. Kebanyakan orang di daerah ini mengandalkan hidupnya pada hasil pulungan sampah. Sebenarnya yang terkena longsoran TPA yang pernah terjadi di daerah Leuwi Gajah itu adalah desa mereka, tapi bantuan yang datang itu ke Leuwi Gajah nya, desa mereka tidak mendapat apa-apa berhubung terpencil dan katanya kami, STEI 2006 adalah orang asing pertama yang datang ke desa itu.

Dengan adanya bakti sosial ini saya merasa dekat dengan teman satu angkatan STEI, menyadari kondisi pendidikan di negri ini, dan paling penting, saya merasa senang bisa membantu orang lain dan menjadi berkat bagi orang di sekeliling saya. Rasanya semua rasa letih yang saya alami demi kelangsungan acara ini terbayar sudah ketika melihat tawa anak-anak di sana. Satu hal yang sangat menyentuh hati saya adalah melihat pohon yang disiapkan anak acara yang digantungkan kertas berisi cita-cita sang anak dan alasan kenapa memilih cita-cita tersebut. Sebelum pulang saya sempat membaca beberapa kertas itu, ada anak yang menuliskan ingin menjadi dokter, pilot, dan lain-lain. Hati saya terharu dan saya berkata dalam hati ,“ Tuhan tolong kabulkan cita-cita anak-anak ini, biarlah Engkau memberkati desa ini.”

Itu segelintir dari flashback kaderisasi STEI yang saya alami. Trimakasih buat panitia Kaderisasi STEI yang telah memberi kesempatan bagi saya dan teman-teman lainnya untuk melihat dunia luar dan berkontribusi terhadap masyarakat. Saya tahu dimana-man, panitia pasti lebih capek dibanding peserta. Jika ditanyakan kepada saya perlukah kaderisasi itu, saya tanpa ragu- ragu akan mejawab,”Sangat penting, ada banyak hal yang bisa dipelajari dan diperoleh jika kita mau untuk mencarinya, tentunya dengan berkontribusi karena apa yang kita peroleh sejalan dengan apa yang kita lakukan. Kaderisasi itu merupakan proses pembelajaran diri secara interaktif antara panitia dan peserta. Kaderisasi juga ajang unutk mengenal suatu organisasi atau himpunan yang bakalan kita masukin, bagaimana kita maa masuk ke suatu lingkungan organisasi jika kita tidak mengenalnya terlebih dahulu”.

Untuk kaderisasi HMIF yang dilanjutin di tingkat 2 ini juga saya balajar banyak hal, yang saya ingat dan mengena di hati itu saat malam swasta yang menekankan kalau kita hendak melakukan sesuatu harus dipikir dulu untuk apa kita melakukannya, apakah itu rasional atau tidak. Jangan melakukan sesuatu yang tidak jelas tujuannya. Ehm, ada lagi yang saya ingat pas pembicaranya Bu Inge. Jujur saya baru melihat sisi humoris nya Bu Inge di situ, dan ternyata saya juga belajar banyak hal dari beliau. Dan juga tak ketinggalan pas pemutaran film tentang kondisi buruh di Indonesia, dan dampak globalisasi dan sejarah Indonesia yang sangat memprihatinkan. Saya berharap bangsa ini dapat bangkit, dan itu bisa terjadi jika kita mau bersatu untuk meperbaiki negara ini, dimulai dari perkara kecil yaitu diri sendiri, keluarga, teman , masyarakat dan negara (cie.. idealis banget). =D

6 thoughts on “Kaderisasi

  1. melizaaa.. trenyuh ni baca tentang pohon harapan cilimus.. hukshuks.. kangen cilimusan mel.. T_T kangen anak2 cilimusnya, kangen kebersamaan stei06nya, kangen survey barengnya.. hehehe. btw mel, kita 1 klompok kan ya pas pelantikan?😀

    mau masukin ke blogroll gue ya..

  2. ^_^

    bu inge…
    film kondisi Indonesia…

    wah wah wah..
    plok plok plok…
    hebat!!!
    suit suit…

    hayo,, mel…!!!!
    bangunlah indonesia!!!
    jangan biarkan dia tertidur terus…

  3. 11 Cara Merawat Kesehatan Jiwa
    Oleh : Dede Farhan Aulawi

    Sahabat…
    …mungkin saya tak sempat berbagi makanan denganmu
    tapi izinkan ku berbagi pengetahuan untuk kita
    Pada kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan 11 Cara Hidup Sehat,
    berdasarkan pengalaman, yaitu :

    1. Makanan dan minuman yang paling sehat, bukanlah makanan dan minuman
    yang mahal dan enak, tetapi makanan yang bisa berbagi dengan mereka yang
    tak punya, yang terdiam dalam lapar, dan dahaga dalam haus.

    2. Make up terbaik bukanlah make up mahal dari salon ternama, tapi make up
    yang bisa membuat kita tersenyum tulus pada sesama

    3. Tugas terberat bukanlah tugas lembur sampai pagi dan mempertaruhkan
    nyawa, tapi belajar dan belajar untuk mengendalikan nafsu yang dimiliki,
    terlebih manakala kita dimarahi dan di-dzolimi tanpa sebab yang jelas

    4. Pakaian yang menarik bukanlah pakaian yang bermerk terkenal, tapi
    pakaian yang bisa kita berikan pada mereka yang menggigil kedinginan, dan
    penuh keterbatasan

    5. Sepatu terbaik bukanlah sepatu dari negara maju, tapi sepatu yg bisa
    menjadi alas kaki bagi kaum papa tak berdaya, bagi anak – anak miskin yang
    ingin sekolah, bagi mereka yang kepanasan karena aspal jalanan

    6. Rumah terbagus bukanlah rumah mewah dan megah, tapi rumah yang
    senantiasa dihiasi oleh kalimah – kalimah thoyibah, serta menjadi
    pelindung bagi kaum miskin dan yatim yang sangat membutuhkan tempat tuk
    berteduh

    7. Kendaraan terbaik bukan kendaraan keluaran terbaru, tapi kendaraan yang
    senantiasa mendekatkan kita tuk berbuat kebaikan, kendaraan yang bisa
    mengantarkan kita ke tempat – tempat ibadah menuju ridlo-Nya

    8. Kepandaian yang terbaik bukanlah pengetahuan luas tanpa batas, tapi
    pengetahuan yang bisa dibagi untuk mereka yang memerlukannya, dan bisa
    memberi secercah harapan dalam meraih masa depan yang mereka impikan

    9. Wajah yang tercantik/ tampan bukanlah wajah putih mulus tanpa jerawat,
    tetapi wajah yang senantiasa berhiaskan air mata tobat manakala berbuat
    salah, dan wajah – wajah ikhlas dalam menerima segala ketentuan-Nya

    10. Bibir terindah bukanlah bibir merah bak buah delima yang merekah, tapi
    bibir yang senantiasa basah menyebut asma-Nya, meng-agungkan
    kebesaran-Nya, dan bibir yang senantiasa menghindarkan diri dari dusta dan
    menyakitkan orang lain

    11. Mata yang paling menarik bukanlah mata hitam, hijau atau biru, tetapi
    mata yang senantiasa tersentuh ketika melihat penderitaan dan kesulitan
    orang lain, dan segera berbuat sesuai kemampuan yang dimiliki.

    Sahabat…
    Itulah sedikit kilasan ilmu kejiwaan yang bisa saya sampaikan
    Semoga bisa memberi manfaat yang bisa direnungkan
    Sekaligus menjadi renungan yang bermanfaat. Amin
    Tak lupa saya sampaikan maaf…bila ada tulisan yang tak berkenan

    Bandung, 25 Februari 2008
    Kang De / 0813-2020-9550

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s