dua lima tempo dulu hingga kini (2)

(lanjutan dari bagian satu-nya)

Natal tahun ini, dimulai dari perenungan akhir Nov lalu ketika menuliskan sesuatu untuk suatu keperluan ,  Bukan Kado Biasa, Seribu lilin untuk Indonesia dan Jangan biarkan Panggung itu kosong, juga kritik akan penyimpangan natal oleh teman saya, Efraim, terulas tuntas setajam silet😛, haha..saya rasa benar juga.

Dan akhirnya sampailah pada dua lima desember dua ribu sembilan.. Natal kali ini pun berbeda dengan natal sebelum2nya yang saya jalani (termasuk karena baru ngucapin natal lewat telfon di sore hari dan membalaskan sms natal 26 pagi).

Saya  bersama temen2,Yaya, Seli, Jury, Efraim, Renalto, Hans Raid, Sarmedi,dan bang Hendra, bersehati melangkahkan kaki ke Wyata Guna, merayakan  natal bersama saudara2 di sana. Ada Erasmus, Tomi, Yustin, Romauli,Elis, Yustin (*lagi), Ronald, Milia, Sofi, Yanti, Agus,Nensy,Maulin, dkk yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu, jumlah nya kira2 20-an orang, berasal dari berbagai suku2 bangsa.

Sesampainya di sana, saya sempat bingung bagaimana harus berbuat dan berucap. Briefing ekspress pun dilakukan (*maklum acara kespontanan anak2 tanpa perencanaan, namun penuh makna). Kami memulai acara dengan perkenalan, bernyanyi, berdoa dan membagi ke beberapa kelompok untuk cerita2.

Saya bersama renalto sekelompok dengan tommi, ka yanti, ka yustin, tomi, ka nensy dan ka maulin.
Ka Yanti: kehilangan penglihatan saat berusia 21 tahun, terkena glukouma. Awalnya di masa kritis, sampai berbulan2 menangis dan merasa sangat sedih. Hingga suatu waktu, saudaranya yang jg tunanetra memberi saran untuk mulai belajar baca tulis broiller dan pergi ke bandung (*dari Padang) untuk mengambil keterampilan karena di sana yang ada cuma sekolah informal.
Saat ini, beliau sudah berkeluarga, dan memiliki putri bernama Agnes. Kata-katanya yang sempat saya tuliskan pada selembar kertas : “slalu berserah pada Tuhan, karna tiap yang dikasi ama Tuhan indah pada waktunya“…
Luar biasa.. kata2 ini muncul dari mata hati terdalam, lewat pengalaman hidup yang dialaminya..

Ka Yustin : baru berkeluarga pas sebulan lalu, 27 nov. Namun, kk ini agak sedikit tertutup untuk bercerita, yang ada malah yang banyak nanyain orang.. hahaha. Tak mengapa..

Ka Maulin : kehilangan penglihatan saat 7 tahun. Dia mengaku masih ingat tulisan2. Kala itu natal, dia panas tinggi, mungkin berpengaruh ke sarafnya. Namun, kala itu masih menggunakan obat2 kampung. Saat ke dokter sudah tidak terselamatkan lagi bahkan dengan operasi sekalipun.
Pristiwa ini tentunya cukup mengguncang jiwanya. Setahun lama nya bersama orang tua hingga akhirnya dia diizinkan bersekolah atas ajakan suster.

Ka Nensy : tidak dapat melihat sejak lahir. Dia sempat bertanya2 ama orangtuanya, mengapa dia begitu, apakah selain dia ada yang mengalami nasib yang sama. Sedari kecil minder bergaul, namun teman2 nya tetap datang untuk mengajak dia bermain. meski terkadang terdengar suara2 yang tidak enak di dengar, namun dia tetap bersyukur ada seorang teman yang tetap ada di sampingnya, dia yang mengajak Nensy greja tiap minggunya, selalu memberi dorongan kepadanya.

Kata-katanya yang sempat saya tuliskan juga pada selembar kertas : “ bersykur masih diberi nafas kehidupan, Tuhan tidak pernah meninggalkan dan Tuhan memberi yang terbaik “…

wow.. lagi2 saya merasa malu terhadap diri saya yang sringkali mengeluh.. aku teringat akan ayat alkitab, bukan karena dosanya ataupun orangtuanya dia buta, tapi untuk memperlihatkan pekerjaan Tuhan atasnya😉

Tommi : masih bersekolah, anak ini juga tidak banyak bicara.

Di tengah keterbatasan fisik mereka, mereka tetap memiliki semangat yang kdang kita sebagai orang yang dikarunia cukup tidak punya semangat seperti itu. Smangat untuk bersekolah dan bekerja, juga saling menguatkan satu dengan yang lain.

Tak luput juga saya dan renalto juga bercerita ttg kami masing2 dan natal bagi kami..

Usai cerita2 dan makan, kami pun menutup acara dengan bernyanyi dan berdoa. Besar keinginan mereka agar orang2 lebih lagi memperhatikan saudara2 lain, bukan hanya di tempat itu.

Bagaimana dengan kita yang diciptakan sempurna? Sudah kah kita bersyukur? Masihkah patut mengeluh ini itu ?
Dunia akan terasa indah jika kita saling memperhatikan dan berbagi, bukan?

Natal, bukan bicara soal perayaan, hadiah, sukacita sesaat namun miskin makna dan perenungan. Jikalau tempo dulu natal hanya sekedar, kita dapat belajar dan merenungkannya di masa kini.

Natal mengingatkan ku akan kelahiranNya, bukan dengan kemegahan namun dalam kesederhanaan. Bukan untuk menerima namun untuk membagikan. Met natal dan salam damai😉
Mari persembahkan kado istimewa yang terbuatkan dari hati😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s