Alice (not just) in Wonderland

Peringatan dini!

Kesalahan judul bukan terletak pada mata Anda, melainkan memang sengaja dituliskan demikian oleh saya, dengan alasan yang akan dijelaskan kemudian😛 . Haha..

Alice’s Adventures in Wonderland (1865) -yang kemudian lebih dikenal dengan singkatan Alice in Wonderland – merupakan novel terkemuka karya pengarang Inggris, Charles Lutwidge Dodgson atau yang lebih dikenal dengan ‘Lewis caroll’. Novel ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama ‘Alice’ yang berjelajah/ berpetualang di dunia fantasi.

Menarik, melihat latarbelakang dari penulisan novel ini yang terinspirasi dari teman-temannya (salah satunya bernama Alice Pleasance Liddell) dan keluarganya, serta lokasi tempat Caroll saat itu berada.

Daya khayal Caroll (yang adalah ahli matematika) dipadukan dengan logika matematika (yang terselip di beberapa chapter) dan disisipi aspek sejarah (dengan simbol-simbol tersembunyi antara perseteruan ‘Red Roses’ sebagai simbol dari English House of Lancaster dan ‘white Roses’ simbol dari House of York ) membuat novel ini digemari tak hanya oleh anak-anak tapi juga orang dewasa.

Buku ini kemudian menginspirasi tokoh-tokoh perfilman dan pertelevisian, hingga pada tahun 1903 untuk pertama kalinya Alice in Wonderland hadir dalam bentuk film, meski pada saat itu teknologi perfilman masih belum mengenal audio. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, film ini terus menerus diluncurkan. 1903,1910,1915,1931,1933,1949,1951,1966,1972,1976,1981,1983,1985,1986,1988,1999. Bermacam-macam,mulai dari film bisu, animasi, musikal, serial TV hingga akan datang dalam bentuk 3D. Diluncurkan pada tahun ini, Maret 2010.

Disutradarai oleh Tim Burton, Mia Wasikowska sebagai Alice,  Johnny Depp sebagai The Mad Hatter, Helena Bonham Carter sebagai The Red Queen, Anne Hathaway sebagai The  White Queen, dan Crispin Glover as The Knave of Hearts.

(*jadi ga sabar pengen nonton, hehe).

Alice, ternyata bukan saja menjadi tokoh utama dalam pernovelan, tetapi juga di dunia kriptografi. Kriptografi merupakan ilmu dan seni menjaga keamanan pesan (Bruce Schneider). Yang pernah mengambil matakuliah kriptografi dan yang berkecimpung dengan kriptografi tentu tidak asing lagi dengan nama Alice. Demikian juga dengan saya, meski belum mengambil matakuliah ini, namun Tugas Akhir saya yang bertopikkan kriptografi memaksa saya berkenalan dengan Alice. Alice sering dijadikan nama orang dalam penjelasan aspek/metode/protokol kripto, yang untuk sekarang ini dan kemudian akan banyak saya singgung di Tugas Akhir saya.

Saya akan mencoba menceritakan dengan singkat mengenai Tugas Akhir saya. Mohon maap bila sehabis membaca ini kepala terasa puyeng dengan istilah-istilah aneh😛

Alkisah, Alice memilih dalam suatu pemilihan umum suatu kandidat. Bagaimana caranya meyakinkannya atau membuktikan bahwa pilihan Alice tercatat dengan benar pada mesin penghitung, juga bagaimana membuktikan bahwa penjumlahan keseluruhan suara adalah benar.  Suara Alice harus tidak dapat dimanipulasi oleh pihak lain.

Ada dua proses kriptografi yang digunakan, yaitu bagaimana Alice mem-verifikasikan suaranya ter-enkripsikan dengan benar dan bagaimana menghitung seluruh suara-suara yang ter-enkripsi.

(*enkripsi : proses menyandikan pesan asli menjadi pesan yang tidak dapat dimengerti maknanya oleh pihak lain. dekripsi : kebalikan enkripsi, mengembalikan pesan yang terenkripsi menjadi pesan asli)

Hasil dekripsi dari perkalian pesan-pesan yang dienkripsi akan menghasilkan jumlah chiperteks yang terkait. Sifat ini dikenal dengan homomorfik adiktif persamaan El Gamal yang terdapat pada salah satu langkah Paillier Cryptosystem. Dengan adanya sifat ini, mempermudah penggunaan kripto pada electronic voting.

Selain keamanan dan itegritas data pada electronic voting, ada isu lain yang perlu diperhatikan, yaitu kerahasiaan pemilih. Sistem pada electronic voting harus menjamin kerahasiaan pemilih, harus tidak dapat ditelusuri siapa memilih siapa. Untuk menyamarkan siapa yang dipilih oleh pemilih digunakan Paillier Cryptosystem (yang telah dikemukakan sebelumnya). Untuk menyamarkan keberadaan pemilih, maka digunakanlah Dining Cryptographer Protocol yang dikemukakan oleh David Chaum.

Contoh yang digunakan Chaum dalam menjelaskan permasalahan jamuan makan malam para kriptografer  (Dining Cryptographer Protocol) adalah sebagai berikut:

Tiga orang kriptografer sedang berada pada jamuan makan malam di restoran berbintang tiga kesukaan mereka. Pelayan kemudian memberitahu mereka kalau makanan mereka telah dibayar sebelumnya oleh seseorang yang tidak ingin diketahui. Salah satu kriptografer memiliki kemungkinan membayar makan malam tersebut, atau kemungkinan lain si pembayar adalah agen keamanan Amerika (U.S.National Security Agency / NSA). Ketiga kriptografer menghormati embayar yang tidak ingin diketahui tersebut, tapi mereka meragukan apakah NSA yang membayar.

Kemudian, merekapun menyelesaikan ketidakpastian mereka dengan cara yang adil melalui protokol berikut ini :

Tiap kriptografer melempar koin di bawah meja agar tidak tidak terlihat dengan yang lain. Hanya dia dan orang yang berada di sisi sebelah kanannya saja yang dapat melihat hasil lemparan koin. Masing-masing kriptografer kemudian menyatakan kedua koin yang dilihatnya –satu yang dilemparkan olehnya sendiri dan satu lagi lemparan koin dari tetangga sebelah kirinya- menyatakan apakah kedua koin yang dilihatnya ‘sama’ atau ‘berbeda’. Jika ternyata pembayar adalah salah satu dari mereka , demi menjaga kerahasiaanya, si pembayar harus berbohong dan menyatakan kebalikannya. Setelah semua kriptogafer menyatakan ‘sama’ ataupun  ‘berbeda’,  pernyataan

‘berbeda’dijumlahkan. Jika jumlahnya ganjil berarti si pembayar adalah salah satu kriptografer, sedangkan jika jumlahnya genap berarti si pembayar adalah NSA.

Jikalaupun si pembayar adalah salah satu dari kriptografer, tetap saja kedua kriptografer lainnya tidak bisa belajar ataupun menyimpulkan apa-apa siapa kriptografer yang berbohong dengan pernyataannya mana yang tidak.

Demikianlah secuil penjelasan dari TA saya yang akan meng-kombinasikan Paillier Cryptosystem dan Dining Cryptographer Protocol dengan studi kasus Electronic Voting. Fiuuhhpphh,, judul yang berjelimet ini agak membuat saya malas menjawab jikalau ada yang menanyakan TA saya tentang apa, haha B-)

Alice (not just) in Wonderland…

====

@ temen-temen seperjuangan  IF’06 : semangat buat seminarnya…  (gym) (rock)

6 thoughts on “Alice (not just) in Wonderland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s