Titik di Tepian Pantai

Alkisah tentang seseorang yang menyukai pantai. Dia sangat menikmati masa-masa berjalan-jalan di pasir putih.  Ia tidak takut melepaskan alas kakinya. Baginya merasakan lembutnya pasir pantai harus dengan kaki telanjang. Ia tidak kuatir kalau-kalau kakinya terluka oleh benda tajam yang tak terlihat di pasir-pasir. Sejauh ini belum pernah ia rasakan hal yang demikian. Lagipula, ia tahu kapan harus memakai alas kaki, kapan harus melepaskannya.

Ia juga senang mengumpulkan kerang-kerang kecil dan kemudian mengelompokkanya berdasarkan jenis. Tak lupa, ia menyimpannya ke dalam sebuah kotak. Kotak itu ditaruhnya di dalam tas ransel yang senantiasa menemani perjalanannya .  Sesekali  ia bermain-main dengan air laut. Ia senang akan sambutan gelombang-gelombang laut  yang lalu menyapu ringan tubuhnya kembali ke tepi pantai.

Pagi atau senja adalah waktu yang baik baginya tuk menyusuri pantai. Kala pagi, ia bertemu sang mentari yang menyambutnya dengan sinar hangat. Sambutan itu mengingatkannya untuk berterima kasih kepada Pemilik Mentari , atas sinar yang boleh ada setelah terlaluinya malam yang gelap dan dingin.

Ada kalanya juga ia menyukai untuk berjalan-jalan di waktu senja. Lewat senja yang jingga, indah, hingga akhirnya mentari mengucapkan salam perpisahan.   Ia pun diingatkan bahwa sudah saatnya pulang dan istirahat. Waktu istirahat pun sudah dirancang Pemilik Pantai, jauh sejak bumi ini dijadikan.

Tak jauh dari tepi pantai yang biasa ia susuri terdapat pelabuhan kecil. Tempat di mana kapal-kapal berlabuh. Datang dan pergi. Pernah terpikirkan olehnya suatu saat akan berpetualang dengan salah satu kapal di situ. Namun, rasa mual, mabok perjalanan, takut muntah kerap mengurungkan niatnya. Tak heran ia   melepaskan kesempatan demi kesempatan untuk berlayar.  Lagipula, di satu sisi, ia masih belum ingin meninggalkan pantai yang disukai nya itu.

Hari demi hari ia lalui. Cukup sibuk dan senang akan aktivitasnya di pantai. Sesekali ia berpikir ada perlunya untuk melepaskan ketakutannya akan rasa mual yang sering membuatnya ragu. Mungkin dengan mencoba mengarungi lautan yang luas. ” Nanti saja, kalau bertemu dengan kapal yang cocok” pikirnya.  Kapal yang  takkan membuatnya mual.

Pada suatu kali, orang-orang ramai membicarakan suatu kapal. Awalnya dia merasa biasa saja, gak ada yang istimewa. Tapi entahlah, kicauan orang-orang dekatnya lambat laun membuat ia akhirnya suka dengan kapal itu. Benar juga  apa yang tertulis, bahwa iman bermula dari pendengaran.

Pantai pun menjadi ramai. Kebisingan membuatnya terganggu. Kesibukan membuatnya mulai jarang untuk bercerita dengan Pemilik Pantai, sosok yang sangat dikaguminya.  Bisikan angin yang kerap menjadi inspirasi baginya hampir-hampir tak terdengar lagi.  Sudah saatnya menarik diri dari keramaian, mencari Pemilik Pantai dan mencurahkan segala resah dan keraguan hatinya.  Setelah itu, hatinya kembali tenang.

Kembali ia pergi ke pantai. Ia merasa sudah siap. Siap menghadapi kebisingan dan keramaian juga siap untuk meninggalkan sejenak pantainya untuk mencoba berlayar. Ia pun menunggu kalau-kalau kapal itu akan berlayar.  Namun, sudah lama menunggu, panggilan dari sang nahkoda tak terdengar. Mungkin  asik dan sibuk dengan  keramaian.

Bosan dan jenuh akhirnya ia rasakan. Lelah dengan situasi yang demikian membuatnya ingin pergi.  Hingga sampai ke suatu titik, ia pun memutuskan pergi meninggalkan pantai itu, yang kini sudah terlalu ramai dan bising. Ia akan berpetualang menyusuri tepian laut  sampai  mendapatkan lagi suasana pantai yang ia impikan. Yang sungguh jauh dengan yang sekarang ada di depan matanya.

Kenangan memang ada .Pergi mungkin menjadi hal yang terberat baginya untuk saat ini.
Ia pun membawa serta ransel kesayangannya. Ada yang harus ditinggalkan agar tasnya tidak membebani perjalanannya nanti.  Akhirnya diputuskannya untuk meninggalkan kerang-kerang kecil yang disimpannya pada suatu kotak. Indah memang, tapi benda itu berat untuk dibawa, begitu juga dengan sejuta kenangan yang mungkin akan terbayang olehnya. Toh di pantai berikutnya ia akan temukan lagi benda-benda itu.

*******

Skarang,  ia  menunggu redanya  gerimis – yang sedang berusaha menghalanginya untuk pergi –  sembari  menunggu kakinya yang masih gemetar tuk kembali kuat dalam melangkah.
Ia pun berbisik kepada angin, agar kemudian angin menyampaikan pesan pada dia. Jikalau dia peka seyogianya suara itu terdengar.

“Jikalau kapalmu berlabuh di pantai kuberada,mungkin kita akan bertemu. Dan itu pun jika ku sedang tidak berlayar.  Tawa, senyum dan sendu bahkan tangis bisa mengenalmu sejauh yang ku tak tahu sejauh apa, sedekat yang ku tak tahu juga sedekat apa.  Pesanku, biarlah banyak orang  boleh merasakan dampak yang baik atas kehadiranmu di sini. “

Titik di tepian pantai.

– melz-

010310

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s