Kisah Terabaikan, Kawan!

Kaum miskin, begitulah label yang terpaksa mereka kenakan dalam kesehariannya. Sebagian besar dari kaum ini telah menjadi pelengkap keramaian orang yang sedang bersantap makanan di warung-warung ataupun menjadi selingan yang terpaksa di dengar di perhentian lampu merah. Keberlangsungan hidup hari per hari digantungkan kepada belas kasihan tangan-tangan sang pemberi — yang hanya terhenyuk sesaat melihat kondisi mereka dan kemudian segera melupakannya usai makan dari warung-warung ataupun kala mobil atau motor sudah melaju dari lampu merah. Hunian kaum ini adalah jalanan atau rumah-rumah kumuh di kolong jembatan, di tepian rel kereta, atau bahkan di sekitar tempat pembuangan sampah. Hunian yang menjadi pilihan tanpa pilihan.

Menurut versi Badan Pusat Statistik terhitung sekitar 39,05 juta jiwa yang menyandang label kaum ini.Versi Bank Dunia bahkan mencapai 100 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit bagi Indonesia,yang total penduduknya diperkirakan mencapai 231 juta jiwa pada Mei 2010 (perkiraan BPS). Bila dipetakan (versi Bank Dunia), hampir setengahnya berisi kaum miskin. Tidaklah heran bila kaum miskin sudah menjadi pemandangan yang biasa dilihat kasat mata. Saking biasanya terlihat, sampai-sampai mata hati telah menganggapnya sebagai kewajaran pula.

Di sekitar ITB -yang katanya kampus terbaik bangsa- pun tak terluput dari kaum miskin. Bila menyeberang dari jalan depan kampus, langsung ditemukan saudara kita yang kurang beruntung itu. Tak hanya nenek tua, ibu muda, bahkan sampai ke anak-anak yang usianya masih sangat belia menjadi peminta-minta. Bila makan di Gelap Nyawang (kantin dekat ITB) pun masih bertemu dengan mereka. Bila terhenti di lampu merah Simpang Dago ataupun Taman Sari (masih dekat ITB), tetap saja bertemu dengan mereka. Bahkan, tak jauh dari tempat kos juga masih bertemu dengan mereka. Sangat dekat dan sangat sering, wahai Kawan.

Pemerintah, masyarakat dan kaum intelektual tampaknya telah abai. Orang miskin dilarang sekolah –karena harus pergi ke jalanan demi sesuap nasi. Orang miskin dilarang sakit–karena tak ada biaya untuk berobat, bahkan ke Puskesmas sekalipun. Rantai kemiskinan telah menjadi jerat yang sulit diputuskan. Bagaimana tidak, orangtua tak mampu menyekolahkan sang anak. Sang anak yang tak mengenyam pendidikan tak punya pilihan selain mengikut orangtuanya. Tak hanya terjadi di satu keluarga, tapi di banyak keluarga. Di pedesaan berbeda ceritanya. Sekolah lanjutan sangat jarang dijumpai. Kalaupun ada jaraknya sangat jauh dari daerah kediaman. Tak cukup uang untuk ongkos. Biaya pendidikan yang masih dirasa mahal. Tak ada pilihan lain selain mengikut jejak orangtuanya. Bagi mereka, bersekolah hanya sebatas mimpi yang tak akan pernah terwujud.

Kebijakan para penguasa negara pun tak berpihak pada kaum miskin. Studi banding ke luar negeri tampaknya lebih ‘menyenangkan‘ dibanding langsung terjun ke lapangan yang sesungguhnya. Fasilitas mewah pejabat lebih ‘diperjuangkan‘ dibandingkan dengan nasib para kaum miskin. Perusahaan yang menetapkan syarat pada lapangan pekerjaan telah memupuskan harapan mereka untuk mengecap pekerjaan yang lebih layak, karena minimnya pendidikan dan keterampilan yang mereka miliki. Seleksi alam telah menjadi hukum rimba. Selayaknyalah pemerintah dan masyarakat bergerak bersama menolong saudara-saudara kita yang terjerat dalam jurang kemiskinan.

Tentulah ada cara yang dapat dilakukan. Hati yang peduli dan berbagi sepatutnya dimiliki. Kurangi belanja negara untuk hal-hal yang tidak perlu. Tindak tegas para koruptor. Uangnya anggarkan pada bantuan kepada kaum miskin. Tidak hanya memberi bantuan seperti Bantuan Langsung Tunai yang terkesan tidak mendidik. Belajar dari pepatah, “Beri kail bukan ikan“. Bila kail telah diberi, ajarkan cara memancing, niscaya dapat mencari ikan dengan sendirinya. Anak-anak jalanan diberi pendidikan yang layak dan keterampilan. Tak ada kata susah bila semua satu padu saling bekerja sama ke arah yang lebih baik. Kemiskinan tak akan beranjak dari kamus bangsa kita bila tak ada perjuangan untuk melepaskan jeratnya.

Hal ini juga pekerjaan rumah bagi kita, Kawan mahasiswa. Sekiranya Anda-Anda lulus dari kampus ini jangan pernah lupakan ataupun abaikan mereka. Mungkin Anda-Anda nantinya menjadi pemegang kebijakan negara ataupun perusahaan, dan lain sebagainya.  Ada satu kata , tak perlu banyak, PEDULILAH.  Pedulilah dengan mereka yang dengan susahnya mengumpulkan receh demi receh, sementara kita , ada yang dengan mudahnya menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu untuk hal yang tidak terlalu mendesak. Pedulilah dengan  mereka yang berjuang demi sesuap nasi,sementara kita, ada yang mudahnya meninggalkan makanan bersisa tanpa rasa bersalah.  Pedulilah dengan mereka yang tak seberuntung kita dapat mengenyam pendidikan, sementara kita , ada yang bermalas ria dan masih mengeluh untuk belajar.

Apa yang telah kita buat? Kita diciptakan untuk berbagi hidup dengan mereka.  Sekiranya tak menganggap ini sebagai angin lalu, yang ada hanya untuk sesaat saja dan kemudian melupakan. Peduli dan berbagilah. Banyak hal yang bisa Anda lakukan. Tak perlu terlalu hebat bila tidak sanggup. Hal-hal yang kecil saja, namun berguna. Itu sudah cukup. Mereka bukanlah adalah siapa-siapa. Mereka adalah saudara sebangsa. Kita berpijak pada tanah yang sama dan minum air yang sama di bumi pertiwi, Indonesia.

Hidup terlalu miskin bila mengatakan tidak untuk peduli dan berbagi, Kawan!

-dari berbagai sumber-

Melz

170310

2 thoughts on “Kisah Terabaikan, Kawan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s