Dari Bandung dengan Cinta

Sangat jarang tanganku ini menekan tombol ‘panggil’ pada nama-nama yang kusimpan di telpon selularku dengan nama  ^^Dad,^^Mama,^^Jeng,^^ Bos. Ya, memang ku sengajakan mengelompokkannya begitu  supaya cukup menekan tombol satu tombol akan segera menemukannya. Tapi cara panggil cepat ini tak kusertai dengan cara panggil sering. Sampai-sampai suatu hari kudengar sindiran halus, kala itu Bapak menyebutkan bahwa diriku hanya menelpon jikalau sekiranya ada keperluan, yaah, seperti minta duit, dll.  Wow, seperti terhempas dari bangunan tinggi rasanya.

Semenjak itu aku pun mulai membulatkan niat untuk sering  menelpon. Niat hanya niat saja, aku pun tetap terhanyut dalam duniaku di sini, dunia kuliah, dunia pelayanan, dunia pergaulan, termasuk dunia pergumulanku.  Masih lebih sering ditelpon dan aku hanya menelpon untuk tujuan-tujuan tertentu saja. Lagian,tidak banyak hal penting yang perlu kuceritakan dengan mereka, pikirku.

Kira-kira  sekitar dua atau tiga minggu yang lalu, tema “Keluarga” diangkat dalam Persekutuan Sabtu OH yang kuikuti. Di mulai dengan monolog tentang beberapa hal yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa.  Tentang kampus, pelayanan, panggilan hidup, dan juga teman hidup. Betapa larutnya kebanyakan para mahasiswa dengan dunia nya sendiri tanpa melibatkan keluarganya, meski hanya sebagai pendengar.

Tak hanya sampai di monolog aku disadarkan, pemutaran filem “Everybody’s Fine” pun menambahkan niatku untuk tak hanya bercerita tentang aku sedang butuh apa, tentang aku sedang baik-baik saja dan menutup mulut akan pergumulan ataupun kesulitan yang sedang kuhadapi.  Filem yang punya pesan moral yang bagus. Biarlah tak hanya menyampaikan  yang baik-baik saja kepada orangtua, tapi juga pergumulan yang sedang dihadapi. Belajar untuk lebih jujur dan terbuka.

Inilah hal yang menjadi perenunganku.

Tentang kampus :

‘Bahwasanya di kampus ini ada banyak kisah jatuh bangunku yang diikuti pembelajarannya yang membuatku semakin dewasa, bahwasanya ada kalanya aku mengabaikan jam-jam makan dan jam-jam istirahat hingga akhirnya jatuh sakit, bahwasanya aku memiliki banyak pembelajaran dari kegiatan-kegiatanku selain kuliah –himpunan maupun unit — dan banyak cerita lainnya yang terlewatkan. Aku jarang  menceritakan  tentang perkuliahan di jurusanku, kala ku harus menginap di kampus, kala ku harus membagi waktuku yang sedikit dengan ketatnya. Toh orangtua tak kan mengerti, jadi  buat apa aku bercerita?

Tentang pelayanan:

‘ Bahwasanya aku ikut persekutuan. Aku semakin mengenal  Tuhan. Aku belajar apa yang benar.  Aku  ikut Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) dan bahkan sekarang sudah memiliki adek-adek KTB, juga dengan kepanitaan demi kepanitiaan yang kuikuti. Tapi, aku tak menceritakan kepada kalian betapa sukacitanya aku menjadi bagian dari komunitasku ini, hanya sekilas atau lapisan atasnya saja. Lagi-lagi kupikir orangtua tak kan mengerti.’

Tentang panggilan hidup :

‘ Bahwasanya setelah lulus nanti aku tak hanya bekerja mengejar materi, tetapi bekerja sesuai dengan panggilan hidupku dan menjadi berkat. Panggilan hidup? Ku pikir kluargaku tak mengerti apa itu panggilan hidup, dan aku pun tak menceritakannya.’

Tentang teman hidup:

‘Wew, topik yang agak sensitif. Memang lebih sering Mama yang menanyakanku. Lagi-lagi aku tak menceritakan dengan detail, hanya luar-luarnya saja. Mendoakan dan mendengar jawaban doa akan menjadi istilah asing bagi telinga kalian. Aku menyimpulkannya sendiri seperti itu hingga memilih tak bercerita’.

****

Bermula dari beberapa hari yang lalu, sudah lama rasanya tak mendengar suara adekku. Beberapa kesempatan terlewat karena kesibukanku ini dan itu hingga akhirnya kecapean dan lupa menanyakan kabar. Semoga kesibukan apapun di depan tak kan menghanyutkanku untuk berbincang-bincang di udara.

Seperti hari ini juga, meski aku gagal dalam mencapai progress pengerjaaan Tugas Akhirku di hari ini, ada satu hal yang kupelajari dan kulakukan. Tanganku pun menggenggam telpon selularku dan menekan tombol ‘panggil’. Aku mulai bercerita tentang ketidaksemangatanku, kuliahku, dllnya hingga berujung pada rasa kangen-ku akan  meja makan rumah. Meminjam istilah seorang teman tentang meja makan— momen di mana semua berkumpul, menyantap makanan, dan bercerita.

Hari-hari ke depan, aku akan mengisi hari-hari kalian yang tersebar di Siantar, Medan dan Depok dengan ceritaku, dan tentu saja dengan cinta, haha😀

Dari Bandung dengan cinta😉

2 thoughts on “Dari Bandung dengan Cinta

  1. eeeaaa, takkira isinya acara sesuatu yang judulnya “Dari Bandung dengan Cinta”

    wah, Mel…kalo aku sekarang mulai mengganti aktivitas “panggil” dengan “online” karena papa mama adik udah bisa pake Skype jadi bisa video chatting kalo malem…ehehe *pamer mode ON*

    selamat “memanggil”😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s