ISA

ISA
Kepada nasrani sejati

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh

patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Chairil Anwar

November 1943

Tubuh mengucur darah, rubuh, patah, dan mungkin sampai tak berbentuk lagi. Sedemikian banyaknya darah yang terkucur sampai-sampai Chairil Anwar menggambarkan ia dapat berkaca dalam darah. Namun, dalam ‘berkaca’ itulah ditemukan adanya terang, terang oleh darah yang terkucur. Luka pun terkatup. Anda dan saya boleh bersuka😉 Dosa-dosa telah ditebus oleh darah Isa di kayu salib. Terang keselamatan sesungguhnya ada bagi yang percaya.

Puisi ‘Isa’ ini sangat mendalam maknanya, saya kagum akan penggambaran Chairil Anwar , terlebih beliau bukan dari latar belakang Nasrani. Kabarnya puisi ini ditujukan kepada temannya (W.J.S. Poerwadarminta ) yang dianggapnya sebagai Nasrani sejati. Mungkin pergaulannya dengan WJS P jugalah yang memperkuat penggambarannya akan puisi ini. Wow, ada ga ya orang lain melihat kita sedemikian sehingga tercipta puisi yang kayak gini? Hehe😀

Met merenungkan pengorbanan Isa di kayu salib (Jumat Agung) dan met menjelang KebangkitanNya (Paskah)..

kata yang jarang beranjak dari kamus😛

* segara = lautan

5 thoughts on “ISA

  1. “Met merenungkan pengorbanan Isa di kayu salib (Jumat Agung) dan met menjelang KebangkitanNya (Paskah)..”

    aku kok jadi inget status Y!M temenku kemaren : “Telah meninggal dunia hari ini, Yesus. Yang tidak sempat layat tidak apa-apa, besok minggu sudah bangkit” :))

    • ahahhaa…
      aku malah ngirim sms begini mas :
      “telah berpulang ke rumah Bapa, Tuhan kita pada hari Jumat 2 April yang lalu, tapi jangan bersedih, hari ini (Minggu) Dia bangkit koq”

      hihihiii😉

  2. hmm,, bagus sekali ulasan tentang puisi ini,
    beberapa kali saya membaca blog ini dan sangat memberkati sekali isinya,

    tapi saya mau mengomentari penulisan puisinya, kata ‘Tubuh” yang ke tiga kalinya dalam puisi itu seharusnya ditulis dalam huruf besar, karena memang demikian aslinya, dan disitu letak keunikan puisi ini (http://bataknews.wordpress.com/2007/06/25/kepada-nasrani-sejati-dari-chairil-anwar/).

    buat bloggernya, kiranya terus berkarya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s