Teman Jalan

Yang pernah jalan bareng saya pasti tahu ‘kelemahan’ saya yang satu ini. Yap, spasial saya termasuk rendah, susah membayangkan letak suatu tempat yang baru atau jarang dikunjungi. Ujung-ujungnya sering salah arah–bahasa pasarannya ‘tukang nyasar’ (doh). Biasanya kalau sedang jalan sendiri, saya mengakalin dengan mengingat suatu patokan atau acuan. Kebanyakan sih lupa cara ke acuannya itu. Gyaaa…. Inilah sebabnya kalau jalan biasanya mengajak dan mengandalkan orang lain, hahaha.

Belakangan ini saya sering lembur dan pulang malam. Ada Pak Amin atau Pak Wawan baik hati yang sering mengantarkan pulang para karyawan yang lembur. Kali itu, saya bersama dengan dua rekan kerja diantar pulang oleh Pak Amin.  Sebelumnya saya sudah pernah diantar pulang juga barengan dengan rekan kerja saya yang itu juga. Satu hal yang kemudian saya sadari, seringkali dalam suatu perjalanan, saya kurang memperhatikan jalan mana yang harus dilalui untuk sampai ke tempat yang dituju. Saya seratus persen percaya kepada Pak Amin atau Pak Wawan yang sudah terbiasa mengantar bahwa kami pasti nyampe gak pake nyasar.

Pola inilah yang selama ini berlaku buat siapa saja teman yang sedang jalan bareng saya. Ketika saya percaya bahwa dia lebih tahu jalan dibandingkan saya, biasanya saya lebih menikmati perjalanan dengan tidak kuatir tentang jalan mana yang harus dilalui ataupun rasa pusing karena nyasar.

Kisah ini kembali mengingatkan saya akan perjalanan hidup saya sendiri. Ketika saya berjalan bersamaNya, seharusnya tidak ada yang perlu saya kuatirkan.  Saya percaya di ujung jalan sana, tempat tujuan yang Ia pimpin adalah tempat yang Ia inginkan agar saya menjadi murid yang serupa dengan Kristus , bukan serupa dengan dunia.  Tidak  mudah memang, tapi itu akan menjadi kisah perjalanan yang hebat dari Pencipta dan Tuhan yang hebat pula😉

2 thoughts on “Teman Jalan

  1. […] Begitulah hidup, terkadang kita merasa sedang mengalami masa yang terkesan ‘lambat’, tapi saia percaya ada maksud di balik itu semua. Pembentukan karakter, atau mungkin sesuatu lain  Sekarang mungkin kita tidak tahu-menahu ataupun merasa hal itu tidak berguna, tapi suatu hari nanti  hal itu sendiri akan menjelaskan ke-ber-arti-an-nya, entah buat diri sendiri atau orang lain. Ya, ujung-ujungnya adalah seperti cerita saia di sini […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s