Nge-deso yuk

Merasa menjadi anak rumahan yang terkesan ansos (anti sosial) dan (anehnya) sedang ingin menghindari khalayak ramai, malas ke acara A dan B karena lebih senang dan nyaman melakukan ini itu di kosan hampir saja menguncangkan keinginan dan harapan saya jauh-jauh hari untuk ikut serta dalam kegiatan misi. Haha, syukurlah sabtu kemarin saya berhasil keluar dari zona nyaman😉 Entahlah apa yang berbeda dengan diri saya belakangan ini yang sepertinya agak berbeda dari yang dulunya mencari apa saja kegiatan yang bisa dilakukan di luar kosan menjadi anak betahan di kosan😛 Ya, skarang-skarang sih sesuai porsi dan kebutuhan saja, ada waktu melakukan ini itu dan ada waktu berdiam diri dan istirahat di kosan.

Perjalanan misi kali ini adalah desa T (inisial–> ceritanya seperti surat kabar yang tidak ingin memberi info detail). Saya adalah penikmat perjalanan. Ya mungkin menimbulkan suatu pemikiran yang berbeda dengan khalayak ramai, pengguna BB/semacamnya yang tak lepas dari BB/semacamnya meski mereka sedang dalam dunia nyata. Ingin rasanya berkata, “wooii, kalian sedang dalam dunia nyata, kenapa membiarkan waktu yang menyenangkan ini utk sesuatu dunia maya. Kalau mau autis berdunia maya ria, ntar saja di kosan pas sendirian >.<”  #notmention. Untungnya saya jarang bepergian dengan orang-orang beginian, bisa saya omelin ceramahin, wkwkwkwk😀

Sebutlah seorang Abang berinisial P yang mengendari mobil. Terlihat jelas si Abang P ini tidak terlalu mengetahui jalan ke desa sana, sehingga salah mengambil jalur di tol. Gyaaa…bila salah jalan di jalan biasa yang bisa langsung putar arah, berbeda halnya dengan jalan tol tidak ada cerita begituan. Anda harus tetap meneruskan perjalanan hingga keluar tol. Syukurlah keluar tol-nya tidak jauh hingga harus sampai Jakarta😛 wkwkwkwk… Dan meskipun banyak nyasarnya menuju desa T, saya tetap menikmati perjalanan ini dengan canda tawa dan gelengan kepala😀

Sesampainya di desa, kami bergabung dengan tim yang sudah bermisi di sana (bagian kesehatan & bimbel). Bercengkarama dengan warga desa menanyakan kabar ini dan itu–suatu hal yang sangat jarang dilakukan di kehidupan bermasyarakat skarang, terlebih di kota besar. Senang rasanya melihat ekspresi warga yang melakukan pemeriksaan dokter, berobat ataupun sekedar potong rambut gratis😀 Mungkin karena tingginya tekanan hidup, minimnya dana dan fasilitas yang ada serta lalainya abainya pihak yang seharusnya menjalankan pemerintahan untuk melayani masyarakat, banyak warga yang jarang merasakan ‘pelayanan publik‘. Smua butuh duit jaman skarang. Tidak punya duit, tidak ada pelayanan bagimu, warga miskin. Terkesan kasar memang, tapi beginilah yang terjadi di tanah airku, beginilah yang dirasakan oleh kawan sebangsaku😦

Misi ini masih jauh dari selesai, banyak hal yang perlu direncanakan dan diperjuangkan. Kaum terpelajar sangat dibutuhkan warga untuk membimbing mereka apa yang harus dilakukan. Banyak petani yang hanya tahu megang cangkul tapi tidak tahu ilmu dan strategi pertanian & pemasaran. Kitalah kaum terpelajar yang berkewajiban menolong mereka. Contoh kecilnya, semua lahan pertanian pasti butuh air (kata Pak Tani N), di musim kemarau hal ini menjadi sesuatu yang mustahil terlebih bila daerah tidak bersungai. Mau nanam apa pasti gagal. Mereka butuh air, kita bisa menyediakan sumur bor.  Saat panen sayur, buah, ternak, mereka tidak punya daerah pemasaran, kita bisa menolong mencarikan orang yang bisa menjual hasil panen mereka dengan harga yang sewajarnya. Saat butuh modal (masalah sangat klasik dan terbukti sangat dibutuhkan), kita bisa menolong dalam dana. Adalah hati penuh kasih terhadap sesamalah yang mendorong kita bisa melakukan ini itu dengan tulus dan tiada bersungut-sungut🙂

Sabtu, 24 Sept’11 , di depan sawah kering, di hembusan sepai-sepoi angin desa, ada tekad dalam hati untuk bisa berbuat terhadap sesama, ada keyakinan dalam hati sesuatu yang besar akan terjadi di desa ini. Seperti kutipan Angus Buchan, “Your the faith in God must be like potatoes. It must be real. You can feel it. You can smell it”.

Nge-deso yuk, sudah terlalu lama kita ansos dalam arti yang sesungguhnya, inilah saatnya keluar dari zona nyaman😉

**********

catatan tak kalah penting: akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri kalau kerbau berbeda dengan sapi :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s