Petualangan Ujian Diving

Ketakutan terbesar saya ketika naik kapal selain kapal terbalik atau tenggelam  adalah mabok laut! Yup, untuk urusan yang satu ini memang agak merepotkan hobi saya yang suka berpetualang mengaruhi lautan luas (halah!). Ceritanya di minggu lalu, saya mengikuti ujian nyelam (diving) di sekitaran Anyer (nyebarang pulau skitar 1 jam-an). Kala itu cuaca memang sedang tidak bersahabat. Musim hujan.

IMG_5476

Penyelaman pertama ini menegangkan karena saya sudah membayangkan untuk regulator-clearing melepas regulator (alat pernafasan di mulut) dan masker-clearing (masker kacamata + hidung). Bagian kedua ini sangat menakutkan jiwaraga saya. Menghadapi momen mencekam ini kakak saya pun tiba-tiba menciptakan kata bijak :p “Kalau harus dilalui, ngapain harus dilalui dengan panik!” Yup, kunci nya adalah jangan panik, sekalinya panik kita tidak akan bisa berpikir. Syukurlah penyelaman ini terlalui dengan baik🙂  Usai penyelaman pertama kapal kami pun diguyur hujan deras plus ombak kencang yang membuat saya mabok laut & muntah2😦 Penyelaman kedua pun saya terpaksa absen.

Esok nya, hari lebih cerah dan saya sudah antisipasi dengan antimo :p

Kapal, Instruktur dan Peralatan Diving

Kapal, Instruktur dan Peralatan Diving

 

Penyelaman ketiga berjalan lancar dan seruu! Saya ketemu dengan karang2, gerombolan ikan2 dan bintang laut. Hari ke-2 lebih dinikmati karena sudah tidak tegang menghadapi ujian. Kami pun kembali mengarungi lautan menuju suatu pulau, sekalian makan siang. Namun tiba-tiba ombak kencang pun melanda. Kapan seakan terguncang! Saya pun cepat2 tidur agar tidak muntah, sembari memanjatkan doa agar selamat sampai daratan. Beberapa menit ombak pun reda dan kami tiba di suatu pulau. Istirahat dan makan siang.

Usai istirahat kami melanjutkan perjalanan ke suatu spot penyelaman. Di penyelaman keempat ini bouyancy (keseimbangan) saya sedikit kacau dibanding sebelumnya. Mungkin karena kurang oke mengatur nafas. Memang agak sedikit gelisah, karena kekenyangan pengen bersendawa tapi agak takut melepas regulator😀

Usai penyelaman ini, usai pula-lah rangkaian ujian diving. Kami kembali ke kapal dan siap untuk berlabuh kembali ke Anyer. Namun, lagi2 lautan tak bersahabat. Ombaknya begitu dahsyat hingga kami terpaksa mendarat ke pulau terdekat sampai menunggu ombak lebih ‘reda’. Menunggu ini pun diisi dengan kegiatan masing2, ada yang memancing, berburu foto, duduk santai, dll.

IMG_5511

Ajeng & Ka Renny

 

IMG_5537

 

Mas Yo & Ka Gadis (Instruktur PADI)

Mas Yo & Ka Gadis (Instruktur PADI)

Sekitar sejam kemudian, kami pun dipanggil ke kapal. Pulang ke Anyer. Ombak sudah lebih tenang tampaknya. Saya pun mengambil posisi tidur (biar ga mabok :p).

Tiba-tiba saya terbangun karena goncangan ombak yang hampir saja membalikkan kapal kami. “Pegangan yang kuat!”, kata Pak Nahkoda. Dag dig dug! Lama sekali rasanya kapal ini sampai ke daratan. Percayalah saya sangat cinta daratan kala itu. Saya pun teringat akan cerita Isa Almasih saat kapalnya diterpa angin kencang. Dengan Firman yang keluar dari mulutNya, angin pun reda seketika. MahaKuasa! Saya manusia hanya bisa berserah kepada kedaulatanNya, hidup dan mati memang manusia gak bisa menentukan.

Disempetin Ngambil Foto di Tengah Ombak Dahsyat

Disempetin Ngambil Foto di Tengah Ombak Dahsyat

Seisi Kapal

Seisi Kapal

 

Kapal Tetangga

Kapal Tetangga

Mengambil foto di kala ombak ini sedikit banyak membantu mengatasi ketakutan saya. Saya menjadi teringat dengan sebuah lagu “It is well with my soul”, yang memang dibuat oleh seseorang yang selamat melewati badai di laut, namun kehilangan keluarganya. Suatu keteguhan hati di kondisi tsb dia masih bisa berkata, “Tenanglah Jiwaku“. Sungguh suatu pertolongan yang Tuhan anugrahkan kepadanya.

Pertolongan lain yang saya rasakan adalah keberadaan cahaya (saya kira mercu suar karena mirip, belakang baru keliatan bahwasanya pabrik yang mengeluarkan api). Pertolongan ini hadir dalam bentuk PENGHARAPAN. Yup, pengharapan bahwasanya sebentar lagi kami akan sampai daratan, meskipun untuk mencapai daratan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kapal kami harus melalui perhitungan ombak ke sekian agar tidak terbalik. Prinsipnya ombak ke sekian akan lebih kecil dibanding gelombang yang awal2.

Kembali dengan PENGHARAPAN. Kata ini begitu indah dan kuat maknanya bila kita menyadarinya. Dengan ini saya sepakat dengan orang yang berkata, “Jangan pernah hilang harapan”🙂

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s