Kilometer Nol

 

Milestone atau batu kilometer (indonesia menggunakan satuan kilometer bukan mil) bukanlah batu biasa. Tubuhnya bertuliskan singkatan kota dan angka petunjuk (dalam kilometer). Angka ini berubah di tiap kilometer dan menjadi acuan bagi pengemudi bahwa mereka masih berjalan di jalan yang seharusnya. Angka ini juga kerap memberi petunjuk mengenai berapa kilometer jarak yang telah mereka tempuh dari kota asal ataupun berapa kilometer jarak lagi yang harus ditempuh untuk mencapai kota tujuan.

Kini, suatu jalan yang mulai kujalani empat tahun yang lalu telah mencapai kilometer nol. Aku pun tiba di sebuah kota. Orang-orang menyebutnya Kota Alumni. Kota macam apa ini? Adakah rumah, jalan, taman, tempat bermain, tempat belajar dan pergaulan yang seindah dulu ketika aku masih di Kota Mahasiswa? Entahlah, rasaku masih belum bercampur dengannya. Mungkin karena saat ini aku masih memasuki gerbang kota itu dan  masih sedang menatap tulisan yang berkata: “Selamat datang di Kota Alumni.”

Tak dapat dipungkiri ucapan selamat datang itu mengingatkanku akan saat-saat di mana aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota Mahasiswa. Ah, berasa seperti hari kemaren saja melewati semua kisah itu ; kisah saat baru pertama kali menjadi mahasiswa, kisah saat bingung menentukan jurusan, kisah saat melalui masa-masa sibuk di perkuliahan juga unit/himpunan sampai kisah saat berjuang menyelesaikan Tugas Akhir. Semua kisah itu meninggalkan jejak kaki kecilku di Kota Mahasiswa, pun kisah-kisah lain yang bagiku terlalu manis untuk dilupakan—kisah pembelajaran di himpunan tercinta, kisah persahabatan dengan teman-teman seangkatan, kisah persaudaraan di KTB dan persekutuan, serta  kisah tak terlupakan saat menjadi panitia kamp (Kamp Kelompok Kecil dan Kamp Nasional Mahasiswa).

Aku bersyukur kepada Tuhan tiap kali mengenang kisah perjalananku di kota itu. Aku bertemu dengan Sosok yang luar biasa. Pertemuan itu banyak mengubahku dari sekedar ‘tahu’ menjadi ‘kenal’. Tahu dan kenal ternyata dua kata yang berbeda. Paulus menyebutnya: “bukan dengan kata orang saja aku tahu.”  Ya,bukan dengan kata orang saja, aku pun turut mengalaminya. Pengenalan akan Tuhan tak datang dengan sendirinya, tak pula datang langsung dalam paket utuh. Pengenalan itu datang dalam anugerah paket kecil dan sederhana yang dibungkus dengan kertas ‘ketaatan dan ucapan syukur’.

Lantas di manakah kutemukan berbagai anugerah paket pengenalan itu? Aku menemukannya di persekutuan, Kelompok Tumbuh Bersama (KTB), kepanitiaan demi kepanitiaan yang kuikuti, gereja, pergaulan dengan teman-teman sekitarku, setumpuk aktivitas di himpunan, dan juga keseharianku dalam menjalin hubungan pribadi denganNya. Bagiku pengenalan akan Kristus adalah hal terindah yang pernah kurasakan. Suatu anugerah pula bagiku bila aku dapat melayani Dia selama masih menjadi mahasiswa. Ya, pelayanan adalah anugerah, karena lewat itulah Dia mengajarku tentang banyak hal. Aku menikmati setiap pembelajaran dan pembentukan karakter yang boleh terjadi dalam hidupku, termasuk pandanganku tentang hidup—bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk oranglain, terlebih untuk Tuhan, Sang Pemberi kehidupan itu sendiri.

Ah, mungkin tak cukup beberapa halaman bila melukiskan semua kisah manis yang kurasakan.  Adik-adikku, perjalananmu masih jauh dari kilometer nol. Isilah perjalanan itu dengan hal-hal yang indah bersama Sang Penuntun Jalan Kebenaran.  Dia menunggumu dan ingin bertemu denganmu.

Live for the journey, not destination, because our lesson come from the journey, not the destination.

Melz,
Bandung
050810

#sebuah tulisan untuk buletin HYMNOS 😉

Selamat Harimu, Teman!

Buruh. Menurut kamus, ia berarti pekerja, orang upahan.  Bisa dikatakan orang yang bekerja untuk seseorang atau suatu lembaga/perusahaan. Sebagai imbalan, ia memperoleh upah berupa gaji.  Bila dibandingkan dengan arti kamusnya, buruh terasa memiliki arti yang lebih rendah dibanding pekerja.

Lantas saya memikirkan kata ini dalam bahasa dunia. Buruh berarti labor, bila dimaknai, labour memiliki arti benar-benar bekerja. Agak sedikit berbeda penekanan dengan worker, bila dimaknai work terasa lebih ringan–sekedar bekerja. Benarlah perbedaan yang terlukiskan oleh kedua kata ini –buruh (labor) dan pekerja (worker). Buruh biasanya bekerja di tingkatan bawah. Ia mengerjakan tugas yang keras atau kasar.

“Kawan, nasibmu sering dipandang sebelah mata. tapi, bagiku kau adalah pejuang kehidupan yang tangguh. selamat hari buruh
.”–status facebook seseorang :P. Pemilik status facebook inilah yang memberi informasi kalau-kalau hari ini adalah hari buruh. Gyaaa… (*ke mana aja mel?).

Membaca ini, saya langsung teringat akan ucapan seorang Ibu, “Tidak ada satu tugas yang lebih tinggi dari tugas lain.” Ya, masing-masing orang punya tugas tersendiri. Penyedia jasa bersih-bersih (cleaning service), misalnya. Bila tidak ada mereka, mahasiswa, dosen, pegawai kantoran tidak akan nyaman belajar atau bekerja di ruangan yang kotor dan berantakan,  pengguna jalan raya akan risih melihat jalanan/taman penuh sampah-sampah–entah sampah dedaunan ataupun sampah dari tangan-tangan jahil, penghuni rumah tak kan menjadi betah di rumah yang tak nyaman dan tak bersih, dan lain sebagainya.

Tidak mengganggap orang lain lebih rendah (merendahkan orang lain) adalah wejangan  Beliau yang akan senantiasa tertulis di benak saya.  “Apakah dengan menganggap diri sebagai orang berpendidikan dan bergelar membuat kita dapat merendahkan orang lain? Siapakah kita manusia, sehingga dapat berbuat demikian terhadap sesamanya? Hati-hati terhadap kesombongan! Wujud yang  tidak disukai oleh Tuhan.” ujarnya lagi.

Penulis Pramoedya Ananta Toer mengatakan pula, ” Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Ya, pemikiran ini jugalah yang saya rindukan terbersit dan terpendam di dalam benak dan hati para pengusaha–sebagai orang terpelajar–dalam memperlakukan pekerja-pekerja dan buruh-buruhnya.

Entahlah, saya merasa ada banyak nasib kaum buruh yang diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Lapangan pekerjaan yang  minim membuat nasib kaum buruh semakin terjepit dan lemah. Kecenderungan yang ada, hal ini dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk ‘menindas’ mereka.  Di sisi pengusaha, sebagai imbangnya, kaum buruh juga sebaiknya mengerti akan kondisi perusahaan. Bila nyata-nyata sedang berada dalam kesulitan,  seyogyanya tidak menuntut banyak.

Saya merindukan suasana kerja yang seimbang. Semua pihak merasa senang, tidak ada yang dirugikan–pengusaha , pekerja, buruh, dan pasar. Bukankah keadaan demikian adalah indah adanya?

Seyogyanya kita tidak serta merta hanya memikirkan keuntungan dan materi. Hidup ini  terlalu sia-sia bila hanya mengejar hal-hal duniawi.

Selamat  harimu, teman 😉

Melz
010510

/*

Gyaa… harusnya skrang nge-post tentang hari pendidikan yaa.. hhhehee… Semalam sepertinya ada gangguan internet di kosan saia hingga baru bisa nge-post sekarang 😉

Lagi-lagi saia terjebak menuliskan apa yang sedang ingin dituliskan daripada menuliskan sesuatu yang diminta (doh).
Tangan ini hanya sedang ingin menulis resah atas ketidakadilan kaum buruh meski  saat ini masih sebatas pendengaran, juga ingin menulis hal yang saya peroleh dari PA, dan terlebih ingin menulis  untuk teman-teman yang harinya sedang diperingati  😀

*/

Kisah Terabaikan, Kawan!

Kaum miskin, begitulah label yang terpaksa mereka kenakan dalam kesehariannya. Sebagian besar dari kaum ini telah menjadi pelengkap keramaian orang yang sedang bersantap makanan di warung-warung ataupun menjadi selingan yang terpaksa di dengar di perhentian lampu merah. Keberlangsungan hidup hari per hari digantungkan kepada belas kasihan tangan-tangan sang pemberi — yang hanya terhenyuk sesaat melihat kondisi mereka dan kemudian segera melupakannya usai makan dari warung-warung ataupun kala mobil atau motor sudah melaju dari lampu merah. Hunian kaum ini adalah jalanan atau rumah-rumah kumuh di kolong jembatan, di tepian rel kereta, atau bahkan di sekitar tempat pembuangan sampah. Hunian yang menjadi pilihan tanpa pilihan.

Menurut versi Badan Pusat Statistik terhitung sekitar 39,05 juta jiwa yang menyandang label kaum ini.Versi Bank Dunia bahkan mencapai 100 juta jiwa. Angka yang tidak sedikit bagi Indonesia,yang total penduduknya diperkirakan mencapai 231 juta jiwa pada Mei 2010 (perkiraan BPS). Bila dipetakan (versi Bank Dunia), hampir setengahnya berisi kaum miskin. Tidaklah heran bila kaum miskin sudah menjadi pemandangan yang biasa dilihat kasat mata. Saking biasanya terlihat, sampai-sampai mata hati telah menganggapnya sebagai kewajaran pula.

Di sekitar ITB -yang katanya kampus terbaik bangsa- pun tak terluput dari kaum miskin. Bila menyeberang dari jalan depan kampus, langsung ditemukan saudara kita yang kurang beruntung itu. Tak hanya nenek tua, ibu muda, bahkan sampai ke anak-anak yang usianya masih sangat belia menjadi peminta-minta. Bila makan di Gelap Nyawang (kantin dekat ITB) pun masih bertemu dengan mereka. Bila terhenti di lampu merah Simpang Dago ataupun Taman Sari (masih dekat ITB), tetap saja bertemu dengan mereka. Bahkan, tak jauh dari tempat kos juga masih bertemu dengan mereka. Sangat dekat dan sangat sering, wahai Kawan.

Pemerintah, masyarakat dan kaum intelektual tampaknya telah abai. Orang miskin dilarang sekolah –karena harus pergi ke jalanan demi sesuap nasi. Orang miskin dilarang sakit–karena tak ada biaya untuk berobat, bahkan ke Puskesmas sekalipun. Rantai kemiskinan telah menjadi jerat yang sulit diputuskan. Bagaimana tidak, orangtua tak mampu menyekolahkan sang anak. Sang anak yang tak mengenyam pendidikan tak punya pilihan selain mengikut orangtuanya. Tak hanya terjadi di satu keluarga, tapi di banyak keluarga. Di pedesaan berbeda ceritanya. Sekolah lanjutan sangat jarang dijumpai. Kalaupun ada jaraknya sangat jauh dari daerah kediaman. Tak cukup uang untuk ongkos. Biaya pendidikan yang masih dirasa mahal. Tak ada pilihan lain selain mengikut jejak orangtuanya. Bagi mereka, bersekolah hanya sebatas mimpi yang tak akan pernah terwujud.

Kebijakan para penguasa negara pun tak berpihak pada kaum miskin. Studi banding ke luar negeri tampaknya lebih ‘menyenangkan‘ dibanding langsung terjun ke lapangan yang sesungguhnya. Fasilitas mewah pejabat lebih ‘diperjuangkan‘ dibandingkan dengan nasib para kaum miskin. Perusahaan yang menetapkan syarat pada lapangan pekerjaan telah memupuskan harapan mereka untuk mengecap pekerjaan yang lebih layak, karena minimnya pendidikan dan keterampilan yang mereka miliki. Seleksi alam telah menjadi hukum rimba. Selayaknyalah pemerintah dan masyarakat bergerak bersama menolong saudara-saudara kita yang terjerat dalam jurang kemiskinan.

Tentulah ada cara yang dapat dilakukan. Hati yang peduli dan berbagi sepatutnya dimiliki. Kurangi belanja negara untuk hal-hal yang tidak perlu. Tindak tegas para koruptor. Uangnya anggarkan pada bantuan kepada kaum miskin. Tidak hanya memberi bantuan seperti Bantuan Langsung Tunai yang terkesan tidak mendidik. Belajar dari pepatah, “Beri kail bukan ikan“. Bila kail telah diberi, ajarkan cara memancing, niscaya dapat mencari ikan dengan sendirinya. Anak-anak jalanan diberi pendidikan yang layak dan keterampilan. Tak ada kata susah bila semua satu padu saling bekerja sama ke arah yang lebih baik. Kemiskinan tak akan beranjak dari kamus bangsa kita bila tak ada perjuangan untuk melepaskan jeratnya.

Hal ini juga pekerjaan rumah bagi kita, Kawan mahasiswa. Sekiranya Anda-Anda lulus dari kampus ini jangan pernah lupakan ataupun abaikan mereka. Mungkin Anda-Anda nantinya menjadi pemegang kebijakan negara ataupun perusahaan, dan lain sebagainya.  Ada satu kata , tak perlu banyak, PEDULILAH.  Pedulilah dengan mereka yang dengan susahnya mengumpulkan receh demi receh, sementara kita , ada yang dengan mudahnya menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu untuk hal yang tidak terlalu mendesak. Pedulilah dengan  mereka yang berjuang demi sesuap nasi,sementara kita, ada yang mudahnya meninggalkan makanan bersisa tanpa rasa bersalah.  Pedulilah dengan mereka yang tak seberuntung kita dapat mengenyam pendidikan, sementara kita , ada yang bermalas ria dan masih mengeluh untuk belajar.

Apa yang telah kita buat? Kita diciptakan untuk berbagi hidup dengan mereka.  Sekiranya tak menganggap ini sebagai angin lalu, yang ada hanya untuk sesaat saja dan kemudian melupakan. Peduli dan berbagilah. Banyak hal yang bisa Anda lakukan. Tak perlu terlalu hebat bila tidak sanggup. Hal-hal yang kecil saja, namun berguna. Itu sudah cukup. Mereka bukanlah adalah siapa-siapa. Mereka adalah saudara sebangsa. Kita berpijak pada tanah yang sama dan minum air yang sama di bumi pertiwi, Indonesia.

Hidup terlalu miskin bila mengatakan tidak untuk peduli dan berbagi, Kawan!

-dari berbagai sumber-

Melz

170310

Posisi Tidur

Pernah gak sih baru bangun tidur yang ada malah kepala terasa pusing? Huakaka… tadinya istirahat dengan tidur biar badan terasa fresh, tapi koq yang ada kepala pusing??

Hehe,, menurut suatu sumber (denger dari sejenis seminar kesehatan gt), posisi tidur dan kondisi bantal mempengaruhi metabolisme tubuh.
Pertama, soal bantal.. sebaiknya gak boleh pake bantal yang terlalu tinggi, ataupun kerendahan.. harusnya pas/sejajar ama letak leher saat tidur.. bantal tuh sebagai penyangga leher biar aliran darah ke kepala/ otak tetap lancar saat tidur.. apalagi kalo ketinggian, bisa2 aliran darah kehambat (gak lancar) dan efeknya saat bangun bukannya badan yang fresh yang dirasakan , tapi kepala pusing , badan pegel-pegel.. Ini disebabkan darah yang membawa nutrisi dan oksigen ke otak kurang lancar peredarannya.
Bisa dibanyangkan jika sel-sel dalam otak kekurangan nutrisi dan oksigen, bisa-bisa sel-sel tersebut mati.

Kedua tentang posisi tidur , sebaiknya :

1. Jangan terlalu sering dan kelamaan kalo serong kiri. Hal ini dapat mengganggu kinerja jantung, sebab posisi jantung yang letaknya lebih ke kiri.

2. Jangan biasakan tidur telengkup , huhu.. gw sering nih, tanpa sadar langsung rebah dalam posisi telengkup, apalagi kalo lagi kecapean, atau lagi pengen tidur bentar aja.. eh nyatanya mpe pagi, hehe :p
Oy,tidur telengkup gak baik karena bisa membuat jantung lebih lelah dalam memompa darah,alias bekerja ekstra.
Mungkin gara2 tekanan akibat telengkup, yah di mana-mana juga kalo ada tekanan yang ada malah kerja ekstra.. gak heran di beberapa orang justru kondisi terdesak malah lebih produktif, kayak progress tubes yang kalah jauh kalo baru2 dirilis dibanding ama mendekati deadline, hehe :p

3. Bahaya tidur TELENTANG,… bisa menyebabkan kematian.

Continue reading

Perhaps Love

Nh,, pas liburan semester kemaren tak sengaja saat baca sejenis album kenangan SMA adek saya,, terbaca pelajaran2 SMA, yang mungkin saat ini sudah terlupakan :p

Tentang pelajaran dan tentang cinta yg kamu pelajari dalam hidup,, demikian lah judul besar artikel yang satu ini….

Biologi

enzim-subsrat

enzim-subsrat

Cinta bagai enzim dengan substratnya. Harus pas dank lop. Kalo kamu jadi enzim, pasangan kamu jadi substratnya dech..Cinta bekerja secara spesifik karena cintamu memiliki kecocokan yang berbeda terhadap semua orang.

Kimia

Pelajari unsur-unsur cinta di bawah ini !

Pe = Pengertian

Cb = Cemburu

Sy = Sayang

P = Perhatian

Ct = Cinta

K = Ketulusan

e = emosi

REAKSI :

K+ + P+ + Sy2+ —-> Ct+ + Pe++ Cb

Ketulusan ditambah dengan perhatian dan sayang, akan menghasilkan cinta, pengertian, dan tidak mudah cemburu sama orang yang dicintai.

e + Pe —-> Sy2+

­

­Dalam menghadapi masalah dengan sang cinta, gak perlu emosi dan saling pengertian aja. Pasti deh jadi makin sayang..

Continue reading

Haruskah???

Gw yang terlalu idealis, atau emang gw yang gak habis pikir.. Haruskah ada perbedaan perlakuan yang begitu menyolok antar pejabat negara dengan rakyat biasa ?? Mw sedikit cerita tentang keadaan di daerah gw,gak tau juga apa di daerah anda2 juga demikian…

Nah jadi tuh beberapa minggu yang lalu, ada event yang namanya “Menanam sejuta pohon” di daerah Parapat (kira2 1 jam kalo dari siantar, my hometown) Jadi kalo dari Medan ke Parapat harus lewat siantar.. Gw gak liat langsung sih sebenarnya, tapi dengar dari cerita mama gw, ternyata tuh di jalan2 tertentu jalan udah disiapkan untuk rombongan polri yang mw lewat. Gak ada yang boleh lewat jalan ini, kayak ada batasan2 gitu ama polisi yang siap berjaga2.. Segitu nya kah perlakuan itu ?? Bukannya gw gak menepis ada aspek keamanan…

Nah yang kedua, gw denger lagi ntar bakalan ada Pesta Danau Toba , ama peresmian perpindahan kantor bupati Simalungun ke daerah yang namanya “Raya” (dulunya di Siantar,mugkin dipindahin gara2 siantar dah ada pemerintahan kotamadya nya sendiri… gak tau ding alasan pemindahannya…), balik lg,.. Jadi tuh katanya bpk Presiden bakalan dateng.

Untuk penyambutan atau apalah namanya itu (gw malah mikirnya gak terlalu urgent bpk Presiden ikutan), terjadilah pemolesan jalan di sana sini. Jalan (sekitar daerah ‘Tiga Balata’, 20 menitan dari siantar, berikut daerah2 lain menuju Parapat) yang udah rusak diperbaiki (baca: poles). Yang namanya juga polesan, pasti yang terpenting ‘cepet’ dan tidak terlalu memikirkan kualitas nya… Ya mbo… kalo dah jalan rusak yah wajib diperbaiki lah, kan gak harus menunggu ada pejabat yang mw dateng, toh juga rakyat butuh…

Kalo kayak gini, kapan pemimpin atau pejabat tahu keadaan rakyat yang sebenarnya?? Toh semua keliatan baik2 aja koq…Kenapa harus ada hal yang ditutup2 in, kapan mereka tahu kebutuhan rakyat???

Dibutuhkan pemimpin yang ‘melayani’ bukan ‘dilayani’ !!!

Menanggapi Film Fitna

Sentimen Sosial-politik yang direligiuskan.

Fitna yang sempat menjadi perbincangan hangat, setelah saya melihat film ini, sedikit terkejut (beda terkejutnya dengan magic David Copperfield pada postingan sebelumnya ).

Ingin menanggapi film Fitna (berdasarkan pemikiran saya dan artikel dan surat imaginatif yang ditujukan kepada si pembuat yang saya baca di warta gereja saya ) ;

Film pendek ini dibuat oleh politisi Belanda, Greet Wilders, pemimpin politik dari Partai Kebebasan yang menjadi anggota parlemen Belanda. Dari biografi Wilders diketahui bahwa ia mengupayakan pembatasan imigrasi terhadap pendatang dari dunia non-Barat ke Belanda, berupaya mencekal dan melarang Al-Quran beredar di Belanda dan banyak kali melancarkan kritik terhadap Islam.

Ia disebutkan telah menolak himbauan PM Belanda , Jan-Peter Balkenende untuk membatalkan penyiaran “Fitna”. Malahan ia menyebut Balkenende “pengecut professional yang menyerah kepada Islam”. Kali ini sasarannya jauh dari Nabi Muhammad, yakni Al-Qur’an sendiri. Wilders dalam wwancara dengan harian De Volkskrant menyebut Al-Qur’an sebagai “buku fasis” dan menyamakannya dengan buku Hitler, Mein Kampf. Beliau menikam setepatnya jantung keislaman, yakni Al-Qur’an.

Paparan point ;

  • Pandangan yang mendasari pembuatan “Fitna” berangkat dari pandangan politik. Mestinya bukan menjadi seorang yang tidak bisa ngebedain mana politik dan mana agama. Suatu pandangan politik tertentu yang diterapkan untuk menghantam dasar keagamaan, apapun agama itu, adalah sejajar dengan kebodohan menerapkan kimia kepada geografi, di mana yang akan dicapai hanyalah gambar peta yang semula bagus menjadi hangus oleh unsur kimia.
  • Pandangan kuno yang sudah tidak relevan dan keliru besar , yang melihat Islam maupun Kristen sebagai entitas utuh. Dalam Teologi pembaruan (Religionum) yang muncul dari pemikiran Protestan, dikuatkan Katolik Roma dan dishared Islam mainstream.

Setiap hari mata kita dapat melihat bagaimana agama-agama secara faktual tidak pernah merupakan suatu entitas utuh. Sebagaimana dalam politik ada faksi-faksi yang berbeda pandangan dan filosofi, begitulah juga yang terjadi dalam agama-agama. Dalam Kristiani ada banyak denominasi dari yang diperkirakan, begitu juga Islam ada begitu banyak faksi lebih dari yang diketahui.

Jadi yang bermasalah adalah dengan salah satu faksi Islam (teroris radikal), bukan keseluruhan Islam. Jadi ketika berniat menghantam kitab suci Islam sama seperti ingin membunuh sekelompok tikus dengan membakar seluruh lumbung, di mana lumbung tetangga ikut hangus dalam kebakaran tersebut.

  • Pembuat ”menelan” mentah-mentah umpan yang disediakan oleh musuh-usuh (teroris radikal) agar pembuat menjadi musuh Dunia Muslim.

Semakin kacau dunia ini dengan semua umat yang saling bermusuhan, makin menyenangkan dan kondusif untuk kelompok radikal ini.

Belajarlah hidup berdampingan dengan tetangga Muslim dalam damai sama sekali bukan karena alasan ketakutan dan kekuatiran, melainkan karena keyakinan iman bahwa setiap umat adalah ciptaan Tuhan merindukan hidup dalam damai sebagaimana diamanatkan Allah dalam agama masing-masing.

Dewasa ini kelihatannya Muslim radikal dan kelompok teroris menunjukkan ”kemarahan” kepada pembuat, tetapi sesungguhnya mereka ”berterimakasih” kepada pembuat yang ikut menyalakan kekuatan semangat mereka dan mendorong semakin banyak Muslim yang mainstream berpihak kepada teroris radikal.

  • Filosofi chaotic yang menjadi tujuan teroris , umat manusia keseluruhannya tidak pernah lepas dari hostilitas yang tiada habisnya dengan korban darah, nyawa dan rasa aman serta masa depan generasi mendatang.

Dengan menayangkan ”Fitna” sebenarnya pembuat memberi kontribusi yang besar kepada kelompok teroris. Membantu tanpa disadari.

  • Iman mendorong agar umat manusia hidup dalam kesatuan damai, saling mengasihi, saling mendukung.

Mereka yang merusak upaya itu mesti dihukum, bukan dibantu tanpa disadari.

Darkness cannot drive out darkness, only light can do that.

Hate cannot drive out hate, only love can do that.

Bagi teman-teman yang sudah sempat /belum/akan menonton film ini, berpikirlah secara rasional berdasarkan fakta dan latar belakang yang telah terjadi sebelumnya, bukan dengan emosi sesaat.

Kita hidup untuk saling mengasihi dan membantu, sebagaimana yang telah diamanatkan (agama apapun itu). Jangan mudah terpengaruh oleh apapun yang ingin memecah belah rasa toleransi antarumat beragama.

Alangkah indahnya hidup dalam damai, jadi kenapa harus ribut-ribut, kenapa harus ada korban yang jatuh ?? Mendingan energi yang dimiliki disalurkan untuk hal yang lebih berguna.

– salam damai –