Koq?

(*akhirnya baru sempat menuliskan tentang ini, frekuensi nge-blog berbanding terbalik dengan kesibukan kerjaan πŸ˜› )

Malam minggu kemaren, saya beserta DJ’ers makan malam di daerah Cisitu. Nama tempat makannya Sabar Menanti πŸ˜› Kabarnya tempat makan ini selalu ramai dan bila sudah ramai mau tidak mau harus sabar menanti hingga puluhan menit. Menurut anak kosan penghuni cisitu tahu tempe gorengnya enak, maka jadilah kami memutuskan makan di situ. Sesampainya di sana, saya pun refleks berkata: “koq sepi ya?” Hehe, ternyata kami datang di jam teraweh, pantas saja πŸ˜€

Esoknya, minggu siang, kami kulineran di suatu tempat di daerah Gempol, mencoba mie yamin dan roti bakar yang bahannya (mie dan roti) dibuat sendiri. Hmm, tempat ini saya rekomendasikan buat yang mau kulineran πŸ˜€ Oya, sesampainya di sana, pikiran saya otomatis berkata: “koq gak rame ya?” Lupa kalau itu hari puasa, pantes saja πŸ˜€

Nah, malam harinya, sewaktu perjalanan ke Lewi Panjang (saya lebih suka naik bus supaya tidak bergantung jam pulang), di suatu jalan bernama Otista, saya berkata: “koq rame banget ya, jadi macet”. Mungkin karena bulan puasa banyak yang berbuka dan jalan-jalan di malam hari, pantas saja πŸ˜€

Nah dari tiga kejadian di atas dan belakangan ini banyak pertanyaan koq/kenapa tertuju pada saya, saya pun menemukan satu kesamaan dengan kata koq. Koq istilah singkatnya kenapa, kerap terucap ketika suatu hal tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, ketika suatu hal tidak berjalan sebagaimana seharusnya, ketika ingin tahu ini itu, ketika sedang mencari akar permasalahan–biasanya diterapkan saat analisa sesuatu (baik di dunia kerjaan maupun sehari-hari), dan ketika-ketika lainnya.

Kesemuanya akan berujung jawab dengan ‘karena’.

Kalap dan Terbatas

Kali ini ingin bercerita tentang dua hal yang berbeda namun ada kesamaan objek. Dua-duanya terkait dengan buku πŸ˜€

Kalap
Astaga!! Ghuee udah berapa tahun di bandung dan baru ke Palasari Sabtu (6/8) kemaren, itu pun karena ada seseorang juga yang ke sana jadi bisa barengan. Udah lama dengar tempat jual/beli buku begituan, tapi tak pernah kesampaian menjejakkan kaki ke sana. Ke mana aja gw yak?

Di Palasari, Anda bisa mencari dan kalo ada bakal menemukan berbagai jenis buku yang Anda inginkan. Mulai dari buku komik, novel, biografi, politik, sastra, macem-macem, mulai dari tahun jadul sampai terkini. Awalnya hanya ingin melihat-lihat tempatnya kayak gimana dan ternyata awal tidak sama dengan akhir, karena akhirnya saya kalap beli buku, gyaaaa..

Kesan saya terhadap tempat ini, entahlah mungkin beda orang beda kesenangan, di tempat ini ada interaksi yang tidak saya jumpai di toko buku modern (dan ada tawar-menawar tentu saja :P). Berikut sepenggal cerita di toko-toko yang sempat saya singgahi.

Di suatu toko (TKP ke-kalap-an saya) karena melihat novel 2 (sudah masuk list yang akan dibeli) tertumpuk paling atas di suatu tumpukan, saya pun menanyakan harga ke si Bapak 1 (ada 2 orang Bapak di situ): “ini bukunya berapaan Pak?” Sekian-sekian tp dikurangi bisa jadi sekianx-sekianx (*sekianx supaya beda dengan variabel pertama *supergakpenting*). WOw, dalam hati saya berkata, lebih murah dibanding di ******** πŸ˜€
Di bawah buku itu ada buku 5cm, dan si Bapak 1 berkata,”ini bagus juga Neng bukunya”. Saya pun tersenyum dan berkata,”Bapak udah baca? Saya lagi baca sh Pak.” Bapak 1 membalas, “ada tulisannya sh Neng, best seller, biasanya kalo ditulis begituan bagus, hehe” Dalam hati saya tertawa geli ngeliat Bapak 1, begitupun dengan Bapak 2 yang menawarkan buku Dunia Sophie,Sang Alkemis,dll nya, dan ketika saya tanya Bapak udah pernah baca, dia pun menjawab banyak yang laku, Neng. Polos banget yak πŸ˜€

Karena keramahan dan kekalapan beli buku pun akhirnya merogoh isi dompet. Ndak apa-apalah gak ada ruginya beli buku, bisa bikin perpus ntar dan bisa dibaca banyak orang, hehe.. *pembelaan diri setelah menyadari cukup banyak ternyata pengeluaran bulan ini untuk buku saja* Artinya penghematan akan dilakukan dari anggaran lain πŸ˜›

Di toko lain, buku Evolution of the Earth menarik perhatian teman saya dan kemudian dia pun membuka buku yang ternyata penuh debu itu. Di halaman awal ada kalimat yang menarik perhatian saya, kira-kira begini tulisannya:

Dear future student,
Read this book, go to your the class, ask your prof, don’t stop learning, and after you finished the lecture, read Genesis 1 and trust it.

Gyahahaha, mana bukunya tebal banget bisa dijadikan bantal, dan pada akhirnya disuruh baca Genesis 1 πŸ˜€

Dan toko ketiga yang saya ceritain ini karena di toko ini sgala macam bahasa ada πŸ˜€ Yah mungkin gak lengkap juga, tapi si Bapaknya adalah pencinta buku, sudah belasan tahun jual buku dan tetap mencintai buku. Saluut!! πŸ˜€

Terbatas
Usai dari Palasari dan makan siang, tujuan berikutnya adalah Kalam Hidup untuk membeli beberapa buku yang tidak ada di Karawaci. Teman saya yang tadi karena ada rapat tidak ikut ke sini dan menitipkan buku yang berjudul Pujian dan Penyembahan oleh Graham Kedrick (*Kalo ndak salah). Stelah ngelilingi dan buku yang saya cari juga ndak ada, saya pun menanyakan ke Bapak yang bertugas, “Pak ada buku Pujian dan Penyembahan karya Graham Kedrick gak, Pak?” Dan setelah ia mencari dengan aplikasi pencarian di komputernya, si Bapaknya pun berkata, “Haduh, maap dek. Bukunya udah gak ada lagi, denger-denger juga udah gak diterbitin lagi, penerbitnya udah gulung tikar”

Mendengar ini satu kata yang terlintas di benak saya: “TERBATAS!!” Ternyata ini yang dinamakan edisi terbatas yak. Ngerasa sayang aja sih ada banyak buku bagus yang sudah tidak dicetak lagi karena satu dan lain hal.

Ya, makanya kalau memang dirasa penting/berharga sok manfaatin waktu dan kesempatan yang ada, karena kita gak tahu kapan suatu hal itu sudah tidak tersedia / available lagi.