Menjadi guru privat

Oke, begini ceritanya. Saya suka jalan-jalan. Punya mimpi keliling indonesia. Karena tidak ada makan siang, penginapan dan transportasi gratis di jaman skarang, saya pun berpikir untuk membuat /mengerjakan usaha tambahan di luar dari kerjaan utama. Kenapa? Supaya tidak diomelin nyokap, karena diduga tidak menabung (doh). Yaah begitulah ada sejurang pemisah antara pola keuangan saya dengan nyokap. Atas nama penghormatan namun kekeuh dengan impian inilah awalnya yang mendorong saya mengatakan iya ketika ditawarkan untuk mengajar privat ke anak rekan kerja. Lumayan sh jam nya masih cocok. Dari jam 6-7. Yaaa setelah pulang kantor lah, mampir bentar krna dekat dengan kantor. 2 kali seminggu, paling intens kalau ulangan. Bebas sabtu minggu. Itu catatan di awal.

Besok adalah hari pertama saya mengajar. Huaaaaaa… Kebayang gak sh? Anak yang bakal di ajar itu masih kelas 4 sd, usia kami terpaut sekitar 14 tahuuuuun. Deg-degan, lebih tepatnya bingung sendiri kenapa saya menerima tawaran ini setelah bertemu anaknya (dan baru diakui emang kebanyakan anak) masih senang maiin, mata duitan (so sorry), dan manjaa gak ketulungan. Astagah. Saya kira di awal anaknya menyenangkan untuk diajari… Semogaaa yaaa… Ada yang bisa ngasi tips? :p

Terlepas dari hal-hal yang telah saya sebutkan sebelumnya, saya kemudian menyadari bahwa memang mengajar tidaklah segampang yang dipikirkan. Terlebih anak kecil yang belum punya pikiran jelas pelajaran dari sekolah gunanya buat apa dan terjebak dalam dunia nilai dan hapalan. Saya merasa tertantang tak hanya sebatas memberi ‘cara’ belajar yang benar  (bukan semata-mata untuk nilai) dan bisa belajar mandiri di kemudian hari, tapi juga mendidik dia dalam hal karakter untuk lebih baik dari sekarang dan menceritakan kisah Alkitab 🙂  

Sanggupkah saya? Doain yaaa. Seperti Amsal 1:7 berkata takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan 🙂 Immanuel…