Berkunjung ke Taman Alam Tidur

Saya bukanlah orang yang sering mimpi kala tidur.  Tapi beberapa hari belakangan ini, saya sering mimpi. Kebanyakan sih mimpi aneh, haha :D. Kata orang, mimpi itu bunga tidur. Wew, brarti belakangan hari ini saya sering berkunjung ke taman alam tidur  dan melihat banyak bunga di sana , haha :P. Kebanyakan bunga yang saya lihat melukiskan apa yang sedang saya pikirkan dan rasakan.

Seperti halnya dua hari yang lalu. Saya bergadang demi si dua huruf (*TA). Last-week- panic-mood telah menjadi kekuatan tersendiri, haha:D. Sumpek di depan laptop, saya pun berniat guling-guling sejenak sembari  memikirkan mengapa kodingan modul–sebut saja modul X– belum berhasil juga. Detik-detik pun berjalan hingga akhirnya saya ketiduran dan mimpi pun di mulai.

Saat sang surya telah membagikan sinar hangat dirinya dan jalanan ramai dengan bisingnya mobil-mobil, mata saya pun terbuka perlahan demi perlahan. Saya merasa sangat senang sekitar beberapa menit. Saya merasa TA saya sudah kelar 100%. Gyaaa… Sensasi menit-menit berikutnya menyadarkan saya kalau yang saya rasakan hanyalah sebuah mimpi (doh). Tampaknya hari itu saya berkunjung lagi ke taman alam tidur, ckckckck 😛

Lalu saya pun teringat akan kata-kata yang saya temukan di tumblr orang yang saya ikuti dan pernah saya re-blog juga. Bisa dilihat di sini (*sambil promosi tumblr :P)

MIMPI takkan pernah menjadi keNYATAAN bila tidak BANGUN dan BERJUANG mewujudkannya 😉

****

Berbicara soal mimpi dalam arti konotasi, saya punya mimpi keliling dunia,tapi sebelumnya keliling Indonesia dulu, hehe 😀 . Smoga saya diberi tiket perjalanan dari Yang Kuasa  (*sambil menyilangkan jari ) 😀

Advertisements

Bakar Perahu

Bakar perahu. Istilah yang ternyata mengandung nilai sejarah ini sayangnya tidaklah saya jumpai di waktu dulu di bangku sekolahan. Untuk pertama kalinya istilah ini saya dengar dari Kang Iqbal (Ketua Himpunan HMIF 2007-2008) di suatu rapat DE– kala itu sedang membahas permasalahan di HMIF.

Dikisahkan seorang jenderal perang ingin menaklukkan suatu pulau. Ia hanya membawa anak buah sejumlah 300 orang karena sejauh kabar yang ia dengar dari mata-mata, tentara yang sedang berada di pulau tersebut hanya 500 orang.  Ketika perahu-perahu hampir  sampai  di pulau tersebut, alangkah terkejutnya ia. Begitu pula yang dirasakan anak-anak buahnya.  Mata-mata mengabarkan kepadanya bahwa jumlah tentara di pulau itu ternyata berjumlah 1500 orang. Tiga kali lipat dari jumlah mereka.

Menjadi gentar adalah hal yang wajar bagi anak buah sang jenderal. Apa yang harus dilakukan? Benak sang jenderal pun timbul berbagai pertimbangan. Menyerah menjadi hal yang konyol baginya. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap menyerang pulau. Ia tetap yakin bisa menang. Lantas bagaimana dengan anak-anak buahnya? Sebagian dari mereka berhasil diberi semangat dan diyakinkan mampu meraih kemenangan. Sebagian masih ragu-ragu, namun sang jenderal tetap memberi semangat.

Perahu pun semakin mendekati pulau, hingga akhirnya sang jenderal menyuruh pasukannya menyerang dan membakar perahu mereka. Kini tidak ada perahu untuk kembali. Mereka hanya punya pilihan untuk menang menaklukkan pulau tersebut. Melihat perahu telah dibakar, semangat para pasukan sang jenderal pun ikut terbakar.  Di sinilah letak kekuatan mereka—kebersamaan dalam semangat,keyakinan mampu menang, dan ketiadaan pilihan lain (menang atau menang).

Tentulah bukan perjuangan yang mudah, namun akhir dari kisah ini berbuah manis. Sang jenderal dan anak-anak buahnya menang dan berhasil menaklukkan pulau tersebut  😉 Menurut saya kisah ini adalah kisah yang menginspirasi. Tak lain tak bukan, sang jenderal perang tersebut adalah Napoleon Bonaparte,  Jenderal Perang yang hebat yang pernah dimiliki oleh Prancis.

Kira-kira seminggu yang lalu ketika saya mendapat kartu ‘kesempatan’ yang berbunyi : “maju satu langkah”,  saya tiba-tiba teringat akan cerita ini. Kini  tak punya pilihan lain selain berjuang  untuk terus melangkah. Memang perjuangan tidaklah mudah. Tapi saya percaya tiap perjuangan yang jujur dan dilakukan dengan sebaik-baiknya akan berbuah manis 😉 Serta tak lupa juga untuk tetap berserah kepada Dia, sumber segala hikmat.

Perahu telah dibakar, kini tiada lagi alasan untuk mengibarkan bendera putih.


Melz
040510

—————-

Lewat ini saya ingin memberi smangat dan salam perjuangan buat teman-teman IF yang seminar 2, teman-temen lain yang juga seminar ataupun yang sidang, dan urusan lain-lainnya sesuai pergumulan masing-masing, hehe  :D.

Alice (not just) in Wonderland

Peringatan dini!

Kesalahan judul bukan terletak pada mata Anda, melainkan memang sengaja dituliskan demikian oleh saya, dengan alasan yang akan dijelaskan kemudian 😛 . Haha..

Alice’s Adventures in Wonderland (1865) -yang kemudian lebih dikenal dengan singkatan Alice in Wonderland – merupakan novel terkemuka karya pengarang Inggris, Charles Lutwidge Dodgson atau yang lebih dikenal dengan ‘Lewis caroll’. Novel ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama ‘Alice’ yang berjelajah/ berpetualang di dunia fantasi.

Menarik, melihat latarbelakang dari penulisan novel ini yang terinspirasi dari teman-temannya (salah satunya bernama Alice Pleasance Liddell) dan keluarganya, serta lokasi tempat Caroll saat itu berada.

Daya khayal Caroll (yang adalah ahli matematika) dipadukan dengan logika matematika (yang terselip di beberapa chapter) dan disisipi aspek sejarah (dengan simbol-simbol tersembunyi antara perseteruan ‘Red Roses’ sebagai simbol dari English House of Lancaster dan ‘white Roses’ simbol dari House of York ) membuat novel ini digemari tak hanya oleh anak-anak tapi juga orang dewasa.

Buku ini kemudian menginspirasi tokoh-tokoh perfilman dan pertelevisian, hingga pada tahun 1903 untuk pertama kalinya Alice in Wonderland hadir dalam bentuk film, meski pada saat itu teknologi perfilman masih belum mengenal audio. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, film ini terus menerus diluncurkan. 1903,1910,1915,1931,1933,1949,1951,1966,1972,1976,1981,1983,1985,1986,1988,1999. Bermacam-macam,mulai dari film bisu, animasi, musikal, serial TV hingga akan datang dalam bentuk 3D. Diluncurkan pada tahun ini, Maret 2010.

Disutradarai oleh Tim Burton, Mia Wasikowska sebagai Alice,  Johnny Depp sebagai The Mad Hatter, Helena Bonham Carter sebagai The Red Queen, Anne Hathaway sebagai The  White Queen, dan Crispin Glover as The Knave of Hearts.

(*jadi ga sabar pengen nonton, hehe).

Alice, ternyata bukan saja menjadi tokoh utama dalam pernovelan, tetapi juga di dunia kriptografi. Kriptografi merupakan ilmu dan seni menjaga keamanan pesan (Bruce Schneider). Yang pernah mengambil matakuliah kriptografi dan yang berkecimpung dengan kriptografi tentu tidak asing lagi dengan nama Alice. Demikian juga dengan saya, meski belum mengambil matakuliah ini, namun Tugas Akhir saya yang bertopikkan kriptografi memaksa saya berkenalan dengan Alice. Alice sering dijadikan nama orang dalam penjelasan aspek/metode/protokol kripto, yang untuk sekarang ini dan kemudian akan banyak saya singgung di Tugas Akhir saya.

Saya akan mencoba menceritakan dengan singkat mengenai Tugas Akhir saya. Mohon maap bila sehabis membaca ini kepala terasa puyeng dengan istilah-istilah aneh 😛

Alkisah, Alice memilih dalam suatu pemilihan umum suatu kandidat. Bagaimana caranya meyakinkannya atau membuktikan bahwa pilihan Alice tercatat dengan benar pada mesin penghitung, juga bagaimana membuktikan bahwa penjumlahan keseluruhan suara adalah benar.  Suara Alice harus tidak dapat dimanipulasi oleh pihak lain.

Ada dua proses kriptografi yang digunakan, yaitu bagaimana Alice mem-verifikasikan suaranya ter-enkripsikan dengan benar dan bagaimana menghitung seluruh suara-suara yang ter-enkripsi.

(*enkripsi : proses menyandikan pesan asli menjadi pesan yang tidak dapat dimengerti maknanya oleh pihak lain. dekripsi : kebalikan enkripsi, mengembalikan pesan yang terenkripsi menjadi pesan asli)

Hasil dekripsi dari perkalian pesan-pesan yang dienkripsi akan menghasilkan jumlah chiperteks yang terkait. Sifat ini dikenal dengan homomorfik adiktif persamaan El Gamal yang terdapat pada salah satu langkah Paillier Cryptosystem. Dengan adanya sifat ini, mempermudah penggunaan kripto pada electronic voting.

Selain keamanan dan itegritas data pada electronic voting, ada isu lain yang perlu diperhatikan, yaitu kerahasiaan pemilih. Sistem pada electronic voting harus menjamin kerahasiaan pemilih, harus tidak dapat ditelusuri siapa memilih siapa. Untuk menyamarkan siapa yang dipilih oleh pemilih digunakan Paillier Cryptosystem (yang telah dikemukakan sebelumnya). Untuk menyamarkan keberadaan pemilih, maka digunakanlah Dining Cryptographer Protocol yang dikemukakan oleh David Chaum.

Contoh yang digunakan Chaum dalam menjelaskan permasalahan jamuan makan malam para kriptografer  (Dining Cryptographer Protocol) adalah sebagai berikut:

Tiga orang kriptografer sedang berada pada jamuan makan malam di restoran berbintang tiga kesukaan mereka. Pelayan kemudian memberitahu mereka kalau makanan mereka telah dibayar sebelumnya oleh seseorang yang tidak ingin diketahui. Salah satu kriptografer memiliki kemungkinan membayar makan malam tersebut, atau kemungkinan lain si pembayar adalah agen keamanan Amerika (U.S.National Security Agency / NSA). Ketiga kriptografer menghormati embayar yang tidak ingin diketahui tersebut, tapi mereka meragukan apakah NSA yang membayar.

Kemudian, merekapun menyelesaikan ketidakpastian mereka dengan cara yang adil melalui protokol berikut ini :

Continue reading