STahun

Another year  has gone by dari Celine Dion terputar secara random dan menemani saia nge-blog soal setahun yang  telah berlalu 😀 Gak kerasa, 1 November lalu stahun sudah menjadi warga kota Karawaci, Tangerang. Memang belum banyak daerah yang terjelajahi, kapan-kapan pengen juga berpetualang di kota ini, hehe 😀  Layaknya ulangtahun dan peringatan tahunan lainnya, saia pikir momen satu tahun adalah momen tepat untuk diingat karena tak terlalu singkat pula tak terlalu lama untuk membandingkan suatu keadaan. Yup, setahun ini banyak suka duka yang dialami. Eh salah ya harusnya ini disimpan untuk tahun baruan, nanti 😛

Aku mengucap syukur untuk perjalanan satu tahun di dunia nyata. Tuhan telah menolong dan ke depannya pun saia percaya Ia akan senantiasa menolong dan memimpin. Saia hanya perlu taat dan setia 🙂

Workspace

Personel KTB Alumni, mean a lot to me 😉

Trust in The Lord with all your heart and lean not on your understanding

Memories To Remember (part 1)

Okay, here’s the memories to remember,happy-holiday edition :P. It’s been a very long time since november last year didn’t I fell what it’s called long happy holidays, wkwkwk.  Thanks God for 9 days of holidays, though truly mine doesn’t count that much. The stories begin, i split into four part since there a little bit diffrent of  purpose at each post and people get involved 😀

Part 1

I did extra work at my company, hehe. The idea came by offering. My consideration about deadline and resource got involved doing that work is not that much, thinking of 9 days is really long holiday for me 😛 and I wanted to learn something new, as my wish-list-to-do for holidays that I planned before  : learn something new, cook new recipe, reading books, watching movies and having trip to nice place, so I  decided to take that offering but just 3 days (saturday till monday), not more. Long holidays is only happens in ied moment, right? 😀

My extra work didn’t relate to my main job actually, but here is the thing I wanna tell you. I learn to use other’s shoes so that I could feel what she/he feel, in what point was the pain point so that my partner and I  could help people work as painless as possible in the right process 😀

I remembered what actually what my Savior did. He took the fall, and thought of you and me. He felt what man felt, even worse, crucified at the cross, for what? For saving sinner, you and me from the death. And I think about the important one, He came so that when we feel sad, happy, having big load, betrayed, sick, hungry, thirsty, sleepy, etc, He could understand. He hasn’t been like king that live in comfortable palace that may be even not having experience/knowledge about being the man in the street.  The other way,  He ever been there, once again even worse.

Use other's shoes

3 days, felt tired but grateful 🙂 Gain learning new things and the incentive that exactly enough for my trip at Kepulauan Seribu.. I’m gonna tell you later, in part 3. See you.. haha 😀

Desktop Background

Pagi-pagi sudah dikejutkan oleh ucapan “The day has come” oleh Steve Jobs. Gyaaa, belum sempat punya produk beliau saat masih menjadi CEO. Oke, mungkin nanti (kalo ingat dan sempat sebelum menjadi basi) akan nge-blog soal ini.

Barusan, sebenarnya masih ingin menyelesaikan pekerjaan sebelum balik kosan, tapi setelah dipikir-pikir mungkin masih lama, jadi diteruskan besok pagi saja. Sewaktu menutup beberapa jendela (window) muncul gambar ini yang sengaja saya pasang sebagai Desktop Background. Light House– nya windows.

Suka ngeliat mercu suar dan batu karang di saat bersamaan. Mercu suar telah menjadi penerang bagi kapal-kapal di tengah laut, pula menjadi harapan bagi para pelaut kalau-kalau sekitar mereka masih ada daratan. Di karawaci, hanya ada beberapa bangunan tinggi, dan bangunan tinggi itu dekat dengan kosan saya hingga kerap bangunan tinggi itu menjadi patokan bagi saya entah di manapun saya nyasar, masih ada patokan yang bisa saya lihat. Sebuah harapan di tengah kecemasan 😛

Tak jauh dari mercu suar terlihat batu karang yang tetap teguh di tengah hempasan maupun amukan ombak. Ada dua tokoh yang saya ingat tiap kali mendengar atau melihat batu karang. Petrus dan Yesus. Petrus, kala Yesus berkata kepada Petrus bahwa nantinya di atas batu karang Ia akan membangun jemaatnya (arti nama Petrus sendiri adalah batu karang). Dan benar adanya gereja mula-mula dibentuk oleh pelayanan Petrus 🙂 Daaan Yesus sendiri adalah Batu Karang yang teguh, tempatku berteduh. Seperti lirik dari Kidung Jemaat 37 A…

  1. Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh.
    Kar’na dosaku berat dan kuasanya menyesak,
    oh, bersihkan diriku oleh darah lambungMu.
  2. Walau aku berjerih dan menangis tak henti
    apapun usahaku, tak menghapus dosaku.
    Hanya oleh kurbanMu Kaus’lamatkan diriku.
  3. Tiada lain kupegang, hanya salib dan iman;
    dalam kehampaanku kudambakan rahmatMu.
    Tanpa Dikau, Tuhanku, takkan hidup jiwaku.
  4. Bila tiba saatnya kutinggalkan dunia
    dan Kaupanggil diriku ke hadapan takhtaMu,
    Batu Karang yang teguh, Kau tempatku berteduh.
Sebuah kedamain pengantar pulang menuju kosan 🙂

Tiga Dimensi

Tadi siang, aku makan bersama seorang rekan. Sebuah percakapan yang berhasil membawaku kepada tiga dimensi waktu. Masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

L : Kenapa dulu milih IF, mel?
M : (cerita panjang lebar, nostalgia jaman SMA 😛 )
L : Sampai kapan Mel bakal di VN?
M : (….. –> disertai alasan kenapa sampai waktu itu dan rencana masa depan )
L : (*pertanyaan ttg masa depan)
M : (cerita panjang, lebar, luas dan keliling ttg keinginan dan harapan di masa depan XD )

Daku pun smakin merasakan bahwa perjalanan hidup ini tak lebih dari sebuah perjalanan jarak, waktu dan iman.

 

Batu-pasir-kopi

Ilustrasi batu-pasir ini pernah  kami (DJ’ers)  bahas sewaktu membicarakan tentang waktu dan prioritas. Ya, hampir miriplah dengan penggalan cerita di atas, hanya dengan tambahan ‘kejutan’ tentang kopi. Terus terang aku senang membaca bagian akhir yang mengatakan “sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat 🙂

Memasuki paruh tahun berkecimpung di dunia kerja, aku semakin menyadari apa saja batu-pasir-dan-kopi yang tiap harinya terisi dalam toplesku kehidupanku.  Salah satu batu bagiku adalah relasi yang dekat dengan Allah, dengan demikian pekerjaan yang pula adalah batu dapat kupahami sebagai dua poin–suatu anugerah dan adalah karya.

Cerita punya cerita, pergumulan untuk tetap menjaga relasi dekat dengan Allah adalah pergumulan klasik para alumni. Saat teduh, PA, disiplin rohani seperti doa syafaat, puasa,  KTB bawah dan samping, dll nya terkesan kalah dengan seabrek pekerjaan dan tubuh yang lelah.  Toples sudah penuh dan tidak cukup lagi diisi dengan hal-hal begituan. Benarkah?  Ataukah pasir-pasir yang justru mengisi ruang-ruang toples itu?

Syukur kepada Tuhan, diingatkan kembali mengenai hal ini saat persekutuan Paskah, PD di gereja, dan baru saja semalam lewat sharing seorang Sauu 🙂 Dan itu salah satu manfaat secangkir kopi bersama sahabat (*bukan harafiah 😛 ) bukan? 😀

**

I said to the Lord, You are my Lord; apart from You I have no good thing..

Teman Jalan

Yang pernah jalan bareng saya pasti tahu ‘kelemahan’ saya yang satu ini. Yap, spasial saya termasuk rendah, susah membayangkan letak suatu tempat yang baru atau jarang dikunjungi. Ujung-ujungnya sering salah arah–bahasa pasarannya ‘tukang nyasar’ (doh). Biasanya kalau sedang jalan sendiri, saya mengakalin dengan mengingat suatu patokan atau acuan. Kebanyakan sih lupa cara ke acuannya itu. Gyaaa…. Inilah sebabnya kalau jalan biasanya mengajak dan mengandalkan orang lain, hahaha.

Belakangan ini saya sering lembur dan pulang malam. Ada Pak Amin atau Pak Wawan baik hati yang sering mengantarkan pulang para karyawan yang lembur. Kali itu, saya bersama dengan dua rekan kerja diantar pulang oleh Pak Amin.  Sebelumnya saya sudah pernah diantar pulang juga barengan dengan rekan kerja saya yang itu juga. Satu hal yang kemudian saya sadari, seringkali dalam suatu perjalanan, saya kurang memperhatikan jalan mana yang harus dilalui untuk sampai ke tempat yang dituju. Saya seratus persen percaya kepada Pak Amin atau Pak Wawan yang sudah terbiasa mengantar bahwa kami pasti nyampe gak pake nyasar.

Pola inilah yang selama ini berlaku buat siapa saja teman yang sedang jalan bareng saya. Ketika saya percaya bahwa dia lebih tahu jalan dibandingkan saya, biasanya saya lebih menikmati perjalanan dengan tidak kuatir tentang jalan mana yang harus dilalui ataupun rasa pusing karena nyasar.

Kisah ini kembali mengingatkan saya akan perjalanan hidup saya sendiri. Ketika saya berjalan bersamaNya, seharusnya tidak ada yang perlu saya kuatirkan.  Saya percaya di ujung jalan sana, tempat tujuan yang Ia pimpin adalah tempat yang Ia inginkan agar saya menjadi murid yang serupa dengan Kristus , bukan serupa dengan dunia.  Tidak  mudah memang, tapi itu akan menjadi kisah perjalanan yang hebat dari Pencipta dan Tuhan yang hebat pula 😉