I <3 Jogja

20120507-232308.jpg

My first photo taken by instagram, hehe 😀 #norak.
The picture is about my sandal, bought in Malioboro, Jogjakarta. I forgot to bring casual sandal :p Oh ya, at that time, my bestfriends, my boyfriend and I were running away for short holiday. It was a nice backpacking impulsive trip, actually 😀

All what i’m going to say is, Jogjakarta and the city nearby is seriously great place to be spent at a holiday. Culinary-lover, checked, views or panorama-lover, checked, culture-lover, checked, history-lover, checked, aaand many more you can find.

Hope someday i can spend more days up there. I love jogja like what it’s written.
Nite all.. It’s time to bed.

Hi, Elmo…

Hi, Elmo!!! 🙂

Saia baru tau tadi siang kalo boneka merah (hadiah wisuda oleh seorang AKTB) yang sudah setahunan lebih duduk manis di kamar kosan saia bernama Elmo, tokohnya Sesame Street. Ada yang tau Sesame Street? Kata temen saia, dulu banget (pas masih jadi bocah di jaman SD) Sesame Street pernah ditayangkan di stasiun televisi. Hmmm.. koq berasa gak inget apa-apa ya tentang acara televisi amerika yang bernuansa pendidikan ini?

Entah saia ada di mana ya jaman itu,  yang saia  ingat tontonan pas jamannya SD cuman Scooby Doo, Satria Baja Hitam, Power Ranger, Doraemon, Sailor Moon, ADDA (*ada yg tahu pilem ini? hahaha..), Kera Sakti, Sinetron Noktah Merah Perkawinan (kalo ndak salah pemainnya Ayu Azhari 😛 ), Mr. Bean, Warkop DKI, Jin dan Jun, telenovela maupun pilem indiahe yang sering ditonton mama, wkwkwkwk… Tapi lebih mending dulu kali ya dibanding skarang tontonan mayoritas sinetron dan panggung sandiwara lainnya yang lebih bernilai komersil dibanding moral/pendidikan (doh).

Hi, Elmo 🙂

 

Some pages turned

As the days passed through, some pages turned, and there were lessons learned.

Kiss September goodbye, and still there’s so much to be thankful for. Let’s see what stories are written in the next pages. As Paulo Coelho said “If everything has been written down, so why worry?”. I think i have something to be written about worries during my last KTB session  “Materi dan Gaya Hidup (Money and Life Style)”,  wish i’ll catch you up on this subject later 😀

Welcome, October 😉

 

———————————

*image source from  here*

Terkenang

Baru saja melihat dua video unggahan wisuda juli kemaren dari seorang teman #if06, di tambah kumpulan foto masa kuliah (*tapi foto mahasiswa jepang) dari ega-galau 😛 yang sedang berjuang meraih gelar master dari negri sakura itu 😀  All that I said , what a nice and memorable moments, wasn’t it?

Ega-yang-lagi-galau juga menuliskan ini dalam group #if2006:

Pada akhirnya setiap tubes yg kita lewati itu (mengutip twitter seorang teman) kaya makan cabe super pedas. Pas makan, kepedesan dan ampun-ampun nggak mau makan lagi, tapi begitu udah beres makan (+udah lama), pengen lagi 😀 (Inas Luthfi mungkin bisa menjelaskan lebih detil soal makan cabe :P)

Tampak ada benernya juga 😛 Setahun lalu, sebelum sah menyandang gelas eS Teh, saya mengalami apa yang dinamakan graduation goggles (Graduation goggles is the nostalgic feeling one has about a time or someone in their life when it is about to end, even if the time was completely miserable). Ya, ada masa di mana kebersamaan itu terhenti karena masing-masing punya tujuan dan jalan yang berbeda. Ada yang lanjut sekolah, ada yang bekerja, ada yang membuat usaha sendiri, dan lain-lainnya. Saya sendiri memilih bekerja dulu dan bila diperkenankan ingin lanjut sekolah, tapi itu nanti dulu, masih ada tugas di sini yang harus diselesaikan, hehe.

Pada akhirnya, saya merasakan tiap fase kehidupan, pasti selalu saja ada saja hal-hal yang harus dihadapi, diperjuangkan dan disyukuri. Dan Dia tahu karakter apa yang harus diubahkan, ditumbuhkan dan pula dikikis tepat pada fase kehidupan yang mana.

Grow up!! 🙂

Mars Kalam Kudus

Malam pengumuman SNMPTN ini mengingatkan saya pada almamater SMA (sebenarnya dari SD :P) “Perguruan Kristen Kalam Kudus”. Ada dua mars yang otomatis terputar dalam sanubari. Berikut kedua mars tersebut. Sebenarnya saya lupa ada berapa mars, kalau lebih dari dua, bagi yang masih ingat, mohon diberitahukan J)

Mars A..

Anak kalam kudus marilah puji nama Tuhan,

Tak berbeda bangsa dan kulit,

Sama skolah, sama main,

Mari bergandeng puji nama Tuhan..

Mars B..

Kalam Kudus akan tetap maju, mengiring Yesusku,

Kibarkan bendera bergerak maju, kalahkan musuhmu.

Maju, tetap maju, kabarkan injilnya,

Kabarkanlah injil Tuhan Yesus, di seluruh dunia..

**

Lupa judulnya, jadi dinamakan A dan B sahaja 😛

 

[updated]

Satu lagu lagi (diingatkan oleh kakak saya) yang dulu sering juga dinyanyikan dan pula dibukukan dalam buku kidung pujian siswa..

akulah seorang siswa aku punya tenaga aku punya sejuta cita2.. aku punya semangat aku banyak idea Tuhan pakailah itu semuanya.. O Tuhan inilah.anakMu yg remaja.yg muda.yg kecil Dan tak berarti ini..TAPI KU PUNYA SEMANGAT MEMBANGUN GENERASIKU UNTUK KEMULIAAN NAMA MU..
Wow, ternyata lagu-lagu yang dulunya sering dikumandangkan (dan mungkin dengan asal-asalan) memiliki makna yang luar biasa…

Surat via Pak Pos

Tadi siang untuk sesuatu hal, saya berkunjung ke situs ini. Tidak menyangka kalau pos indonesia sudah berumur sangat jauuh dengan saya, hehe 😛  sudah 265 tahun menyatukan nusantara. Apakah Anda masih ingat kapan terakhir kali pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat atau kapan terakhir kalinya rumah Anda didatangi oleh Pak Pos? 😀  Dulu sewaktu masih kecil, rumah masih sering didatangi oleh Pak Pos yang mengantarkan kiriman kartu natal tahun baru oleh rekan kerja bapak. Beranjak dewasa, tak ada lagi Pak Pos yang datang =)) Zaman sudah berbeda, teknologi lebih maju dan menekankan pada komunikasi lisan ataupun tulisan via telpon selular, surat elektronik, facebook, bbm, dllnya.

Ya, repot juga kali ya kalau masih pakai surat pos, selain waktu yang pake lama di jalan, informasi yang didapatkan sudah tidak yang paling baru lagi. Namun, ada dua  hal yang menarik bagi saya mengenai surat via Pak Pos. Pertama adalah tulisan tangan si pengirim 🙂 Bukankah bagian ini menjadi hilang seiring dengan kecanggihan teknologi? Ada berapa banyak orang-orang di sekitar Anda yang tulisan tangannya Anda kenali, tanpa mencantumkan nama penulisnya?  Hmm, saya (sayangnya) hanya mengenal sedikit tulisan tangan orang-orang.

Hal kedua adalah surat via Pak Pos itu alat komunikasi yang unik dan romantis 🙂 Unik karena saya besar di masa di mana orang-orang berkomunikasi singkat-singkat dan (memang) menuntut balasan yang cepat, haha.  Bila ingin cerita panjang lebar sudah ada fitur chatting di banyak alat komunikasi. Berbeda dengan surat yang entahlah menurut saya tak mungkin menulis surat dengan kata-kata singkat seperti mengirimkan pesan singkat 😛  Ada rasa di mana tulisan surat tsb menyatu dengan emosi penulis, seperti halnya surat cinta *iya gak sh* :)) Eh skarang udah gak jamannya lagi ya pakai surat cinta begituan? Hiks.. saya ndak pernah dapat, pengen. Wkwkwkwk 😛