Soli Deo Gloria

Di sekolah di panggil Paulus, di rumah di panggil Denggan. Yup, ‘denggan‘ berarti ‘baik‘ dalam Bahasa Batak. Nama lengkapnya Paulus Ari Na Denggan yang secara harafiah berarti Paulus Hari Yang Baik. Denggan (ikutan nyebut ini supaya lebih akrab 😛 ) masih duduk di kelas 2 sekolah dasar namun saia kagum akan anak ini dan keluarga yang mendidiknya. Denggan anak yang cerdas dan berpengetahuan luas. Jaman sekarang sudah jarang rasanya menemukan anak kecil yang (sangat) senang baca–yang kemudian saia yakini adalah hasil didikan keluarga. Hasil tabungannya digunakan untuk beli buku, bukan yang lain. Wow 🙂  Tak hanya dibekali buku, pengetahuan, Denggan juga dibekali Firman Tuhan sedari kecil ;). Ia hapal beberapa Firman dan pengakuan iman percaya.  Wow!

Denggan tinggal dengan Ompung (nenek) dan Kakeknya yang sengaja meminta anak ini untuk mengisi rumah mereka yang sepi. Hal yang wajar ketika smua anaknya sudah menikah dan membentuk keluarga sendiri. “Sampai kelas 6 di sini“, ujar Denggan dengan wajah sumringah.

Ibu C (inisial) dan Pak O (inisial) adalah pasangan suami istri yang terpanggil untuk tinggal di suatu desa.  Usai menikahkan seluruh anaknya, mereka bertekad untuk tidak tinggal di Ibu Kota dan pindah ke suatu desa antara Solo (asal Pak O) atau Sumut (asal Bu C), namun anak-anak mereka tidak mengizinkan. “Terlalu jauh. Hanya boleh sekitaran 1-2 jam perjalanan dari Jakarta“, demikian ujar anak mereka. Dan Bu C yang percaya tidak ada yang kebetulan pun akhirnya menetap di Desa CR (inisial).

Kami milih tinggal di desa untuk memperhatikan sesama, orang-orang desa yang masih perlu perhatian dan kasih.” ujar Bu C. Tak pernah terpikirkan oleh saia sebelumnya ternyata ada orang yang begini, hehe 😀 Benar adanya terpancar kasih dari mereka yang terlebih dahulu merasakan kasih yang dari Tuhan.

Bersyukur bisa ngobrol banyak hal dengan Pak O dan Bu C yang memancarkan kesederhanaan, kepedulian dan keteguhan iman di masa tua mereka. Trimakasih Pak, Bu, Kak, Denggan atas obrolan, jamuan makan siang nan maknyuus dan telah mengingatkan kembali untuk tetap konsisten baca buku! Hehe.. Senyum hangat pun menghiasi perpisahan sementara kami. Saia dan teman-teman alumni akan datang lagi dengan sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya.

Soli Deo Gloria!! 🙂

Advertisements

So let’s start giving

There comes a time
When we head a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
And it’s time to lend a hand to life 
The greatest gift of all 

We can’t go on
Pretending day by day
That someone, somewhere will soon make a change
We are all a part of 
God’s great big family 
And the truth, you know love is all we need 

We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day 
So let’s start giving 
There’s a choice we’re making
We’re saving our own lives
It’s true we’ll make a better day
Just you and me

Send them your heart
So they’ll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stone to bread 
So we all must lend a helping hand 

When you’re down and out
There seems no hope at all
But if you just believe
There’s no way we can fall
Well, well, well, well, let us realize
That a change will only come
When we stand together as one

We all need somebody that we can lean on
When you wake up look around and see that your dreams gone
When the earth quakes we’ll help you make it through the storm
When the floor breaks a magic carpet to stand on
We are the World united by love so strong
When the radio isn’t on you can hear the songs
A guided light on the dark road your walking on
A sign post to find the dreams you thought was gone
Someone to help you move the obstacles you stumbled on
Someone to help you rebuild after the rubble’s gone
We are the World connected by a common bond

Nge-deso yuk

Merasa menjadi anak rumahan yang terkesan ansos (anti sosial) dan (anehnya) sedang ingin menghindari khalayak ramai, malas ke acara A dan B karena lebih senang dan nyaman melakukan ini itu di kosan hampir saja menguncangkan keinginan dan harapan saya jauh-jauh hari untuk ikut serta dalam kegiatan misi. Haha, syukurlah sabtu kemarin saya berhasil keluar dari zona nyaman 😉 Entahlah apa yang berbeda dengan diri saya belakangan ini yang sepertinya agak berbeda dari yang dulunya mencari apa saja kegiatan yang bisa dilakukan di luar kosan menjadi anak betahan di kosan 😛 Ya, skarang-skarang sih sesuai porsi dan kebutuhan saja, ada waktu melakukan ini itu dan ada waktu berdiam diri dan istirahat di kosan.

Perjalanan misi kali ini adalah desa T (inisial–> ceritanya seperti surat kabar yang tidak ingin memberi info detail). Saya adalah penikmat perjalanan. Ya mungkin menimbulkan suatu pemikiran yang berbeda dengan khalayak ramai, pengguna BB/semacamnya yang tak lepas dari BB/semacamnya meski mereka sedang dalam dunia nyata. Ingin rasanya berkata, “wooii, kalian sedang dalam dunia nyata, kenapa membiarkan waktu yang menyenangkan ini utk sesuatu dunia maya. Kalau mau autis berdunia maya ria, ntar saja di kosan pas sendirian >.<”  #notmention. Untungnya saya jarang bepergian dengan orang-orang beginian, bisa saya omelin ceramahin, wkwkwkwk 😀

Sebutlah seorang Abang berinisial P yang mengendari mobil. Terlihat jelas si Abang P ini tidak terlalu mengetahui jalan ke desa sana, sehingga salah mengambil jalur di tol. Gyaaa…bila salah jalan di jalan biasa yang bisa langsung putar arah, berbeda halnya dengan jalan tol tidak ada cerita begituan. Anda harus tetap meneruskan perjalanan hingga keluar tol. Syukurlah keluar tol-nya tidak jauh hingga harus sampai Jakarta 😛 wkwkwkwk… Dan meskipun banyak nyasarnya menuju desa T, saya tetap menikmati perjalanan ini dengan canda tawa dan gelengan kepala 😀

Sesampainya di desa, kami bergabung dengan tim yang sudah bermisi di sana (bagian kesehatan & bimbel). Bercengkarama dengan warga desa menanyakan kabar ini dan itu–suatu hal yang sangat jarang dilakukan di kehidupan bermasyarakat skarang, terlebih di kota besar. Senang rasanya melihat ekspresi warga yang melakukan pemeriksaan dokter, berobat ataupun sekedar potong rambut gratis 😀 Mungkin karena tingginya tekanan hidup, minimnya dana dan fasilitas yang ada serta lalainya abainya pihak yang seharusnya menjalankan pemerintahan untuk melayani masyarakat, banyak warga yang jarang merasakan ‘pelayanan publik‘. Smua butuh duit jaman skarang. Tidak punya duit, tidak ada pelayanan bagimu, warga miskin. Terkesan kasar memang, tapi beginilah yang terjadi di tanah airku, beginilah yang dirasakan oleh kawan sebangsaku 😦

Misi ini masih jauh dari selesai, banyak hal yang perlu direncanakan dan diperjuangkan. Kaum terpelajar sangat dibutuhkan warga untuk membimbing mereka apa yang harus dilakukan. Banyak petani yang hanya tahu megang cangkul tapi tidak tahu ilmu dan strategi pertanian & pemasaran. Kitalah kaum terpelajar yang berkewajiban menolong mereka. Contoh kecilnya, semua lahan pertanian pasti butuh air (kata Pak Tani N), di musim kemarau hal ini menjadi sesuatu yang mustahil terlebih bila daerah tidak bersungai. Mau nanam apa pasti gagal. Mereka butuh air, kita bisa menyediakan sumur bor.  Saat panen sayur, buah, ternak, mereka tidak punya daerah pemasaran, kita bisa menolong mencarikan orang yang bisa menjual hasil panen mereka dengan harga yang sewajarnya. Saat butuh modal (masalah sangat klasik dan terbukti sangat dibutuhkan), kita bisa menolong dalam dana. Adalah hati penuh kasih terhadap sesamalah yang mendorong kita bisa melakukan ini itu dengan tulus dan tiada bersungut-sungut 🙂

Sabtu, 24 Sept’11 , di depan sawah kering, di hembusan sepai-sepoi angin desa, ada tekad dalam hati untuk bisa berbuat terhadap sesama, ada keyakinan dalam hati sesuatu yang besar akan terjadi di desa ini. Seperti kutipan Angus Buchan, “Your the faith in God must be like potatoes. It must be real. You can feel it. You can smell it”.

Nge-deso yuk, sudah terlalu lama kita ansos dalam arti yang sesungguhnya, inilah saatnya keluar dari zona nyaman 😉

**********

catatan tak kalah penting: akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri kalau kerbau berbeda dengan sapi :))