Slamat Natal, Immanuel!

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita. Lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat (Perencana) Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yesaya 9:5)

Peristiwa Natal, lahirnya Isa Almasih ke dalam dunia adalah suatu peristiwa yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia dan juga boleh dikatakan peristiwa di luar logika manusia. Namun, di sinilah Hikmat dan Kasih Allah dinyatakan. Bersyukurlah karena untuk memahami peristiwa inipun adalah suatu anugerah yang hanya dinyatakan bagi orang yang percaya.

Allah telah menjadi manusia, memperkenalkan diriNya, bahkan mengorbankan diriNya sehingga manusia boleh ditebus dan mengenal siapa Allah…
Slamat Natal..
Immanuel, Tuhan beserta kita 🙂

Advertisements

For God so loved the world

“Jingle bells rock!! Yeah”, demikian ujarku ketika melihat pohon natal sudah dipasang di toko Jehovah Jireh (God is Provider) kala membeli Santapan Harian edisi Nov-Des minggu lalu. Skarang sudah November dan gereja pun sudah mulai gencar persiapan ini itu dan latihan ini itu. Senang rasanya mengajak orang-orang untuk terlibat dalam pelayanan hari Natal, kecil ataupun besar peran orang tersebut. Senang rasanya nanti akan melihat persiapan acara. Senang rasanya mendengar lagu-lagu natal yang sudah mulai berkumandang. Dan terlebih senang rasanya mempersiapkan hati serta berbagi kasih buat orang-orang sekitar. Kasih. Karena untuk itulah Tuhan datang dan lahir ke dunia, untukmu dan untukku.. 😉

For God so loved the world that he gave his one and only Son, that whoever believes in him shall not perish but have eternal life.

Cerita dari Pertemuan Pertama

“Oh ini chestnut?”, ujarku  sedikit terperangah. Dengan spontan, pikiran ini seakan memutar lagu  natal  dari Eropa sana “Chestnut Roasting on an Open Fire”.  Benar adanya, chestnut yang siap disantap itu telah melalui api panggangan terlebih dahulu. Seorang rekan kerja membawanya sebagai oleh-oleh dari negeri seberang.  Bentuknya mirip dengan biji nangka yang di panggang, awalnya saya mengira itu biji nangka. Rasanya pun hampir menipu, manis  mirip dengan ubi jalar. Mungkin saya tidak dapat membedakan mana ubi jalar mana chestnut dengan mata tertutup.

Usai pertemuan pertama kami,  saya pun dilanda penasaran, hehe. Mengapa benda ini sebegitu terkenalnya, sampai seseorang dapat  meramunya menjadi lirik lagu.  Maksud saya, lagu, ya lagu yang berarti semua orang, di mana saja, dan kapan saja bisa mengumandangkannya. Hebat juga, ya.

Lalu, saya pun menelusuri kisah lagu ini dan sejarah chestnut itu sendiri (*sebenarnya ingin meringkas sendiri tetapi rasa raga tidak sanggup dan ingin istirahat secepatnya, hehe, jadi bisa dibaca di sini dan di sini ) Cerita pun berlanjut  saat  saya ingin mengetahui bahasa Indonesia chestnut, saya pun membuka kamus dan mendapati ungkapan. Isinya begini: “to pull s.o.s chestnuts out of the fire artinya bersusah-payah atau berkorban untuk membantu orang  lain melepaskan diri dari kesulitan.”

Seorang tokoh langsung tergambar di benak saya–tokoh yang kesederhanaanNya sangat saya kagumi. Yesus  melakukannya.  Dia datang ke dunia, berkorban untuk melepaskan Anda dan saya, supaya kita boleh beroleh selamat.  Wow,  benda ini ternyata berbicara banyak hal padaku hari ini. Sampai bertemu di pertemuan berikutnya, chestnut . Kamu manis, deh. Haha  😉

Chestnuts roasting on an open fire,
Jack Frost nipping on your nose,
Yuletide carols being sung by a choir,
And folks dressed up like Eskimos.

Everybody knows a turkey and some mistletoe,
Help to make the season bright.
Tiny tots with their eyes all aglow,
Will find it hard to sleep tonight.

They know that Santa’s on his way;
He’s loaded lots of toys and goodies on his sleigh.
And every mother’s child is going to spy,
To see if reindeer really know how to fly.

And so I’m offering this simple phrase,
To kids from one to ninety-two,
Although its been said many times, many ways,
A very Merry Christmas to you

Kombinasi  kekeluargaan dengan semangat tak henti agar gaung Natal tetap bergema, meski sudah dikatakan ulang dan berulang kali.

Although its been said many times, many ways,
A very Merry Christmas to you 🙂

dua lima tempo dulu hingga kini (2)

(lanjutan dari bagian satu-nya)

Natal tahun ini, dimulai dari perenungan akhir Nov lalu ketika menuliskan sesuatu untuk suatu keperluan ,  Bukan Kado Biasa, Seribu lilin untuk Indonesia dan Jangan biarkan Panggung itu kosong, juga kritik akan penyimpangan natal oleh teman saya, Efraim, terulas tuntas setajam silet :P, haha..saya rasa benar juga.

Dan akhirnya sampailah pada dua lima desember dua ribu sembilan.. Natal kali ini pun berbeda dengan natal sebelum2nya yang saya jalani (termasuk karena baru ngucapin natal lewat telfon di sore hari dan membalaskan sms natal 26 pagi).

Saya  bersama temen2,Yaya, Seli, Jury, Efraim, Renalto, Hans Raid, Sarmedi,dan bang Hendra, bersehati melangkahkan kaki ke Wyata Guna, merayakan  natal bersama saudara2 di sana. Ada Erasmus, Tomi, Yustin, Romauli,Elis, Yustin (*lagi), Ronald, Milia, Sofi, Yanti, Agus,Nensy,Maulin, dkk yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu, jumlah nya kira2 20-an orang, berasal dari berbagai suku2 bangsa.

Continue reading

dua lima tempo dulu hingga kini (1)

Dua empat dua lima adalah tanggal istimewa buat umat Nasrani di sluruh dunia. Sluruh dunia tahu kalau dua lima itu diperingati sbagai Hari Natal, di bulan desember tentu saja 😛 .

Sewaktuku kecil,masih jadi anak sekolah minggu, mulai dari TK sampai SD kalo ga salah ingat, natal tahun per tahunnya selalu membacakan  liturgi natal. Biasanya, di GKPI,grejaku di sana, kala natal ada pembacaan liturgi yang isinya kutipan2 ayat2 alkitab. Jadi pada satu giliran  liturgi akan maju dan berjejer sekitar 7-8 orang, dan mulailah mengucapkan ayat liturginya masing-masing dari yang paling pinggir hingga ke ujung pinggir yang satunya lagi. Sebelumnya, ayat liturgi itu diminta untuk dihapalkan, jadi ayat hapalan disesuaikan dengan usia sang liturgis. Satu hal yang membuat saya sedikit tertawa membayangkan saat2 liturgi : posisi tangan yang disejajarkarkan dengan perut dan keduanya saling menggenggam, satunya di atas dan yang lain di bawahnya (*hahaha, saya sh membayangkannya lucu 😛 , kenapa harus begituan ya?? br mikirnya setelah beranjak dewasa.. haha)..
Ada juga liturgi dari berbagai bahasa (Yoh 3:16), ada mandarin, jepang, inggris, jerman, dll, dan batak tentu saja B-) . Wow, dulu sih saya mikirnya ini cuman keren-keren-an doang. Lagipula kan gak ada orang yang berbangsa-kan itu yang sedang hadir di ibadah natal. Skarang, saya menyadari kalau Yesus lahir untuk semua bangsa, bukan cuman orang Indonesia saja 😉
Continue reading

seribu lilin untuk Indonesia

lilin,
kecil atau besar,
tinggi atau pendek,
kurus atau gemuk,
dengan sepenuh hati menari indah dengan tiupan angin ,
melambai usir pada sang gelap,
memancar kehangatan dari tubuh mungil.

sungguh berbahagia yang gelapnya kau usir,
oleh tarian dan hangatmu,
meski dirimu harus berkorban,
namun tiap orang kan mengenang terangmu.

satu lilin takkan cukup menerangi gelapnya bangsaku,
dikau dan dikau,
kuharap, di saatku berdiri menjadi lilin,
engkaulah yang berdiri di sampingku teman-teman,
sebagai lilin juga tentu saja, haha..

seribu lilin untuk indonesia-ku..

-melz-
28 Nov’09 23.59

Jangan biarkan Panggung itu kosong

Panggung berdiri megah,
berdekorkan kepulauan nusantara,
berjubahkan merah putih,
berhiaskan pohon terang, bintang, dan pernak-pernik Natal,
bertuliskan “ekspresikan aksimu, nyatakan kasihmu”

detik, berganti menit, berganti jam bahkan hari dan minggu,
panggung itu kosong..
apakah Natal tidak begitu disambut dengan sukacita ?
heran, sembari ingin masuk ke panggung,
namun diri ini tak berani sendiri,
sampai akhirnya kudapatkan penggalan tulisan di panggung,
“namun lepaskan topeng di wajahmu!”

jangan biarkan panggung itu kosong,
tanggalkan topeng-topeng yang memberatkan wajah,
topeng keegoisan, topeng kecuekan, topeng kemunafikan, dan topeng jenis lainnya.
kenakanlah perangkat kasih tulus, murni, sederhana,
sesederhana bayi Yesus yang lahir di kandang domba,
berbaringkan palungan dengan kain lampin,
Dia yang juga pernah mengisi panggung itu.

Jangan biarkan panggung itu kosong,
Panggung Indonesiaku!

-melz-
28 Nov’09 23.30