When i turned 25

Hello friends, you ever ask when we’re gonna be when we turn 25? (Friends Forever’s lyric)

I’d been here in Karawaci when i turned 25.

Sungguh mengucap syukur, sehari lalu, saya memperingati tahun ‘perak’. Tahun ini cukup menjadi momentum ‘check point‘ atas hidup saya secara pribadi. Sehari sebelumnya, 8 Mar saya mengikuti PAK Tangerang yang berbicara mengenai Life Planning. Rasanya tema yang dibawakan oleh Bang Ruli ini cukup mengena karena keesokannya saya akan ulangtahun, hehe. Beliau menekankan perlunya kita (selagi muda) merencanakan hidup kita. Jangan biarkan mengalir begitu saja. Kita akan tersesat. Tahu-tahu sudah umur sekian sekian dan menyesalkan mengapa tidak berbuat ini itu. Penyesalan pun kerap datang terlambat.

Menyikapi demikian kita perlu merencanakan hidup kita. Bukan berarti kita yang sepenuhnya menjadi pemegang kendali. Gumulkan dan bawa dalam doa segala rencana kita, apakah itu berkenan kpd Nya atau hanya hasrat diri pribadi. Adalah kasih karunia bila dalam menjalani hidup kita tetap dituntun olehNya. Ada 3 catatan penting yang perlu perencanaan dan evaluasi secara berkala: “keluarga”, “pekerjaan” dan “pelayanan”. Ketiga ini adalah panggilanNya bagi kita (terkecuali ada panggilan khusus tidak berkeluarga untuk yang hidup membujang).

Here I am. When I turned 25,  I’d been here in Karawaci phisically with my beloved boyfriend, beloved ‘Sauu’, and not phisically with family and  friends . Thanks to all of you, guys, my life journey-mate. I love you all ❤

This slideshow requires JavaScript.

 

Note:

image life is a jorney not destination are taken from here

Advertisements

Terbiasa

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Charles C. Noble kepada dunia: “First we make our habits, then our habits make us.” Dulu saya tidak biasa memasak bekal makan siang sebelum pergi ke kantor, setelah dibiasakan malah aneh rasanya bila tidak memasak, hehe. Plus-nya saya bebas mengekspresikan diri mengenai masakan dan porsi makan siang saya 😀

Dulu (tarik mundur dari dua bulan lalu) saya tidak terlalu perhitungan mengenai keuangan, namun karena satu peristiwa yang tidak bisa saya ceritakan di sini, skarang rasanya sudah seperti emak-emak yang sangat memperhatikan keuangan saat berbelanja 😛 dan karena peristiwa itu pula saya sangat bersyukur atas segala sesuatunya. Belajar hal yang sangat berharga. Hanya bisa berkata, trimakasih Tuhan diberi kesempatan merasakan dan melalui itu semua 😀

Dulu ini skarang begini, dulu ini skarang begini. Macam-macam! 😀

Dan timbul pertanyaan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat suatu kebiasaan? Macam-macam, haha. Saya butuh waktu dua minggu untuk terbiasa memasak, butuh dua bulan untuk jadi emak-emak dalam hal mengurusi keuangan :P, butuh waktu dan peristiwa x dan y untuk membuat lutut saya kemudian terbiasa bertelut berdoa untuk keluarga, orang-orang dekat bahkan yang tidak saya kenal, butuh pengorbanan tidak melakukan ini itu di malam hari supaya saya terbiasa menyelesaikan buku-buku. Butuh niat dan waktu-yang-tersedia agar terbiasa memperhatikan keluarga, teman, rekan, orang-orang skitar.

Yang masih menjadi calon kebiasaan saya, sepertinya butuh perjuangan untuk membuatnya menjadi kebiasaan adalah olahraga pagi/mingguan. Jalan pagi atau renang rutin. Terlalu banyak hal memang yang bisa dijadikan alasan, weks 😐 Tapi sebenarnya kalau menganggap sesuatu itu penting untuk menjadikan bagian dari hidup kita, sebenarnya tiada alasan ataupun excuse, kan ya? 😀

First we make our habits, then our habits make us. What yours?

*tambahan: berlaku pula untuk kebiasaan yang negatif*