Hujan Bulan Juni

Tak terasa sudah memasuki tengah tahun 2011. Slamat datang juni. Akan menjadi bulan yang penuh pembelajaran 🙂

Jadi ingat puisi ini 😛

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Advertisements

Ah, Hanya Sudut

anak kecil,
di sudut kota,
terpinggir,
ah,hanya sudut.

anak kecil,
berbaju debu,
bertopi terik,
memancar lesu,
ah, hanya sudut.

tiada baca tulis main,
kepadamu adik kecil,
kenal hurufkah kamu,
ataukah hanya kenal angka receh?

ingin ku bertanya,
benda apa yang ada di benakmu,
adik kecil?

yang kutahu,
hanya benda di tanganmu,
yang kudengar,
hanya senandung lemahmu.

anak kecil,
anak jalanan,
hanya sudut.

sudut,
takkan jadi inti lingkaran,
bila dianggap hanya sudut,
dari ruwet simpul benang bangsa.

Melz
21 Juni 2010

*keprihatinan akan keberadaan anak jalanan yang semakin banyak*

ISA

ISA
Kepada nasrani sejati

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh

patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Chairil Anwar

November 1943

Tubuh mengucur darah, rubuh, patah, dan mungkin sampai tak berbentuk lagi. Sedemikian banyaknya darah yang terkucur sampai-sampai Chairil Anwar menggambarkan ia dapat berkaca dalam darah. Namun, dalam ‘berkaca’ itulah ditemukan adanya terang, terang oleh darah yang terkucur. Luka pun terkatup. Anda dan saya boleh bersuka 😉 Dosa-dosa telah ditebus oleh darah Isa di kayu salib. Terang keselamatan sesungguhnya ada bagi yang percaya.

Puisi ‘Isa’ ini sangat mendalam maknanya, saya kagum akan penggambaran Chairil Anwar , terlebih beliau bukan dari latar belakang Nasrani. Kabarnya puisi ini ditujukan kepada temannya (W.J.S. Poerwadarminta ) yang dianggapnya sebagai Nasrani sejati. Mungkin pergaulannya dengan WJS P jugalah yang memperkuat penggambarannya akan puisi ini. Wow, ada ga ya orang lain melihat kita sedemikian sehingga tercipta puisi yang kayak gini? Hehe 😀

Met merenungkan pengorbanan Isa di kayu salib (Jumat Agung) dan met menjelang KebangkitanNya (Paskah)..

kata yang jarang beranjak dari kamus 😛

* segara = lautan

Merangkai Kata

Merangkai Kata

kucoba merangkai kata pada angin,
agar angin memahatkannya pada langit,
dan langit mencerminkannya pada laut,
kemudian laut menyampaikannya pada ombak,
dan ombak mengantarkannya ke tepian pantai,
sampai pantai menyentuhkannya pada kakiku,
yang berjalan menatap jejak,
dan angin kembali berbisik padaku,
aku hanya bisa tersenyum,
atas kata yang terangkai.

-melz-
18 Des’09

Merangkai kata, satu dari tiga puisi yang harus saya kumpulkan demi memenuhi uas apresiasi sastra yang kuambil di smester yang hampir berakhir ini. Sebenarnya saya ingin melukis pantai lewat rangkaian kata. Namun selain, waktu yang sangat mendesak untuk dikumpulkan (sementara masih ada satu cerpen yang blum saya tuliskan), juga karena tahun ini  saya gagal jalan-jalan ke pantai , akhirnya tulisan itu pun terpaksa di tunda dulu..hehe.

Puisi ‘Aku bermimpi’ oleh Margaret Fishback Powers , yang kemudian disebarluaskan sebagai ‘Jejak-jejak kaki’, adalah salah satu pemicu terbesar saya untuk jalan-jalan ke pantai.

Bagi yang belum pernah baca, ini versi Indonesia-nya :

Suatu malam aku bermimpi
berjalan-jalan di sepanjang pantai bersama Tuhanku.
Melintas di langit gelap babak-babak hidupku.
Pada setiap babak, aku melihat dua pasang jejak kaki,
yang sepasang milikku dan yang lain milik Tuhanku.
Ketika babak terakhir terlintas di hadapanku,
aku menengok jejak-jejak kaki di atas pasir,
dan betapa terkejutnya diriku.
Kulihat bahwa acapkali di sepanjang hidupku,
hanya ada sepasang jejak kaki.
Aku sadar bahwa ini terjadi justru saat hidupku
berada dalam keadaan yang paling menyedihkan.
Hal ini selalu mengangguku,
dan aku pun bertanya kepada Tuhan tentang dilema ini.
“Tuhan, ketika aku mengambil keputusan untuk mengikuti-Mu,
Engkau berjanji akan selalu berjalan dan bercakap-cakap  denganku
di sepanjang jalan hidupku.
Namun ternyata dalam masa yang paling sulit dalam hidupku,
hanya ada sepasang jejak kaki.
Aku benar-benar tidak mengerti
mengapa ketika aku sangat memerlukan-Mu Engkau meninggalkan aku.”
Ia menjawab dengan lembut, “Anak-Ku, Aku sangat mengasihi-mu
dan sekali-kali Aku tidak akan pernah membiarkanmu,
terutama sekali ketika pencobaan dan ujian datang.
Bila engkau melihat hanya ada sepasang jejak kaki,
itu karena engkau berada dalam gendongan-Ku”

-Margaret Fishback Powers-

versi Inggrisnya bisa dibaca di blog temen saya, irwan, di sini.

Jadi, bukan sembarang jalan-jalan aja sh, saya ingin menuliskan jejak-jejak kaki kecil versi mel, moga tahun depan kerealisasi, haha 😛

– tulisan ini hanya pengantar sebelum memasuki catatan akhir tahun saya sembari mulai menapaki lagi jejak langkah kaki yang telah menghantarkan saya sampai sejauh sekarang ini –

*bersambung…

Salam titik.

telah terlewati batas ambang,
kan suatu masa yang hampir lelah,
tapi dapatkah dikatakan lelah jika hanya berjuang setengah atau bahkan secuil?
yang tersisa hanyalah segenggam remang pada ruang hati.

titik,
kutemukan pada kata-kata terangkai,
yang bersudah atas kalimat.

kalimat pun butuh titik agar dia dapat melanjutkan cerita,
yang kutak tahu apakah kalimat itu kan menyambung,
atau malah membentuk cerita baru,
atau yang ada hanyalah spasi kosong,
seperti segenggam remang pada ruang hati.

teriring salam titik.

seribu lilin untuk Indonesia

lilin,
kecil atau besar,
tinggi atau pendek,
kurus atau gemuk,
dengan sepenuh hati menari indah dengan tiupan angin ,
melambai usir pada sang gelap,
memancar kehangatan dari tubuh mungil.

sungguh berbahagia yang gelapnya kau usir,
oleh tarian dan hangatmu,
meski dirimu harus berkorban,
namun tiap orang kan mengenang terangmu.

satu lilin takkan cukup menerangi gelapnya bangsaku,
dikau dan dikau,
kuharap, di saatku berdiri menjadi lilin,
engkaulah yang berdiri di sampingku teman-teman,
sebagai lilin juga tentu saja, haha..

seribu lilin untuk indonesia-ku..

-melz-
28 Nov’09 23.59

Jangan biarkan Panggung itu kosong

Panggung berdiri megah,
berdekorkan kepulauan nusantara,
berjubahkan merah putih,
berhiaskan pohon terang, bintang, dan pernak-pernik Natal,
bertuliskan “ekspresikan aksimu, nyatakan kasihmu”

detik, berganti menit, berganti jam bahkan hari dan minggu,
panggung itu kosong..
apakah Natal tidak begitu disambut dengan sukacita ?
heran, sembari ingin masuk ke panggung,
namun diri ini tak berani sendiri,
sampai akhirnya kudapatkan penggalan tulisan di panggung,
“namun lepaskan topeng di wajahmu!”

jangan biarkan panggung itu kosong,
tanggalkan topeng-topeng yang memberatkan wajah,
topeng keegoisan, topeng kecuekan, topeng kemunafikan, dan topeng jenis lainnya.
kenakanlah perangkat kasih tulus, murni, sederhana,
sesederhana bayi Yesus yang lahir di kandang domba,
berbaringkan palungan dengan kain lampin,
Dia yang juga pernah mengisi panggung itu.

Jangan biarkan panggung itu kosong,
Panggung Indonesiaku!

-melz-
28 Nov’09 23.30