Sebuah Percakapan Udara

Sebuah percapakan lewat jaringan udara antara mama (yang mendedikasikan diri menjadi ibu rumah tangga) dengan anaknya perempuan (hidup dalam generasi internet).

(*percakapan pembukaan, cerita ini itu…) lalu kemudian

Melz  : Mama, lagi ngapain?
Mom : Tadi barusan internetan..
Melz  : Hah? di mana? Laptop?
Mom : Gak. Di hape…
Melz  : Kenapa gak di laptop aja, Ma. Nh aku ada modem yang nganggur [*sembari mikir, letakin di mana ya si modem, udah lama gak keliatan (doh)].
Mom : Gak ngerti, mama, di hape aja mudah, dan murah cuman ***/$%^
Melz  : Trus internetannya ngapain aja, Ma? (*sambil berharap-harap cemas apakah si mama sudah mulai masuk ke dunia jejaring sosial 😛 )
Mom : Nh barusan googling, ternyata salak itu bagus untuk mata loh. Malah lebih bagus dari wortel.
Melz  : Hah? masa sh? (*dalam hati: emak ghue banget ini 😛 wkwkwkwkwkwkwk) Siapa yang ngajarin mama googling?
Mom : Si bos (bos=panggilan adek saia)
Melz  : Owh..

(*dan percakapan berlanjut soal ini dan itu lagi)


Moral percakapan di atas adalah emak ghue emang ibu rumah tangga banget dan sangat peduli terhadap kesehatan.  Love you, mom :-*

Sudah dulu,ah. Lemburan menanti \m/

Advertisements

Kehidupan Iman

Pengen pulang melihat rajawali. Tiap kali nelpon rasanya selalu nano-nano. Rame. Tiap kali itu pula, lutut ini smakin bertekad untuk terus bertelut, dan akan terus. Tadi pagi kala menyantap Santapan Harian, saya menemukan bahwa benar adanya kehidupan iman kadang sangat mengherankan: seorang percaya bisa saja mempunyai iman yang teguh di satu saat, tetapi kemudian ia diliputi keraguan di saat lain (Kisah Ishak). Sebab itu kenali kelemahan diri kita dan minta Allah menguatkan kita. Dan jika ketidakpercayaan mencoba menguasai hati kita, mintalah pertolongan Allah supaya iman kita diteguhkan dan pengharapan kita tidak bergeser.

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; Mereka berlari dan tidak menjadi lesu, Mereka berjalan dan tidak menjadi lelah…

I’m waiting on You Lord, and I am hopeful

Untuk ini dalam Dua Lima

Mengutip ucapan Ted Mosby dalam serial komedi How I Met Your Mother  “dalam kisah perjalanan percintaan ada dua hari yang tak akan terlupakan, hari ketika kamu bertemu dengannya dan hari ketika kamu menikah dengannya”, untuk ini aku sepakat.  Ah, aku belum menanyakan bagaimana persisnya mereka berdua bertemu. Cerita yang masih melekat olehku adalah mereka berdua pernah berada kelas SMA yang sama dan bapak sering mengganggu mama, haha, seperti cerita klasik untuk masa depan banget yak 😛

Mengingat ini membuatku ingin mendengar cerita tentang hari ketika mereka bertemu dan hari ketika mereka menikah. Hari ketika bertemu? Entahlah apa mereka masih ingat gak ya kalau ditanyakan. Hari ketika menikah? Tepat hari ini 25 tahun silam 😀

Bagiku, 25 kali ini menjadi angka yang menarik  selain dari gelar perak yang tersandang. Aku menyadari  keberadaan keluarga kami, dari dua menjadi lima. Ada kakak dan adik yang Tuhan anugrahkan untuk menemani perjalanan kami. Aku bersyukur kepada Tuhan tiap kali mengingat kisah perjalanan itu sampai sejauh ini. Jalan itu tak selalu mulus, kawan. Terkadang Ia membiarkan kami merasakan ada guncangan kecil bahkan guncangan hebat untuk melihat apakah kami tetap berpegangan tangan dan hanya berharap padaNya dalam melalui itu semua. Untuk ini aku katakan dua hal: pertama tak terselami pekerjaan Tuhan, kedua pengharapan itu tidak sia-sia 😀  Puji syukur hanya bagi Tuhan.

Huaaa, ingin balik ke masa-masa kala masih serumah–makan bersama, nonton bersama, jalan-jalan bersama, merayakan ini itu bersama dan bahkan menderita bersama 😉 Menjelang hidup dewasa dan menjalani hidup mandiri, kesempatan berada di rumah menjadi kesempatan langka dan berharga. Saat pulang tahun bar u kemarin setelah dua setengah tahun gak pulang karena satu dan banyak hal menyangkut perkuliahan dan kesibukan ini itu, aku bisa merasakan bagaimana pelukan hangat mama yang mendekapku kala bertemu, bagaimana rumah ramai kembali kala anaknya bertiga ada di rumah, dan merasakan pancaran mata mereka yang mengatakan terlalu cepat untuk harus melepas kembali anaknya ke perantauan.

Ah, rumah pasti terasa sepi tanpa ada kami anak-anaknya di sana.  Anak bisa merantau dan membentuk keluarganya sendiri bila saatnya tiba, dan kala si anak menjadi orangtua, iapun melepas anaknya merantau dan membentuk kehidupan sendiri. Namun satu hal, yang namanya pasangan atau teman hidup akan yang senantiasa berada di samping kamu dan menjalani tua bersama. Untuk ini aku sepakat mengapa disebutkan teman hidup.

Entah dia yang sekarang sedang  bersama, entah dia yang belum bertemu denganku, entah pun dia yang aku kenal namun belum aku sadari, untuk ini aku memang tidak boleh main-main lagi, haha 😀 Satu hal yang aku rindukan bila saatnya nanti dalam kasih karunia Tuhan boleh mengatakan: aku telah mengakhiri pertandiangan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Versi inggrisnya dan tambahan dariku: “i fought the good fight  (together with him),  we finished the race and  we kept the faith”. Yak, seseorang yang bersamanya menjalani hidup bersama dan kami tetap setia memelihara iman. Eh,memutuskan teman hidup termasuk langkah iman juga kan ya?  Untuk ini aku memutuskan, lalalalalala 😀

Met ulangtahun pernikahan perak, Ma,Pa. Kalian orang hebat dan menjadi model keluarga yang baik bagiku. Bila Tuhan mengizinkan, aku ingin melihat kalian dalam ulangtahun pernikahan emas dan tentu saja aku akan datang  menghadirinya bersama dengan cucu kalian, hehe. Untuk ini, aku tetap berharap 🙂

Karawaci, 15022011

Salam super kangen Rajawali 😀

*rajawali=sebutan akrab dariku untuk rumah (dan segala isinya)

Biarkanku Bercerita tentang Rajawali

Rajawali sudah banyak berubah dari dua setengah tahun dulu kami berpisah. Warnanya dan pula bangunannya banyak yang direnovasi. Halaman belakangnya pun sudah punya tongkrongan asik skarang–kursi meja seperti pondokan terbuka, konsep menyatu dengan alam. Aku suka.  Menyayangkan tak  sempat merasakan betapa nikmatnya kalau kami sekeluarga menikmati senja sambil mengobrol tentang ini itu cinta dan masa depan dengannya  Ah, tak mengapa dua setengah hari (meski gak penuh  atau malah beberapa jam saja karena aku sekeluarga melakukan perjalanan ke sana sini) aku cukup puas  berada dekatnya . Bersyukur untuk segala sesuatunya 🙂

Tak hanya dia, aku pun berubah. Dulu diri ini masih manja, skarang apa lagi, makin manja, hehe. Diriku  skarang sedang belajar mandiri untuk segala sesuatunya.  Pandanganku telah banyak berubah. Pandangan tentang hidup, panggilan, kerja, kasih, cinta, keluarga, persahabatan dan bangsa ini juga. Itu saja dulu tentangku, mari  lanjut bercerita.

Empat tahun kalender berganti dan kami tak melalui momen  pergantian tahun bersama. Tapi kemaren itu adalah momen yang berharga bagiku. Bersyukur bertemu dengan keluarga besar yang sudah lama tak berjumpa. Dua tulang, dua nantulang, dua uda, dua tante, sepupu-sepupu yang kebanyakan masih adek-adek sekolahan dan balita. Rada kaget ketika dulu hanya mendengar nama bayi adek sepupu dan skarang udah gede dan udah tahu minta duit (haha). Keluarga besar ini punya arti bagiku.  Seperti kata Lilo dalam Lilo & Sticth :

Ohana artinya keluarga. Keluarga berarti tidak ada yang ditinggalkan atau dilupakan.

Suatu keajaiban dari Tuhan dan bukan kebetulan bagiku dapat bertemu mereka, mengingat beberapa bulan yang lalu mendengar cerita ketika tulang kecelakaan, tante terserang sakit pada  ginjal dan tulang yang satunya juga terkena suatu masalah. Tuhan itu sungguh baik, dan engkau wahai rajawali telah menjadi saksinya, bukan? 🙂 Biarlah segala harapan mereka didengar oleh Tuhan, dan harapanku mereka makin dekat dengan Tuhan. Sama seperti kutipan Firman yang pula menyertakan namanya di dalamnya:

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru:Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;Mereka berlari dan tidak menjadi lesu,Mereka berjalan dan tidak menjadi lelah

Mungkin cerita kami sampai di sini dulu. Kutitip mama bapak dan adekku dalam naungannya. Sabar saja, kepadanya ku kan kembali 🙂 Dan seperti bisikanku padanya, ku awali tahun baru ini dengan permintaan tulus  penuh harapan kepada Tuhan, agar aku tetap setia menggantungkan harapan hanya pada Tuhan.

Selamat tahun baru, selamat melangkah bersama Tuhan!

Those who hope in the Lord will renew their strength,They will soar on wings like eagles;They will run and not grow weary,They will walk and not be faint.

*rajawali 126  adalah alamat rumah saya, hehe :D*

Memetik Cerita dari Insomnia

Sebuah petikan cerita dari mel yang dilanda insomnia di suatu hari 😀

Rasa kantuk menjadi anugerah ketika insomnia melanda. Sudah mencoba memejamkan mata tetap saja tidak bisa tidur, mungkin karena kelamaan tidur di sore hari (doh).  Lalu tanpa sengaja saya teringat akan masa kecil saya–sewaktu masih muda dulu 😛

Di rumah, kami punya ruangan tempat berkumpul. Biasanya kala malam hari tiba, semua berkumpul untuk menonton acara televisi.  Apabila sudah mengantuk biasanya orangtua saya akan menyuruh langsung tidur ke kamar. Namun, tak jarang pula, kami anak-anaknya malah tertidur  sebelum disuruh ke kamar 😀 .  Pagi harinya sewaktu bangun, kami udah berada di kamar  tidur. Kami pun tahu kalau bapaklah  atau mungkin terkadang mama yang menggendong kami ke tempat  tidur. Sebelum ini saya tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali.

Saya pun teringat akan penggalan  kata pengantar John Stott  pada buku ‘Hudson Taylor, Lesson in Dicipleship’:

Faith is the trust of a child. God is not only the Faithful One, but our Father too through Jesus Christ. He invites us to call him ‘Father’ and to share our concerns and needs with him as children do with their parents. I cannot do better here than quote Hudson Taylor himself: ‘I am taking my children with me, and I notice that it is not difficult for me to remember that the little ones need breakfast in the morning, dinner at midday, and something before they go to bed in night. Indeed, I could not forget it. And I find it impossible to suppose that our Heavenly Father is less tender or mindful than I’. Again, ‘I do not believe that our Heavenly Father will  ever forget his children. God is very very good Father. It is not his habbit to forget his children.’

Wow 😀
Dini hari ini saya diingatkan akan kasih sayang bapak  dan juga iman kepada Bapa–iman seperti anak kecil yang percaya sepenuhnya.
—–
*Terkenang akan masa kecil membuat saya ingin merasakan lagi masa-masa di mana masih blum merasakan kepelikan hidup dan blum banyak memikirkan tentang cinta dan masa depan, haha 😛