Challenges Accepted

For you fan of How I Met Your Mother serial, this blog title isn’t something new. Yes, this statement is usually declared by Barney Stinson when he felt something challenging. This inspiring me to make my own challenging things and accept that challenge.

Ok here is my challenge:

  1. Arrange trip
  2. Try at least 3 new cooking recipes
  3. Submit articles or opinions to local newspaper
  4. Do a Campaign about ‘sthg’ (currently thinking about the theme).

Aaandd here wo goooo… Challenges Accepted!

Nostalgia Seragam Putih – Merah

Belakangan ini teman-teman se-SD saya baru pada nongol di facebook karena seorang teman yang nge-tag nama-nama kami. Nostalgia yang cukup menyenangkan.

Saya teringat karakter masing-masing anak (ada yang bandel minta ampun, ada yang ingusan, ada yang pendiam, ada yang bawel, macem-macem!)

Saya teringat juga bagaimana 6 tahun kami lalui bersama dalam satu kelas yang tercap kelas paling nakal, paling ribut, dan kesannya gak suka belajar. Tiap hari pasti ada guru yang ngomel. Sering ada yang di-setrap, dipanggil guru BP (Bimbingan & Penyuluhan).

Every child is unique, isn’t it! I’m pretty grateful have friends like them. We learnt and played together, by not looking the colour of our skin nor the dialect we speak. Pure friendship!  Yes we ‘re fighting each other, but a minute or hour or day after we talked each other again. Seems like we didn’t have a fight before. Our friendship is more important from ego or pride.  What an adult should learn from children… #selftalk

Miss you, guys.
Wow.. It’s already been 14 – 20 years..

Yang Terlupakan, Yang Terabaikan!

Kami lupa bahwa kami hidup di negara tropis, di mana musim penghujan termasuk di dalamnya.
Kami lupa bahwa hujan sepanjang hari itu mungkin, sama mungkin nya dengan terik sepanjang hari.
Kami abai dengan menyepelekan kekuatan dari sang hujan!

Kami lupa bahwa air adalah zat cair yang memiliki sifatnya sendiri,
Kami lupa bahwa dalam sifatnya, air itu akan selalu mengalir ke tempat lebih rendah, kalau tidak ia akan menggenangi areanya.
Kami abai dengan melupakan sifat air!

Kami lupa bahwa untuk membangun sesuatu dibutuhkan rencana matang, termasuk skenario paling buruk.
Kami lupa memperkirakan kapasitas parit yang kami bangun, ketiadaan sumur resapan di rumah kami.
Kami abai dengan membangun ini itu demi kepentingan masing-masing!

Kami lupa membuang sampah sembarangan akan berakhir di selokan.
Kami lupa mengajarkan anak-anak kami bagaimana membuang sampah pada tempatnya.
Kami abai dengan membiarkan saja masalah membuang sampah sembarangan ini terus terjadi!

Kami lupa bahwa masalah ini tidak bergantung kepada sosok satu dua orang.
Kami lupa bahwa kami adalah bagian yang tak terpisahkan di dalamnya, pun punya andil dan peran.
Kami abai dengan melemparkan kesalahan ini kepada sosok, alam bahkan Tuhan!

 

121213-121313

Mata mengantuk, namun pikiran masih enggan beristirahat. Selalu ada topik yang mengantri untuk dipikirkan. Kangen pacar, kerjaan yang lagi banyak2nya di akhir tahun dan persiapan perpindahan ke Dept.baru, berita duka, berita seputar negara ini yang cukup memprihatinkan, panggilan hidup, dll.

Belakangan ini saya diingatkan kembali bahwa hidup ini terlalu singkat untuk di-sia-siakan, namun cukup untuk itu mengejar dan melakukan hal yang dianggap penting (berharga), cukup untuk meninggalkan warisan (legacy) dalam tiap jejak langkah. Ya, cukup dalam waktu-Nya, sang pencipta kehidupan.

I am a flower quickly fading,
Here today and gone tomorrow.
A wave tossed in the ocean.
A vapor in the wind.

Still You hear me when I’m calling.
Lord, You catch me when I’m falling.
And You’ve told me who I am.
I am Yours, I am Yours, I am Yours.

Petualangan Ujian Diving

Ketakutan terbesar saya ketika naik kapal selain kapal terbalik atau tenggelam  adalah mabok laut! Yup, untuk urusan yang satu ini memang agak merepotkan hobi saya yang suka berpetualang mengaruhi lautan luas (halah!). Ceritanya di minggu lalu, saya mengikuti ujian nyelam (diving) di sekitaran Anyer (nyebarang pulau skitar 1 jam-an). Kala itu cuaca memang sedang tidak bersahabat. Musim hujan.

IMG_5476

Penyelaman pertama ini menegangkan karena saya sudah membayangkan untuk regulator-clearing melepas regulator (alat pernafasan di mulut) dan masker-clearing (masker kacamata + hidung). Bagian kedua ini sangat menakutkan jiwaraga saya. Menghadapi momen mencekam ini kakak saya pun tiba-tiba menciptakan kata bijak :p “Kalau harus dilalui, ngapain harus dilalui dengan panik!” Yup, kunci nya adalah jangan panik, sekalinya panik kita tidak akan bisa berpikir. Syukurlah penyelaman ini terlalui dengan baik 🙂  Usai penyelaman pertama kapal kami pun diguyur hujan deras plus ombak kencang yang membuat saya mabok laut & muntah2 😦 Penyelaman kedua pun saya terpaksa absen.

Esok nya, hari lebih cerah dan saya sudah antisipasi dengan antimo :p

Kapal, Instruktur dan Peralatan Diving

Kapal, Instruktur dan Peralatan Diving

 

Penyelaman ketiga berjalan lancar dan seruu! Saya ketemu dengan karang2, gerombolan ikan2 dan bintang laut. Hari ke-2 lebih dinikmati karena sudah tidak tegang menghadapi ujian. Kami pun kembali mengarungi lautan menuju suatu pulau, sekalian makan siang. Namun tiba-tiba ombak kencang pun melanda. Kapan seakan terguncang! Saya pun cepat2 tidur agar tidak muntah, sembari memanjatkan doa agar selamat sampai daratan. Beberapa menit ombak pun reda dan kami tiba di suatu pulau. Istirahat dan makan siang.

Usai istirahat kami melanjutkan perjalanan ke suatu spot penyelaman. Di penyelaman keempat ini bouyancy (keseimbangan) saya sedikit kacau dibanding sebelumnya. Mungkin karena kurang oke mengatur nafas. Memang agak sedikit gelisah, karena kekenyangan pengen bersendawa tapi agak takut melepas regulator 😀

Usai penyelaman ini, usai pula-lah rangkaian ujian diving. Kami kembali ke kapal dan siap untuk berlabuh kembali ke Anyer. Namun, lagi2 lautan tak bersahabat. Ombaknya begitu dahsyat hingga kami terpaksa mendarat ke pulau terdekat sampai menunggu ombak lebih ‘reda’. Menunggu ini pun diisi dengan kegiatan masing2, ada yang memancing, berburu foto, duduk santai, dll.

IMG_5511

Ajeng & Ka Renny

 

IMG_5537

 

Mas Yo & Ka Gadis (Instruktur PADI)

Mas Yo & Ka Gadis (Instruktur PADI)

Sekitar sejam kemudian, kami pun dipanggil ke kapal. Pulang ke Anyer. Ombak sudah lebih tenang tampaknya. Saya pun mengambil posisi tidur (biar ga mabok :p).

Tiba-tiba saya terbangun karena goncangan ombak yang hampir saja membalikkan kapal kami. “Pegangan yang kuat!”, kata Pak Nahkoda. Dag dig dug! Lama sekali rasanya kapal ini sampai ke daratan. Percayalah saya sangat cinta daratan kala itu. Saya pun teringat akan cerita Isa Almasih saat kapalnya diterpa angin kencang. Dengan Firman yang keluar dari mulutNya, angin pun reda seketika. MahaKuasa! Saya manusia hanya bisa berserah kepada kedaulatanNya, hidup dan mati memang manusia gak bisa menentukan.

Disempetin Ngambil Foto di Tengah Ombak Dahsyat

Disempetin Ngambil Foto di Tengah Ombak Dahsyat

Seisi Kapal

Seisi Kapal

 

Kapal Tetangga

Kapal Tetangga

Mengambil foto di kala ombak ini sedikit banyak membantu mengatasi ketakutan saya. Saya menjadi teringat dengan sebuah lagu “It is well with my soul”, yang memang dibuat oleh seseorang yang selamat melewati badai di laut, namun kehilangan keluarganya. Suatu keteguhan hati di kondisi tsb dia masih bisa berkata, “Tenanglah Jiwaku“. Sungguh suatu pertolongan yang Tuhan anugrahkan kepadanya.

Pertolongan lain yang saya rasakan adalah keberadaan cahaya (saya kira mercu suar karena mirip, belakang baru keliatan bahwasanya pabrik yang mengeluarkan api). Pertolongan ini hadir dalam bentuk PENGHARAPAN. Yup, pengharapan bahwasanya sebentar lagi kami akan sampai daratan, meskipun untuk mencapai daratan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kapal kami harus melalui perhitungan ombak ke sekian agar tidak terbalik. Prinsipnya ombak ke sekian akan lebih kecil dibanding gelombang yang awal2.

Kembali dengan PENGHARAPAN. Kata ini begitu indah dan kuat maknanya bila kita menyadarinya. Dengan ini saya sepakat dengan orang yang berkata, “Jangan pernah hilang harapan” 🙂

 

 

 

 

Super Anugerah

Akhir September hingga pertengahan Oktober ini adalah minggu yang super ‘anugerah’ untuk ngurusin ini itu banyak sekali. Kejar deadline project, mengajar (momennya ulangan), mengikuti lomba, menjalani kepanitiaan, komitmen pelayanan, dll permintaan yang tak terduga. Emosian terkadang, heboh iya, lelah dan pusing apa lagi. Mengeluh apalagi hanya melihat efek yang ditimbulkan sudah barang tentu tak semangat menjalaninya. Back to basic  untuk apa sih kerja, pelayanan, ikut ini itu? Hanya melelahkan diri saja!

Anugerah dan kesempatan berkarya. Adalah anugerah dan kesempatan saya dipercayakan mengerjakan suatu proyek hingga selesai. Adalah anugerah dan kesempatan saya dapat melayani di kepanitiaan. Adalah anugerah dan kesempatan saya mengambil komitmen di suatu pelayanan jangka panjang. Adalah anugerah dan kesempatan masih bisa hidup dan merasakan suka duka yang ada.

Skali lagi back to basic, kenapa anugerah? Karena justru saya lah yang mendapatkan pembelajaran, ilmu dan terutama karakter–yang trus dibentuk untuk suatu tujuan, yaitu serupa dengan Kristus (panggilan seorang Kristen).

Selamat menikmati anugerah. Saatnya tidur lelap! 🙂

 

PS: Tidur lelap itu anugerah mahal loooh. Paling gak enak gak bisa tidur nyenyak soalnya :p